Desa Wisata Laksana Ilusi, Benarkah?

336
Perwakilan Pokdarwis Desa Wisata Santan menerima hadiah juara pertama lomba Pokdarwis Kabupaten Bantul 2018, Selasa (06/02/2018), pada pertemuan Forum Pokdarwis di Bukit Becici Dlingo. (sari wijaya/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Desa wisata di Kabupaten Bantul dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) secara umum tumbuh pesat. Namun ternyata keberadaan desa wisata laksana ilusi, sehingga harus  dikelola dengan baik lagi agar tingkat kunjungan wisatawan meningkat. Bukan saja wisatawan dalam negeri namun juga wisatawan mancanegara.

“Desa wisata itu laksana ilusi. Kenapa? Karena selama ini yang datang dan menginap di desa wisata barulah wisatawan dalam negeri. Wisatawan luar negeri belum ada. Ini pekerjaan rumah kita semua, bagaimana agar desa wisata dilirik dan diminati oleh wisatawan mancanegara,” kata Destha Titi Raharja dari Puspar UGM pada sarasehan Forum Komunikasi (Forkom) Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) di Puncak Becici, Selasa (06/02/2018).

Baca Juga :  Gandung Tegaskan Tak Ingin Berkuasa Lagi

Kegiatan yang digelar oleh Dinas Pariwisata (Dinpar) Bantul tersebut juga dihadiri pembicara Kabid Kelembagaan Dinpar Bantul, Antoni Hutagalung, praktisi wisata Joko Untoro serta jajaran dinas tersebut.

Destha melanjutkan, langkah yang bisa dilakukan agar wisatawan bisa meningkat adalah melakukan pendataan pengunjung di desa wisata itu sendiri. Dengan demikian akan bisa dipetakan dari mana saja wisatawan yang berkunjung selama ini.

Kemudian, melakukan pembenahan apa saja yang perlu ditambah dan diperbaiki serta melakukan promosi ketika semua siap.

Berbasis komunitas

Tentu, untuk bisa mengembangkan desa wisata sesuai harapan harus melibatkan semua elemen masyarakat. Desa wisata merupakan  Community  Based Tourism (CBT) atau wisata yang berbasis komunitas atau masyarakat.

Baca Juga :  Ini Dia Cantik Ala Dian Sastro di Era Milenial

“Dengan keterlibatan masyarakat di dalamnya maka desa wisata mampu berkembang baik. Semua harus berperan. Misalnya  dengan pembekalan kepada masyarakat melalui pertemuan rutin dan pembinaan. Jangan sampai ada tamu, mereka justru kebingungan atau terjadi shock culture,” katanya.

Dengan adanya pelayanan yang bagus tentu akan berimbas juga bagi keberlangsungan dan eksistensi desa wisata yang bersangkutan.

Sementara itu Antoni mengatakan lomba Pokdarwis  bertujuan untuk meningkatkan kapasitas  Pokdarwis di Kabupaten Bantul. Melalui penilaian ketat dari dewan juri terdiri unsur  Dinpar, praktisi pariwisata dan akademisi, keluar sebagai juara pertama Pokdarwis Santan Guwosari Pajangan.

Juara kedua Pokdarwis Karangtengah Imogiri dan juara ketiga Pokdarwis Surocolo Seloharjo Pundong. (sol)