DPRD DIY Susun Skema untuk Sejahterakan Guru

239
Seminar Komisi A DPRD DIY dengan perwakilan Guru SMA/SMK, Kamis (29/03/2018), di Lantai Dua DPRD DIY. (sholihul hadi/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID – DPRD DIY bersama eksekutif saat ini sedang mencoba mencari skema untuk menyejahterakan guru khususnya guru tidak tetap atau guru honorer. Apabila diperbolehkan serta tidak melanggar aturan dan undang-undang, para guru itu nantinya bisa memperoleh tambahan penghasilan dari APBD DIY.

”Sedang kita rumuskan tunjangan tambahan untuk guru, diperbolehkan atau tidak,” ujarnya Eko Suwanto, Ketua Komisi A DPRD DIY, kepada wartawan di sela-sela Seminar Komisi A DPRD DIY dengan perwakilan Guru SMA/SMK, Kamis (29/03/2018), di Lantai Dua DPRD DIY.

Bentuk-bentuk kesejahteraan itu antara lain pemberian tunjangan transportasi maupun beasiswa bagi anak guru. Tujuannya untuk menekan belanja pengeluaran sekaligus mengurangi beban mereka.

Dia mengakui, guru bersatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) dari sisi pendapatan relatif sudah mencukupi. “Saya dengar take home pay-nya rata-rata Rp 7 juta per bulan,” ungkapnya.

Politisi muda PDI Perjuangan ini lebih lanjut mengatakan peningkatan kesejahteraan guru juga bisa dilakukan dengan skema tugas belajar serta peningkatan kompetensi.

Menjawab keluhan para guru yang terkesan banyak dibebani urusan administrasi, Eko Suwanto yang juga anak seorang guru itu mengatakan, urusan administrasi yang melekat pada pribadi memang tidak bisa dikerjakan oleh orang lain.

Sementara urusan administrasi yang sifatnya kolektif dikerjakan oleh bagian tata usaha (TU). Seyogianya, bagian TU juga memperoleh tambahan penghasilan karena ada tambahan pekerjaan.

Seminar yang diikuti 100-an peserta kali ini dihadiri tiga orang narasumber yaitu  Drs Sukanto selaku Komite Dewan Profesi Guru Kode Proguru Yogyakarta, Drs Anton Eknaton M Hum selaku Pengurus Kode Proguru Yogyakarta serta Asisten Administrasi Umum Setda DIY, Dra Kristiana Swasti MSi.

Hadir pula dua orang anggota Komisi A yaitu Slamet dan Albani. “Pak Slamet dan Pak Albani yang sengaja duduk di belakang ini punya pengalaman jadi guru. Kalau saya anak guru,” kata Eko Suwanto memperkenalkan anggotanya di hadapan para guru.

Sedangkan Sukanto menyampaikan beban guru saat ini tidak ringan karena dituntut  bekerja sampai 40 jam per minggu dengan beban kurikulum 24 jam per minggu. Beban yang berat itu sudah semestinya sesuai dengan kesejahteraan yang diterimanya.

“Saya kira kita semua setuju ada tambahan kesejahteraan. Dalam Undang-undang tentang Guru dan Dosen, guru boleh mendapatkan tunjangan di luar tunjangan penghasilan pegawai. Ini untuk peningkatan kompetensi,” ungkapnya.

Dalam kesempatan itu, Kristiana Swasti mengaku terkesan dengan kata akhir paparan Sukanto untuk menyemangati para guru. Kalimat itu dihias gambar burung, sehingga ketika ditampikan di proyektor gambar burung terlihat jelas. “Semangat bro, gambare kok manuk,” ungkap Kristiana.

Baginya, semangat itu penting sebab permasalahan yang dihadapi guru memang tidak lepas dari kesejahteraan dan peningkatan kualitas.

Sebagai gambaran, di Daerah Istimewa Yogyakarta setiap tahun ada 350-an guru yang pensiun, dan sudah tiga tahun ini diberlakukan moratorium guru. Artinya, terjadi ketidakseimbangan antara jumlah guru yang pensiun dengan guru baru. (sol)