Diakui Masih Ada Aturan BPJS Kesehatan yang Menghambat Penurunan AKI dan AKB

125
Suasana workshop percepatan penurunan AKI dan AKB di Kabupaten Sleman, Senin (06/08/2018).(istimewa)

KORANBERNAS.ID—Upaya menurunkan angka kematian ibu (AKI) melahirkan dan Angka kematian Bayi (AKB) masih menghadapi berbagai kendala. Selain factor manajerial, yaitu sinergi antar berbagai pemangku kepentingan, juga masih ada aturan-aturan dari BPJS Kesehatan yang dirasakan menghambat.

Disela-sela workshop percepatan penurunan AKI dan AKB, Senin (06/08/2018), Kepala Dinas Kesehatan Sleman, Joko Hastaryo mengatakan, terdapat sejumlah masukan yang bersifat manajerial.

“Sleman itu fasilitas kesehatannya tidak kekurangan. Rumah sakit saja ada 28. Dokter spesialis itu siap menangani persalinan seumpama dengan operasi yang paling canggih sekalipun.  Spesialis anak juga siap menangani bayi yang baru lahir untuk bertahan. Tapi masalahnya diantara itu ada peran manajerial,” papar Joko.

Joko juga mejelaskan, Pemkab Sleman memiliki manual rujukan. Hanya saja rujukan tersebut belum sampai kepada pembiayaan. Di era JKN seperti saat ini, BPJS yang menjadi operatornya. Namun menurut Joko, terdapat beberapa sisi yang terhambat dikarenakan aturan-aturan yang terdapat di BPJS.

Baca Juga :  Pasar Tradisional Mulai Ditinggalkan Warga

“Jangan sampai dengan adanya aturan-aturan yang masih menghambat tersebut, lalu meningkatkan angka kematian ibu melahirkan,” ujarnya tanpa merinci hambatan dimaksud.

Joko menyebut angka kematian ibu melahirkan di Sleman saat ini sudah menurun tapi masih fluktuatif. Jauh di bawah angka kematian ibu melahirkan secara nasional.

“Kita ini sudah berada diangka 32/100.000. Kalau  nasional masih di atas 100/100.000 kelahiran,” ungkap Joko.

Jumlah kematian ibu melahirkan di Kabupaten Sleman pada tahun 2016 mencapai 8 kasus dari 15.488 ibu hamil. Sedangkan pada tahun 2017 terdapat 6 kasus kematian ibu melahirkan dari jumlah 15.549 ibu hamil.

Sebagian besar kasus kematian ibu melahirkan saat ini, adalah diakibatkan riwayat penyakit jantung. Sedangkan kematian akibat pendarahan saat ini telah menurun signifikan.

Baca Juga :  Senam Haji Bermanfaat Jaga Kebugaran

Wakil Bupati Sleman, Sri Muslimatun yang hadir sekaligus menjadi narasumber menyampaikan perlu adanya kolaborasi antara klinis dan para ahli manajemen. Hal tersebut dinilai penting mengingat kendala dalam manajemen menjadi salah satu yang perlu diperhatikan untuk mengurangi AKI dan AKB.

“Kita susun strategi apakah nantinya akan memperbaiki manual rujukan dan membuat kebijakan-kebijakan. Semuanya ini dalam rangka menurunkan angka kematian (AKI dan AKB),” kata Sri Muslimatun.

Wabup juga menuturkan bahwa dalam penyusunan strategi tersebut juga membahas terkait manual rujukan yang pada sebelumnya hanya khusus membahas tentang penanganan, tempat penanganan, yang meliputi klinis  atau kesehatannya saja, kali ini dibahas juga dalam manual rujukan bagaimana penanganan maupun tempat penangan dan biaya bagi mereka yang tidak tercover Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). (SM)