DPRD DIY Ingatkan Pengelola Wisata Jangan Kemaruk

228

KORANBERNAS.ID – Wakil Ketua DPRD DIY Arif Noor Hartanto mengingatkan para pengelola wisata tidak kemaruk atau serakah. Tidak sedikit pengelola wisata hanya berpikir mengejar target kunjungan.

Ini keliru sebab sukses tidaknya destinasi wisata bukan semata-mata diukur dari banyaknya jumlah pengunjung yang datang.

“Berikan layanan yang terbaik untuk kepuasan batin. Mpun, mboten sah kemaruk. Dengan layanan yang baik, obyek wisata nanti berkembang dengan sendirinya,” ungkapnya, Jumat (10/11/2017) di Sekretariat Desa Wisata Kaki Langit Mangunan Bantul.

Pada acara Forum Diskusi Wartawan Unit DPRD DIY bersama Sekretariat DPRD DIY, lebih jauh politisi yang akrab disapa Inung itu menyampaikan, di sejumlah negara di luar negeri jumlah wisatawan justru dibatasi.

“Di negara lain, saya lupa nama negaranya, wisatawan yang mau masuk harus daftar lebih dulu, baru kemudian pemerintah setempat mengeluarkan izin,” kata dia.

Dia kemudian membandingkan dengan Yogyakarta sebagai Kota Pariwisata berkelas dunia jumlah wisatawan yang masuk ke kota ini tidak dibatasi, kapan pun boleh masuk dan sebanyak-sebanyaknya. Hal ini di satu sisi baik dari sisi ekonomi, namun juga memunculkan dampak negatif.

Baca Juga :  Warga Tinggalkan Desanya dengan Berlinang Air Mata

Inung merasa mongkog obyek wisata Kaki Langit berkembang dengan tetap bertumpu pada tradisi, sehingga kehidupan masyarakat ayem tentrem dan perekonomiannya kuat. “Yakinlah, wisata itu jangan dengan ukuran regeng, banyak pengunjung,” katanya lagi.

Ketua Desa Wisata Kaki Langit, Purwo Harsono. (istimewa)

Sependapat, Ketua Desa Wisata Kaki Langit, Purwoharsono, menyatakan sejak awal para pengelola wisata di Mangunan sepakat tidak kemaruk.  “Kita sudah sepakat tidak kemaruk. Nek kemaruk hancur kita,” ungkapnya kepada wartawan.

Ipung, sapaan akrab Purwoharsono, menambahkan bersama pemerintah desa serta pihak-pihak terkait, pihaknya berupaya konsisten menjaga desanya dari efek negatif pariwisata yang kemungkinan akan muncul.

Mangunan yang mulai dikunjungi turis asing di antaranya dari Filipina, Thailand, Korea maupun dari beberapa negara Eropa, namun demikian aturan dan adat istiadat di desa tetap ditegakkan.

Baca Juga :  Puskesmas Bukan Hanya Untuk Rawat Orang Sakit

Sejak awal, pihaknya sudah memikirkan dampak sosial yang  mungkin muncul di masyarakat termasuk dampak lingkungan berupa limbah dan sampah plastik dari aktivitas wisata.

Menurut dia, aktivitas wisata tetap harus dikontrol secara ketat. Misalnya, jika mengadakan acara dan terdengar suara azan tanda waktu salat, kegiatan seperti outbound atau pentas seni dan lainnya harus dihentikan sementara.

Demikian pula, kegiatan malam hanya dibatasi sampai pukul 23:00. Jika sampai dini hari maka sebelumnya harus ada izin atau surat pemberitahuan ke aparat berwenang.

Aturan ini penting ditegakkan dalam rangka membentengi generasi muda dan masyarakat dari aktivitas wisata yang mungkin merugikan.

Selain itu, keberadaan homestay juga dijaga supaya jangan berubah menjadi losmen. Bahkan aturan ini diberlakukan ketat. (sol)