DIY Punya Program Edukasi untuk Netizen

200

KORANBERNAS.ID – Pemerintah DIY dalam hal ini Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) DIY memiliki program edukasi dan literasi untuk para netizen. Ini perlu dilaksanakan untuk mengiringi perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat.

Program tersebut memperoleh dukungan dari DPRD DIY. Tata kelola serta penguasaan budaya teknologi informasi oleh pemerintah maupun tokoh masyarakat, harus ditempatkan sebagai alat memperkuat keutuhan bangsa, kemajuan ilmu pengetahuan dan kemajuan hidup masyarakat.

“Yang dibutuhkan saat ini adalah menghadirkan pendididikan etika dan moral dalam mengelola dan memanfaatkan teknologi informasi,” ungkap Eko Suwanto, Ketua Komisi A DPRD DIY, Kamis (01/03/2018).

Anggota Fraksi PDIP dapil Kota Yogyakarta itu menegaskan, literasi media dan pendidikan mutlak diberikan terutama bagi generasi zaman now. Kita dukung program literasi media sosial yang diselenggarakan Pemda DIY di 78 kecamatan,” kata dia.

Langkah edukasi dan literasi media sangat strategis. Apalagi saat dijalankan ke tingkat kecamatan. Setidaknya program edukasi media nantinya bisa melahirkan 7.800 netizen.

Baca Juga :  Warga Terpaksa Jual Ternak untuk Beli Air

Generasi zaman now diharapkan selain andal sekaligus memiliki jiwa cinta tanah air dan menjunjung tinggi Bhinneka Tunggal Ika.

Eko Suwanto,  menambahkan edukasi media atau literasi media digital penting dikerjakan apalagi saat ini cukup marak adanya hoaks.

Rony Primanto Hari. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Secara terpisah, Kepala Diskominfo DIY, Rony Primanto Hari, mengajak pegiat media sosial (medsos) melawan konten-konten negatif tentang DIY, salah satunya persoalan pertanahan, supaya masyarakat memahami dari sumber yang benar.

Kenapa media sosial, dia mengatakan, karena medsos susah diverifikasi, berbeda dengan media massa yang sudah dipercaya oleh masyarakat.

Sudah lama dia menginginkan ada pelatihan serta fasilitasi pembuatan konten-konten positif. Dengan begitu masyarakat memperoleh informasi yang benar dari medsos maupun media massa.

“Pelatihan pembuatan konten itu cita-cita  saya dari dulu,” ujarnya pada Gathering Pers Optimalisasi Peran Media Massa dan Media Sosial untuk Mewujudkan Jogja Damai, Kamis (01/03/2018), di Rumah Makan Bu Tini Jalan Lowanu 62 Yogyakarta.

Baca Juga :  Tiga Nyawa Melayang Setiap Jam

Didampingi budayawan Yogyakarta, Dr Haryadi Baskoro serta Kepala Bidang Humas Diskominfo DIY Amiarsi Harwani, lebih lanjut Roni menjelaskan pihaknya juga siap memberikan fasilitasi digelarnya Festival TIK. Prinsipnya, dia setuju asalkan tidak menabrak aturan.

Gathering Pers Optimalisasi Peran Media Massa dan Media Sosial untuk Mewujudkan Jogja Damai, Kamis (01/03/2018). (sholihul hadi/koranbernas.id)

Dari sisi budaya, Haryadi Baskoro melihat perkembangan media sosial  sekarang ini sudah bergeser dari idealisme ke pragmatisme, dari tulis ke lisan, dari blog ke instagram serta dari edukatif ke entertainment.

Dia sepakat, perubahan tidak bisa dicegah hanya saja harus dikelola dan dikendalikan. Inilah pentingnya edukasi sebab ketika kebebasan tanpa batas sudah dicap jahiliyah maka sudah pasti akan muncul konter berbentuk gerakan fundamental dan radikal.

Dia juga percaya pegiat  medsos masih ada yang visioner dan idealis. Artinya, motivasi mereka bermedsos tidak sekadar mencari uang meskipun uang juga penting.

“Medsos ketika dikemas dengan cara yang gaul akan laku. Peran medsos adalah menyampaikan sesuatu yang serius dengan cara nyantai,” ungkapnya. (sol)