Desa Wisata Tlatar, Favorit di Kalangan Kampus

432
Staf Ahli Bupati Bidang Hukum dan Pemerintahan, Drs Mustain Aminun SH mewakili Bupati Sleman memukul gong sebagai tanda diresmikannya Desa Wisata Tlatar, Turi Sleman, pekan lalu.(istimewa)

KORANBERNAS.ID–Desa Wisata Tlatar di Kandangan Wonokerto, Turi, Sleman menjadi desa wisata dan destinasi favorit bagi kalangan akademik khususnya mahasiswa.

Menawarkan lokasi kemah, outbound, dan eduwisata salak, Desa Wisata Tlatar selama ini menjadi salah satu jujugan bagi mahasiswa yang ingin menggelar kegiatan outdoor.

“Di sini, kami mencoba untuk mengoptimalkan potensi yang dusun punya untuk digunakan agar bernilai ekonomis dan bermanfaat. Potensi alam terutama. Kami melihat bahwa potensi tersebut bisa dikonsep menjadi sebuah Dusun Wisata. Kami yang dibantu dari pihak mahasiswa akhirnya menginisiasi terbentuknya Dusun Wisata,” kata Ari selaku salah seorang pengelola.

Dusun Tlatar sendiri terletak di kaki Gunung Merapi. Dusun Tlatar juga terkenal dengan keindahan panorama Merapinya. Tak ayal, dengan letak geografis Dusun Tlatar yang memiliki jarak hanya sekitar 4–6 km dari puncak Merapi, Gunung Merapi terpampang indah dan megah dengan view yang cukup luas. Terutama saat pagi, menjelang terbitnya matahari.

Baca Juga :  Ratusan Pulau Tertancap di Laut, Begitu Molek

Selain panorama, Dusun Wisata Tlatar Kandangan memiliki kebun salak yang cukup luas. Kebun salak dijadikan sebagai sarana eduwisata salak kepada para pengunjung. Bahkan pengunjung diperbolehkan memetik salak langsung dari pohonnya untuk dibeli. Ingin menikmati buah salak olahan, wisatawan juga dapat membelinya langsung ke warga dusun yang sudah piawai membuat aneka olahan berbahan salak. Seperti misalnya brownies salak, kopi salak hingga sirup salak.

Di dusun ini, juga mengalir sungai dengan airnya yang sangat jernih dan sejuk menyegarkan. Sepanjang  aliran sungai ini menjadi area outbond yang digemari pengunjung. Dari sekretariat area outbond ini dapat ditempuh hanya 30 menit dengan berjalan kaki.

Jalur atau track menuju sungai, memang terbilang sulit. Namun sejauh perjalanan, pepohonan nan rimbun dan perkebunan salah tetap membuat rute tetap nyaman dilintasi.

“Untuk lokasi istirahat para pengunjung, kami menerapkan sistem live in. Pengunjung bisa tidur langsung di salah satu rumah warga. Cara ini justru akan memberikan pengalaman langsung kehidupan desa bagi wisatawan. Kalau mau kemah juga bisa, cukup dengan Rp 15.000  tiap orangnya. Begitu juga outbond,” lanjut Ari.

Baca Juga :  Sleman Ingin Anggrek Sedot Wisatawan

Potensi Dusun Wisata Tlatar, diakui oleh banyak kalangan. Saat peresmian desa wisata ini, akhir Juli 2017, Staf Ahli Bupati Sleman Bidang Hukum dan Pemerintahan, Drs Mustain Aminun SH mengaku terkesan dengan potensi yang ada.

Dalam acara yang dihadiri pula oleh Camat Turi, Siti Anggraeni Susila Prapti SH MM ini, Aminun berpesan agar pengelolaan Tlatar tidak latah. Tapi lebih kreatif dan inovatif dengan membangun jejaring yang kuat.

“Susunlah paket wisata yang menarik dengan menggandeng kawan-kawan biro perjalanan wisata. Saya juga berharap, generasi muda ikut aktif dalam mengelola desa wisata ini. Alih generasi menjadi hal yang penting, karena kita tidak bisa mengandalkan tokoh masyarakat terus menerus,” pintanya.(sm)