Dinamika PPP DIY Terbilang Unik

1375
Muhammad Yazid.

KORANBERNAS.ID – Dibanding daerah lain di Indonesia bahkan mungkin satu-satunya di negeri ini, dinamika yang terjadi di tubuh Partai Persatuan Pembangunan (PPP) DIY terbilang unik.

Keunikan tersebut juga diakui sendiri oleh Ketua DPW PPP DIY, Muhammad Yazid. “Keunikan PPP DIY tidak ditemukan di daerah lain,” ungkapnya kepada wartawan di kantor DPW PPP DIY, Senin (22/01/2018).

Bagi pendukung partai berlambang Kabah ini, beda pendapat yang terjadi di tingkat pusat (DPP) seolah-olah hal biasa dan itu merupakan bagian dari dinamika perpolitikan.

Bukan berarti mereka apatis tapi hal itu merupakan bagian dari kedewasaan berpolitik. Artinya, secara internal kegiatan-kegiatan PPP di DIY terus  berjalan, baik yang dilakukan oleh struktural maupun laskar-laskar. Hampir 90 persen mereka masih setia dengan PPP.

Menjawab pertanyaan soal menangnya kepengurusan Romahurmuziy (Romi) kasasi di Mahkamah Agung (MA) atas kepengurusan Djan Faridz, Ketua DPW PPP DIY, Muhammad Yazid menyatakan partainya tetap solid. “Massa tetap berada di kita. InsyaAllah kita masih solid,” ungkap Yazid.

Yazid sendiri menggantikan posisi Syukri Fadholi sejak November 2017 sehingga semua kepengurusan dari tingkat ranting sampai cabang berada di bawah kendali. Selain itu, aktivitas partai pun sampai sekarang masih lancar bahkan hampir tiap minggu Yazid menghadiri acara-acara partai.

Memasuki tahun politik, lanjut  dia, memang sudah saatnya untuk islah. Bahkan antara pengurus DPW PPP DIY dengan kubu Romi sudah bertemu dua kali. Namun Yazid menegaskan rekonsiliasi itu sifatnya institusi.

“Mas Romi setuju islah. Sudah dua kali menawarkan ke DPW dan DPC,” kata dia.

Adapun islah yang dimaksudkan yaitu rekonsilisasi secara organisasi yakni melebur dua kubu menjadi satu. Harapannya Februari mendatang jalan ke arah islah mulai dirintis.

“Harapan Mas Romi, kita perlu menyambut rekonsiliasi dan jangan sampai peluang besar itu lewat. Satu-satunya cara untuk menyelamatkan PPP melalui rekonsiliasi menggabungkan dua kubu,” kata Yazid.

Menurut dia, islah adalah menyatukan kembali dua kubu yang berseberangan. “Saya ibaratkan kendaraan, kubu Mas Romi itu memegang STNK dan BPKB. Sedangkan kami pegang armadanya,” kata dia.

Hanya saja dia mengakui, untuk menuju 2019 memang agak telat karena PPP masih berkutat pada legal-formal. Ibarat persneling masih pada kecepatan gigi tiga sedangkan partai-partai  lain sudah sampai speed enam.

“Kita omong pahitnya. Andaikata tidak terjadi rekonsoliasi saya menjamin InsyaAllah PPP DIY masih ada. Untuk persyaratan caleg ke KPU, itu urusan  pusat. Saya hanya berpikir untuk menyelamatkan biduk PPP DIY. Ini tanggung jawab saya, jangan sampai PPP DIY tinggal sejarahnya,” paparnya.

Mengenai loyalitas, dia mengakui kader dan pengurus tidak diragukan lagi. Bahkan aset yang paling besar yaitu para anggota dewan dari partai ini sudah menandatangani pakta integritas termasuk semua pengurus DPC dan DPW.

Hani Kuswanto (kanan) dan Afiq Anshori.

LBH Persatuan

Pada bagian lain, Yazid menyampaikan PPP DIY saat ini juga sudah memiliki Lembaga Bantuan Hukum  (LBH) Persatuan. Lembaga itu pun sudah mulai bekerja bahkan siap membela Gubernur DIY sehubungan adanya gugatan soal pertanahan.

Ini semua dilakukan semata-mata untuk meluruskan fakta sejarah mengenai Yogyakarta sekaligus sebagai wujud dari rasa handarbeni kota ini.

“Sikap dan spirit jiwa kami sebagai warga Ngayogyakarta, kami punya kewajiban dan harus meluruskan sejarah,” kata Hani Kuswanto SH, Ketua LBH Persatuan.

Didampingi anggotanya, Afiq Anshori, lebih lanjut dia menegaskan tidak seharusnya penggugat bersikap seperti itu. Jika itu dilakukan sama artinya mengungkit fakta sejarah kelam saat agresi militer Belanda ke Yogyakarta, luka lama yang dirasakan generasi dahulu akan muncul lagi dan terasa menyakitkan bagi mereka sendiri.

Muhammad Yazid menambahkan, prinsipnya spirit PPP dan LBH Persatuan adalah mengimbau jangan sampai kebijakan soal pertanahan yang sudah bijak itu jangan diuthak-uthik atau diungkit lagi. Lebih baik sejarah kelam tersebut dikubur saja supaya tidak menimbulkan gejolak sosial. (sol)