Dikelilingi 23 Pantai Serasa di Bali

Catatan Ringan dari Phuket Island (1)

243
Wisatawan snorkling di pantai Phuket Island. Destinasi wisata ini dikenal sebagai Bali-nya Thailand. (arie giyarto/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID —  Pernah berkunjung ke Kepulauan Phuket? Saat ini Phuket Island menjadi salah satu tujuan wisata kedua setelah Bangkok Thailand.

Pulau seluas negara Singapura itu memang cantik luar biasa. Dikelilingi 23 buah pantai dengan ombak bervariasi. Ada yang tenang tapi ada juga yang besar bergulung-gulung menjilat hamparan pasir pantai, khas perairan Samudera Hindia.

Tidak heran banyak orang mengatakan Phuket Island adalah “Bali”-nya Thailand. Secara topografis tanahnya juga hampir sama. Bergunung-gunung naik turun.

Bahkan ada yang berkelak-kelok sangat tajam. Seluruh penumpang mobil pribadi serta mikrobus travel agent, mewajibkan tamunya menggunakan sabuk pengaman meski duduk di belakang.

“Itu di depan adalah operasi sabuk pengaman. Bagi yang kedapatan tidak menggunakan, bisa dikenakan denda. Bahkan kalau banyak penumpang yang tidak memakai, travel agent-nya bisa dipenalte,” kata Yamin, tour leader yang mendampingi koranbernas.id di negeri Gajah Putih.

Meski seluas Singapura, Phuket hanya dihuni sekitar 500.000 penduduk. Jauh lebih lega dibanding Singapura yang populasinya saat ini mendekati 4 juta.

Jalan dari Bandara Internasional menuju kota Phuket relatif jauh sepi sehingga nyaman di jalan. Baru setelah masuk kota, terasa ramainya.

Namun bagi pendatang kesulitan pertama adalah tidak mampu membaca tulisan dengan huruf Thai. Hampir seluruh bangunan, petunjuk jalan tidak ditulis dengan huruf latin sebagai pendamping.

Termasuk sesudah masuk pusat kota pun tulisan masih didominasi huruf yang hanya bisa dibaca oleh warga Thailand atau orang-orang yang mempelajarinya.

Sebagai wilayah tujuan wisata, semua fasilitas untuk pendatang dimudahkan. Tempat persewaan mobil atau sepeda motor ada di mana-mana. Tempat makan demikian juga. Mulai dari kelas pinggir jalan sampai di kafe atau resto, juga di mal.

Mulai pagi sampai malam, di pinggir-pinggir jalan banyak pedagang makanan menggelar dagangannya di atas sepeda motor yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa. Sehingga datang dan pergi dari tempat berjualan tidak repot. Dan lingkungannya tetap bersih.

Makanan kecil Phuket hampir sama dengan Yogyakarta. Ada klepon, mendut ketan, nagasari, ongol-ongol dan sejenisnya. Hari pertama tiba di Phuket, sebelum mendapat jatah makan pagi di hotel, kesulitannya adalah mencari tempat makan halal.

Kesibukan di Bandara Internasional Phuket. (arie giyarto/koranbernas.id)

Di Phuket sekitar 28 persen penduduknya, menurut Farida, tour leader kami juga, adalah muslim. Hanya saja masih banyak tempat makan halal yang masih tutup karena masih dalam suasana lebaran. Tempat makan muslim terbesar di sana bahkan tutup sejak bulan Ramadan.

Meski akhirnya setelah berputar-putar kota bisa sarapan di kedai makan yang menyediakan aneka menu tradisional Thailand. Ada sop, oseng-oseng, aneka masakan ayam, sea food dan lainnya. Laris sekali karena itu hari pertama dia buka.

Bagi orang Indonesia terutama Jawa, citarasanya nyambung banget. Tidak terasa kita ada di negeri orang. Dan yang pasti tidak terlewatkan adalah tomyam yang manis, asem dan pedesnya nendang.

Di kaki lima ada ketan, mangga iris plus saus mangga khas Phuket. Ketannya sangat gurih. Bagi yang suka mi atau nasi goreng, udang dan cumi-cuminya aduhai.

Bagi yang suka sea food, Phuket adalah tempatnya. Di pusat kota, belakang sebuah mal ada pusat makan seafood untuk kelas kaki lima dalam area yang sangat luas. Tempatnya amat sangat ramai, suasananya seperti pasar malam. Harganya memang berbeda dengan resto-resto yang berada di sepanjang jalan dekatnya.

Karena kualitas dan ukurannya berbeda. Lobster di resto harganya per kilogram sekitar 800 Bath. Di pasar seafood bisa diperoleh dengan 400 sampai 500  Bath namun ukurannya lebih kecil.

Selain itu penyajiannya juga berbeda dan suasananya  hingar bingar. Kebetulan malam itu ada beberapa orang mabuk. Tempat itu kalau pagi berubah menjadi pasar tradisional. Menyediakan segala macam keperluan untuk bahan masakan.

Banyak wisata pantai disiapkan dan dikelola secara profesional. Mengalirnya arus wisatawan dari berbagai negara dimanfaatkan penduduk maupun pemodal. Tempat-tempat kursus diving, snorkling, toko-toko perlengkapan renang bertebaran di mana-mana.

Pantai terjaga bersih. Demikian juga sungai yang mengalir di kota, bersih dari sampah. Perilaku hidup bersih dan selalu menjaga lingkungan ini memang ditanamkan pada penduduk agar wisatawan merasa nyaman. (sol/bersambung)