Diklat Jangan Lagi Konvensional, Ini Alasannya

504
Sebagian peserta Forum Kemitraan Lembaga Diklat di Kaperwil BKKBN DIY Selasa (03/04/2018). (arie giyarto/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Pendidikan dan pelatihan atau Diklat jangan lagi konvensional tetapi harus mengikuti perubahan menyesuaikan generasi milenial yang saat ini mendominasi peserta.

Mereka lebih pintar menguasai teknologi informasi dan komunikasi, lekat dengan gadget dan sangat pandai menggunakan berbagai fitur yang tersedia.

“Berbeda dengan generasi sebelumnya yang rata-rata hanya bisa memanfaatkannya untuk internet, telepon atau WA,” kata Drs Ipin MA, Kepala Pusdiklat Kependudukan dan KB BKKBN Pusat, Selasa (03/04/2018), saat menghadiri Forum Kemitraan Lembaga Diklat Daerah Istimewa Yogyakarta di Ruang Kencana  Kantor Perwakilan BKKBN DIY.

Diklat sekarang seyogianya menganut  cara  on off. Pelajaran di kelas dibawa ke lapangan untuk didiskusikan kemungkinan aplikasi dan implementasinya.

“Apabila peserta “dijejali” materi berjam-jam di kelas dengan widyaiswara berdiri di depan, mereka dapat apa selain rasa jenuh,” katanya lebih lanjut.

Perubahan merupakan sebuah keniscayaan yang harus diikuti. Materi diklat harus aplikatif, inovatif sejalan perubahan itu sendiri.

Sehingga, tujuannya bisa tercapai maksimal dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia sebagai unsur pendukung utama kemajuan program.

Suksesnya sebuah program diklat bukan sekadar diklat selesai. Tetapi justru bagaimana peserta mampu mengaplikasikan ilmu yang  diserap di masyarakat.

Kapusdiklatbang BKKBN Pusat, Drs Ipin MA. (arie giyarto/koranbernas.id)

DIY terakreditasi A

Pada kesempatan itu Ipin menginformasikan, dalam rangka mengukur kemajuan kinerja Diklat, BKKBN Pusat telah melakukan akreditasi terhadap 33 Balatbang BKKBN di 33 provinsi. Hasilnya hanya 13 yang lolos dengan nilai A dan B.

“Dari 13 itu DIY mendapat peringkat akreditasi A, satu-satunya se-Indonesia dengan nilai 9,6 atau hampir sempurna. Mampu mengalahkan berbagai provinsi besar,” ungkapnya.

Ke depan DIY akan dijadikan center of excellence dan menjadi tempat belajar banyak daerah. Ipin berharap DIY mampu mempertahankan dan mengembangkannya. Karena provinsi terakreditasi B pasti akan berusaha mengejarnya, meraih predikat A.

Kolaborasi

Dalam upaya meningkatkan mutu SDM, diklat masing-masing provinsi tidak mampu berjalan sendiri. Tetapi harus berkolaborasi dengan diklat-diklat lain saling mendukung materi guna menghadapi tantangan zaman.

Oleh karenanya forum kemitraan itu juga melibatkan diklat berbagai instansi. Termasuk BKKBN Jateng, Jabar dan Jatim dengan peserta 80 orang.

Selain dari pusdiklat BKKBN Pusat, peserta juga mendapatkan beberapa materi dari Fakultas Psikologi UGM, Kepala Bidang Pengembangan Program Diklat Prajabatan dan Kepemimpinan Lembaga Administrasi Negara (LAN) dan Kepala Pusat Pembinaan Widyaiswara LAN. (sol)