Di tangan Anak-anak, Barang Bekas Jadi Karya

643
Anak-anak Kedungmiri Imogiri Bantul gembira berkaya membuat permainan dari barang bekas. (arie giyarto/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Peristiwa banjir bandang yang melanda Kedungmiri Kecamatan Imogiri Kabupaten Bantul bulan November 2017, mengetuk hati lima mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta.

Meski waktunya sudah agak lama, namun kelima mahasiswa itu merasa perlu berbuat sesuatu, terutama untuk anak-anak  agar tidak dihantui trauma. Mereka adalah Athiah, April, Rani, Nanda dan Fadly, yang melakukan upaya perbaikan psikologis anak.

Kepada koranbernas.id, Athiah Jumat (11/05/2018), menjelaskan kehadirannya di desa itu untuk membimbing anak mengembangkan kreativitas dengan cara mengelola barang-barang bekas menjadi sebuah karya.

Seorang bocah tampak serius mencoba membuat permainan dari barang bekas. (arie giyarto/koranbernas.id)

Selain itu, juga dalam rangka pengelolaan trauma, di antaranya melalui berbagai games yang edukatif maupun berpuisi, berpantun dan bernyanyi.

Baca Juga :  Ahli Tanaman Padi Dilantik Jadi Rektor Unsoed

Karya anak-anak itu akan dijadikan contoh karya anak desa yang akan dikembangkan sekaligus sebagai sebuah kampanye memperkenalkan Desa Kedungmiri ke masyarakat luas. Kegiatan ini berakhir 6 Mei silam.

Menggambarkan betapa dahsyatnya banjir akibat meluapnya sungai yang melintasi wilayah tersebut usai hujan turun tidak berhenti beberapa hari, Kepala Desa Sriharjo, Sugiyanto,  menjelaskan ada 54 rumah terlanda banjir.

Tercatat 71 kepala keluarga (KK) menjadi korban banjir setinggi lebih dua meter.  Mereka terpaksa mengungsi sekitar 15 hari ke rumah yang berada di lokasi yang lebih tinggi.

Mahasiswa UAD Yogyakarta membimbing  anak-anak  Kedungmiri. (arie giyarto/koranbernas.id)

Dia bersyukur tidak ada korban jiwa. Meskipun masyarakat cukup menderita karena akses jalan terputus dan penuh lumpur. Sebagian warganya kehilangan mata pencaharian.

Baca Juga :  ASN Harus Jaga Jarak dengan Parpol

Desa wisata itu menjadi lumpuh setelah jembatan gantung yang  dikenal dengan Jembatan Kuning pun hanyut dilanda banjir.

Selama ini masyarakat dan pemerintah desa terus berbenah dan kondisi sudah hampir pulih. Athiah dan teman-teman berharap apa yang mereka lakukan sedikit banyak bisa membantu usaha masyarakat untuk bangkit kembali. (sol)