Indonesia Ibarat Ladang Tempat Bertarung Segala Ideologi

135
Kepala UKP-PIP, Yudi Latif MA PhD, mengisi kuliah umum di Gedung Ibrahim Kampus Terpadu UMY, Kamis (15/03/2018). (yvesta putu sastrosoendjojo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID – Kepala Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila, Yudi Latif MA PhD, mengatakan Indonesia merupakan negara yang majemuk.

Konsekuensinya, kondisi ini membuka peluang masuknya berbagai ideologi. Maka tidak heran, Indonesia ibarat ladang, tempat bertarungnya segala ideologi.

“Di Indonesia segala ideologi bertarung,” ungkapnya, Kamis (15/03/2018) di Gedung Ibrahim Kampus Terpadu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Kehadiran Yudi Latif kali ini dalam rangka mengisi Kuliah Umum Islam dan Pancasila sebagai Inspirasi Maju Indonesia Kita.

Kegiatan itu terselenggara atas  kerja sama Program Studi Doktor Politik Islam-Ilmu Politik, Magister Ilmu Pemerintahan, Magister Ilmu Hubungan Internasional Pascasarjana, S1 Hubungan Internasional, Ahmad Syafii Maarif School of Political Thought and Humanity UMY dengan Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi (UKP-PIP) Republik Indonesia.

Selain memaparkan soal pertarungan ideologi, di hadapan Rektor UMY Gunawan Budiyanto beserta jajarannya serta para mahasiswa, Yudi Latif juga membeberkan peran para pendiri bangsa yang berasal dari latar belakang berbeda agama, suku maupun golongan.

Baca Juga :  PKL- Bupati Gagal Berdamai

Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) sebagai dua ormas Islam terbesar di Indonesia memiliki peran penting ikut terlibat dalam proses perumusan Pancasila sebagai dasar negara.

Dia kemudian menyebut sejumlah tokoh penting termasuk Presiden pertama RI, Soekarno, yang ternyata pernah menjadi guru sekolah Muhammadiyah sekaligus pengurus organisasi ini sewaktu berada di Bengkulu.

Ada pula tokoh sekaliber Ki Bagus Hadikusumo maupun sosok jarang terungkap ke publik selama ini seperti Ny Soenaryo, pimpinan Aisyiyah di masa-masa awal pembentukan Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Yudi Latif mengakui, suka tidak suka harus diakui elemen terpenting konsensus Pancasila berasal dari Muhammadiyah. Karena itulah, sejak awal Pancasila tidak bisa dipisahkan dengan ajaran Islam bahkan keduanya memiliki titik temu.

Baca Juga :  Jasa Perawatan Bangunan Makin Diminati

Sejak awal pula, umat Islam menunjukkan komitmennya mewujudkan NKRI. Meski mayoritas namun tidak ada keinginan untuk memaksakan Islam sebagai dasar negara.

Artinya, para pendiri bangsa menunjukkan sikap negarawan yang tinggi demi keutuhan bangsa ini tanpa mengedepankan ego masing-masing.

Dia mengakui, kemajemukan Indonesia mirip dengan kondisi Madinah di zaman Nabi Muhammad SAW. Karena itulah Pancasila bisa diterima oleh semua kalangan serta menjadi perekat bangsa yang majemuk.

Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia, yang digali dari bangsanya sendiri, tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Ini artinya antara Islam dan Pancasila tidak ada pertentangan.

Tegasnya, kata Yudi Latif, debat mengenai bentuk negara sudah final dan Pancasila merupakan dasar negara yang tidak bisa diganggu gugat atas dasar apapun. (sol)