Didi Kempot Terima Penghargaan dari Stipram

Warga Suriname Keturunan Jawa Ikut Hadir

90
Aksi panggung Didi Kempot usai menerima penghargaan dari Stipram Yogyakarta, Senin (17/09/2018). (yvesta putu sastrosoendjojo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID – Penyanyi terkenal Didi Kempot, Senin (17/09/2018), menerima penghargaan dari Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo (Stipram) Yogyakarta, bersamaan digelarnya Dies Natalie 17 tahun Stipram, 13 September 2001-13 September 2018.

Penghargaan tersebut diberikan langsung Ketua Stipram Suhendroyono SH MM M Par disaksikan Kapolda DIY  Brigjen Pol Drs H Ahmad Dofiri MSi, Forkopimda, Kopertis serta tamu undangan,

Bahkan sejumlah warga Suriname turut hadir pada acara yang berlangsung meriah di kampus setempat. Sebagian dari mereka berada di atas panggung dan bernyanyi bersama idolanya.

Hadir pula M Baiquni MA yang memaparkan mengenai intangible heritage. Tak ketinggalan, Kapolda DIY pun naik panggung dan bernyanyi bersama Didi Kempot melantunkan lagu Stasiun Balapan. Tidak hanya itu, ribuan mahasiswa Stipram juga nyanyi bareng saat lagu Jambu Alas mengalun.

Sebagian dari mereka bahkan berjoged. “Apal kabeh. Mahasiswa kene (Stipram) luar biasa,” puji Didi Kempot kepada mahasiswa Stipram.

Kepada wartawan di sela-sela acara, Suhendroyono mengatakan penghargaan diberikan kepada Didi Kempot ini karena dia berjasa mempopulerkan destinasi wisata melalui lagu-lagunya.

“Pemberian penghargaan seniman dan musisi bertalenta Didi Dempot dengan lagu-lagunya bertemakan destinasi wisata ini merupakan terobosan Stipram. Ini inovasi baru Stipram untuk meningkatkan pariwisata,” ungkap Suhendroyono.

Baca Juga :  Obyek Wisata dan Makanan Khas Sambut Peserta Mandiri Jogja Marathon

Dia melihat, pemerintah saat ini sepertinya dalam kondisi  bingung, seolah-olah sudah kehabisan cara untuk mendongkrak target kunjungan wisatawan. Ini karena pemerintah hanya mengandalkan destinasi yang ada dan cukup dipasarkan begitu saja.

Padahal, pariwisata sebagai bagian dari industri krearif butuh sentuhan kreativitas. Ternyata, kekayaan pariwisata Indonesia itu 80 persennya berupa intangible heritage.

Dari sinilah, Stipram Yogyakarta berupaya memberikan kontribusinya. “Misalnya seni budaya. Mahasiswa saya koordinir untuk menampilkan tari Pesona Indonesia,  bercerita tentang budaya Sunda, Bali, Minang, Aceh. Itu cuma sebagian, karena ada  3.011 etnis di Indonesia,” paparnya.

Suhendroyono mengatakan, pihaknya memilih Didi Kempot karena dia adalah seniman nasional yang paling terkenal dan dielu-elukan di luar negeri, terutama Belanda dan Suriname. Dijadwalkan, 21 September ini Didi Kempot bertolak ke Belanda kemudian ke Suriname.

Kapolda DIY bernyanyi bersama Didi Kempot di Kampus Stipram Yogyakarta. (yvesta putu sastrosoendjojo/koranbernas.id)

Pertimbangan utama, lagu-lagu Didi Kempot bercerita soal destinasi wisata dan obyek wisata seperti Malioboro. Selain itu, lagu-lagunya juga awet tidak seperti lagu pop yang cepat memudar. “Belum ada yang memberikan penghargaan kepada Didi Kempot. Pemerintah pun belum,” kata Suhendroyono.

Baca Juga :  Kaesang pun Jadi Makelar Makanan Rumahan Ibu-ibu

Menurut dia, pariwisata nasional tidak hanya Bali. Mestinya yang dikembangkan saat ini adalah intangible atau pariwisata yang tidak dapat disentuh itu.

“Apa yang ditiru dari Bali wong sekarang budaya Bali mau dikembalikan ke zaman dulu. Butuh waktu 100 tahun untuk penyesuaian,” jelasnya.

Ketua Stipram Suhendroyono. (yvesta putu sastrosoendjojo/koranbernas.id)

Dia menambahkan, intangible tidak sulit dikembangkan karena warisan pusaka itu sudah  melekat dan tidak hilang. Salah satu kekayaan intangible Indonesia yang paling sederhana adalah tersenyum. Senyum khas ini yang  tidak ada di negara lain.

Sebagai gambaran, negara China menganggarkan dana belasan triliun untuk melatih warganya supaya bisa tersenyum. “Kita sudah punya senyum,” ujarnya.

Sekali lagi Suhendroyono mengatakan, inilah cara Stipram Yogyakarta mengugah industri pariwisata Indonesia. “Kita lakukan dengan cara-cara sederhana, karena yang dijual sekarang hanya yang ketok-ketok saja. We do the impossible because anyone can do the possible,” tandasnya. (sol)