“Dhandanggula Lik Suling” Jadi Tembang Wajib

444

KORANBERNAS.ID — Dinas Kebudayaan (Disbud) Kabupaten Sleman menggelar lomba Macapat tingkat mahasiswa/mahasiswi tahun 2017. Acara itu berlangsung di Pendapa Rumah Dinas Bupati Sleman, Selasa (03/10/2017).

Kabid Peninggalan Budaya dan Nilai Tradisi Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman, Sumarjono, mengatakan kegiatan ini diikuti oleh 35 peserta dari berbagai perguruan tinggi di DIY dengan total hadiah Rp 16,50 juta.

Sekar Dhandanggula Lik Suling Laras Pelog Nem menjadi tembang wajib bagi peserta. Sedangkan tembang pilihan Sekar Sinom Ginonjing Laras Pelog Nem dan Sekar Pangkur Paripurna Laras Pelog Barang.

“Lomba macapat ini untuk meningkatkan kecintaan terhadap seni khusunya macapat. Selain itu sebagai sarana melestarikan macapat di lingkungan perguruan tinggi,” kata Sumarjono.

Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman, HY Aji Wulantara SH Mhum, menyampaikan mahasiswa merupakan generasi penerus bangsa yang akan meneruskan estafet kepemimpinan. Mereka perlu dibekali basik budaya yang kuat.

“Di dalam sekar macapat terdapat ajaran berupa pitutur yang luhur. Jika diimplementasikan pada kehidupan sehari-hari maka kita akan tumbuh menjadi pribadi berkarakter,” jelasnya.

Juara I lomba macapat mahasiswa se-Kabupaten Sleman, Luvita Arsanti Kusuma, menerima hadiah. (bid jalasutra/koranbernas.id)

Para pemenang lomba macapat tersebut mendapatkan trofi dan uang pembinaan. Juara I diraih Luvita Arsanti Kusuma yang berhak medapatkan uang pembinaan Rp 4 juta, juara II Titik Samiarsih mendapatkan uang pembinaan Rp 3,5 juta, juara III Shinta Dewi Intan mendapat uang pembinaan Rp 3 juta.

Juara harapan I Tio Cahya Sadewa meraih uang pembinaan Rp 2,5 juta, juara harapan II Faria Emanuella mendapat uang pembinaan Rp 2 juta, juara harapan III Salsabila Maura Handaru mendapat uang pembinaan Rp 1,5 juta.

Luvita, peraih juara I dalam lomba tersebut mengapresiasi terlaksananya lomba. Dia mengaku suka dan mulai berlatih macapat sejak kelas satu SMP, di Keraton Yogyakarta.

Kesukaannya pada macapat bukan tanpa alasan. Berangkat dari keprihatinannya pada generasi muda yang sudah jarang menekuni seni ini, dirinya kemudian tergerak mendalami macapat agar tetap eksis.

“Mendukung sekali ya diadakannya event semacam ini, karena salah satu upaya untuk melestarikan macapat terutama bagi generasi muda. Semoga ke depan acara-acara semacam ini terus diperbanyak sebagai ajang menyaring seniman seniwati baru di bidang macapat,” kata mahasiswi Institut Seni Indonesia ini. (sol)