Lokasi Proyek Disebut Rawan Longsor, Pengembang Siap Tuntut Pakar Geologi UGM

1168
Lokasi calon perumahan MBR Godean Jogja Hills di Dusun Jering, Sidorejo, Godean. (istimewa)

KORANBERNAS.ID—Pihak pengembang perumahan untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) Godean Jogja Hills, PT Dewi Sri Sejati, siap melayangkan tuntutan terhadap pakar geologi UGM, Wahyu Wilopo. Langkah ini akan ditempuh, lantaran Wahyu Wilopo telah mengeluarkan statemen di salah satu media di Jogja, yang isinya membuat resah banyak kalangan dan merugikan pengembang.

Dikutip salah satu media di Jogja, pakar geologi ini mengatakan, bahwa proyek perumahan Godean Jogja Hills di Dusun Jering, Godean ini rawan longsor. Argumentasinya, tanah di lokasi tersebut didominasi oleh tanah lempung. Sehingga kalau lahan kemudian dibuka dan pepohonan menghilang, maka tanah lempung dan bebatuan menjadi terekspos dan ketika hujan beresiko menyebabkan longsor.

“Mungkin dulu  ketika lahan ini belum dibuka, kondisinya relatif stabil. Apalagi masih banyak pepohonan dan lerengnya tidak begitu curam. Tapi pembukaan lahan, membuat tanah dan batuan terekspos langsung dengan air dan timbul lereng yang cukup terjal. Ini bisa memicu longsor,” kata Wahyu.

Direktur PT Dewi Sri Sejati, Alim Sugiantoro, Jumat (06/10/2017) menyebut, statemen Wahyu Wilopo telah meresahkan banyak pihak. Akibat pemberitaan ini, calon konsumen banyak yang cemas dan mempertanyakan kebenarannya ke pihak pengembang.

Alim mengatakan, pihaknya sudah melakukan kajian yang mendalam dan komprehensif terhadap kondisi lingkungan termasuk kondisi tanah di lokasi calon perumahan Godean Jogja Hills. Kajian melibatkan pihak kampus dan pakar yang dilakukan berbulan-bulan, sehingga bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Baca Juga :  Takmir Masjid Harus Jadi Penangkal Radikalisme

Dari kajian ini, disebutkan lokasi tersebut layak untuk lokasi perumahan. Disana juga diikutkan sejumlah rekomendasi yang nantinya akan dilaksanakan oleh pihak pengembang.

“Apa yang dikatakan Wahyu Wilopo itu yang justru perlu dipertanyakan. Selain itu, tidak sepantasnya dia masuk ke areal kami tanpa izin yang katanya untuk melakukan kajian. Dia tidak memiliki hak untuk masuk area milik orang lain tanpa izin. Apalagi kemudian langsung mempublikasikannya ke media tanpa konfirmasi dulu ke kami, dan ternyata statemen dia menimbulkan keresahan banyak pihak,” tandas Alim.

Alim kemudian mengungkapkan, proyek pembangunan perumahan MBR ini mendapat sambutan baik dari masyarakat di sekitar lokasi. Masyarakat melihat adanya potensi baru dengan adanya proyek ini, yang nantinya akan dihuni oleh ribuan keluarga.

“Jadi statemen Wahyu Wilopo, bukan saja membuat resah ribuan calon konsumen yang notabene adalah masyarakat berpenghasilan rendah yang sudah lama memimpikan memiliki rumah sendiri. Statemen itu juga meresahkan masyarakat sekitar yang boleh jadi sudah melakukan persiapan-persiapan membuka usaha baru menyambut hadirnya ribuan unit rumah di kawasan ini,” katanya.

Sementara, Kepala Dusun Jering, Sogol mengatakan, pihaknya menyesalkan pernyataan Wahyu Wilopo. Menurutnya, Wahyu tidak memahami secara lengkap kondisi yang ada. Menurut salah satu tokoh masyarakat sekaligus perajin genteng ini, tanah lempung di kawasan tersebut hampir sudah tidak ada lagi. Sehingga di sekitar lokasi, yang dulunya ada ratusan perajin genteng, sebagian besar sudah tidak berproduksi lagi karena kehabisan bahan baku berupa tanah lempung.

Baca Juga :  Produk PT Harus Miliki Standar Internasional

Untuk itulah, ketika kawasan ini dibuka untuk dijadikan area perumahan, masyarakat malah menyambut baik.

“Kami yang sudah hampir putus asa karena tidak lagi bisa memproduksi genteng, melihat peluang baru khususnya di usaha perdagangan untuk memenuhi kebutuhan hidup warga perumahan nantinya. Tapi kami menyesalkan, mengapa proyek ini terkesan banyak yang menghalang-halangi. Termasuk Wahyu Wilopo yang mengatakan kawasan ini rawan longsor karena tanah lempung misalnya. Lha lempungnya saja sudah habis kok,” kata Sogol.

Sogol juga mengatakan, sejak dulu perbukitan di Dusun Jering ini memang menjadi tumpuan masyarakat mendapatkan tanah lempung sebagai bahan baku industri genteng. Sejak ratusan tahun lalu, belum pernah ada peristiwa longsor sebagaimana dikhawatirkan Wahyu.

“Menurut saya kok aneh kalau ada yang khawatir dengan longsor. Kalaupun bukit ini kemudian dikeruk dan diratakan, sebagai langkah awal pembangunan perumahan, mestinya pihak pengembang kan sudah memperhitungkan segala kemungkinan termasuk memperkuat tebing dan sebagainya untuk mengantisipasi kemungkinan longsor,” imbuhnya lagi.(SM)