Aksi Dorong-dorongan Warnai Pengosongan Lahan Bandara

175
Aksi dorong-dorongan mewarnai pengosongan lahan bandara. (sri widodo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID —  PT Angkasa Pura I bersama tim, Selasa (05/12/2017) melanjutkan kegiatan perobohan rumah warga terdampak. Sehari sebelumnya kegiatan itu berjalan lancar.

Namun pada Selasa kemarin terjadi keributan berupa aksi dorong mendorong antara warga yang menolak, dibantu sejumlah mahasiswa dari Yogyakarta, dengan petugas. Akibatnya, belasan mahasiswa diamankan di Polres Kulonprogo. Mereka diperiksa dan didata  identitasnya.

PT  Angkasa Pura menyatakan tanah sudah dibayar ganti ruginya. Namun yang dirobohkan baru rumah yang sudah tidak dihuni lagi. Di lapangan masih ada 33 rumah berdiri di lahan pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Temon.

33 rumah di Desa Palihan dan Glagah itu terdiri 28 rumah yang masih dihuni warga penolak pembangunan bandara serta 5 rumah warga sedang dalam proses penaksiran ulang nilai asetnya oleh appraisal.

Baca Juga :  UGM Sambut Baik Program Beasiswa Kedokteran Pemkab Purbalingga
Petugas menangkap mahasiswa di lokasi lahan bandara. (sri widodo/koranbernas.id)

Selasa kemarin, AP I melanjutkan kembali pembersihan lahan dengan perobohan pepohonan dan bangunan yang sudah kosong tanpa penghuni. Dari 38 rumah kosong di Glagah dan Palihan, tersisa 9 rumah yang dikosongkan pada hari ini.

“Rumah yang masih ada isinya ya tidak kita runtuhkan. Sekarang ada 28 warga yang masih bertahan (menolak). Sebelumnya memang ada 30 orang tapi dua orang sudah mengajukan penilaian ulang,” kata Sujiastono, Project Manager Pembangunan NYIA.

Sujiastono berharap warga penolak pembangunan bandara yang masih bertahan di dalam rumahnya segera pindah dan mengosongkan lahan secara sukarela.

Dengan putusan pengadilan itu, maka sudah terjadi pemutusan hubungan hukum antara AP I dan warga pemilik lahan.

Baca Juga :  Broadcast Intoleransi Viral, Sekolah Ini Membantah

Mengenai kericuhan yang terjadi, karena ada belasan mahasiswa di antaranya ada persma yang ikut aktif dalam kegiatan solidaritas sejak Senin.

Kepala Satuan Reskrim (Kasat Reskrim) Polres Kulonprogo, Ajun Komisaris Polisi Dicky Hermansyah, mengatakan 12 mahasiswa langsung dibawa ke Mapolres Kulonprogo untuk dimintai keterangan.

Mereka diamankan karena melanggar Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Kulonprogo No 4/2013 tentang Ketertiban Umum. Diketahui, mereka sudah melanggar ketentuan yang diatur, yaitu menginap di rumah warga, tanpa izin dari pemerintah desa ataupun kecamatan. Penindakan tersebut akan dilimpahkan ke Satuan Polisi Pamong Praja.

“Kita amankan dan kita periksa. Kalau mereka kooperatif dalam pemeriksaan, maka mereka akan kami lepas,” ujar Dicky kepada wartawan. (sol)