Dosen UP 45 Ini Kembangkan Manfaat Surfaktan Minyak Bumi

340
Kepala Laboratorium EOR UP 45, Joko Sanyoto memperlihatkan hasil penelitian surfaktan di kampus setempat, kemarin. (yvesta putu sastrosoendjojo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID  – Indonesia merupakan negara ketiga di dunia yang memiliki cadangan minyak bumi terbesar setelah Arab Saudi dan Venezuela. Negara ini memiliki sekitar 0,3 persen dari total cadangan minyak bumi dengan tingkat kebutuhan mencapai 1,5 juta barel per hari pada 2016 lalu.

Namun Indonesia hingga kini baru bisa memproduksi sekitar 750 ribu barel minyak bumi per hari. Potensi cadangan minyak masih cukup tinggi belum dieksplorasi secara maksimal.

Akibatnya Indonesia terlalu banyak bergantung pada impor minyak bumi dari negara lain. Jika impor makin besar, maka dikhawatirkan akan meningkatkan inflansi dan bisa mengganggu perekonomian bangsa. Eksplorasi besar pun tidak bisa mengatasi persoalan itu karena harga minyak dunia yang sering fluktuatif.

Karenanya Enhanced Oil Recovery (EOR) coba dikembangkan untuk memaksimalkan eksplorasi minyak bumi. Kalau biasanya eksplorasi hanya dilakukan dengan bor maupun pressure maintenance untuk mengeluarkan minyak maka saat ini menggunakan injeksi surfaktan. Pengembangan tersebut salah satunya coba dilakukan Kepala Laboratorium EOR Universitas Proklamasi (UP) 45, Joko Sanyoto.

Baca Juga :  Sidomulyo Sentra Wisata Pisang, Mulyodadi Gayam

“Surfaktan mampu mengangkat sisa minyak bumi dalam reservoir dan mampu merecovery hingga 40% sisa minyak,” ungkap Joko kepada Koran Bernas di kampus setempat, kemarin.

Dalam pengambilan minyak bumi biasanya meninggalkan sisa sekitar 35-40 persen. Dengan penginjeksian surfaktan, menurut Joko maka sisa minyak yang tertinggal di reservoir bisa sehingga meningkatkan produksi minyak mentah

Penginjeksian surfaktan merupakan salah satu metode dalam proses meningkatkan produksi minyak bumi atau yang dikenal dengan EOR. Surfaktan dialirkan ke dalam sumur minyak untuk melepaskan tetesan minyak yang terperangkap dalam pori-pori batuan dalam sumur minyak.

“Surfaktan bisaa menurunkan tegangan antar muka antara minyak bumi dengan air hingga lebih dari Sembilan puluh persen minyak mintah terangkat,” jelasnya.

Baca Juga :  Siap-siap, Tambak Udang Glagah Bakal Digusur

Surfaktan yang dikembangkannya, lanjut Joko berbeda dari yang sudah-sudah. Dari penelitian yang dilakukan selama beberapa bulan dan diujikan ke laboratorium MIPA UGM, injeksi surfaktan bisa menurunkan tegangan permukaan minyak bumi sampai ke ukuran nano.

“Saat ini hasil penelitian saya juga dikirim ke pertamina untuk dibuktikan dan diujicoba lebih lanjut,” jelasnya.

Ujicoba dilakukan untuk mengetes kompatibilitas, tegangan muka (ift) dengan menggunakan spinning drop tensiometer,  thermal stability dengan oven dan  phase behavior tes dan lainnya.

Joko berharap penelitian surfaktan yang dilakukannya dapat bermanfaat dalam memaksimalkan eksplorasi minyak mentah. Dengan demikian akan menghemat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dari impor minyak bumi.

“Penelitian ini akan terus saya sempurnakan agar dapat bermanfaat lebih baik,” imbuhnya.(yve)