Drone “Cahyono” STTNAS Yogyakarta Juarai Kompetisi

328
Tim Catur Cahyono Drone STTNAS Yogyakarta bersama Ketua STTNAS berfoto bersama. (dwi suyono/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID–Drone rancangan mahasiswa STTNAS (Sekolah Tinggi Teknologi Nasional) yang diberi nama “Cahyono” berhasil menyabet Juara 2 dalam ajang kompetisi Brawijaya Copter Competition (BCC) ke-4 di Universitas Brawijaya, Malang yang berlangsung pada 17 – 18 November 2017 lalu.

Koordinator Teknis Drone STTNAS Abdi Gespen menuturkan timnya sempat mengalami kendala teknis pada tahap Flight performance. Sensor drone mengalami gangguan kestabilan yang dikarenakan unconnected salah satu chanel pada transmitter dan receiver drone.

“Sehingga kami harus menganalisa dan mencari ulang permasalahan yang terjadi pada drone dalam waktu yang sangat terbatas,” kata Gespen kepada koranbernas.id dalam acara jumpa pers yang dilakukan di kampus pada Rabu (22/11/2017).

Beruntung masalah itu bisa segera dipecahkan. Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa tim Drone STTNAS mampu mengungguli peserta dari kampus-kampus terkemuka di Indonesia dalam ajang kompetisi skala nasional ini.

Baca Juga :  Kaya Pengetahuan Saja, Tidak Cukup bagi Mahasiswa

“STTNAS merupakan satu-satunya tim dari perguruan tinggi swasta yang mengikuti ajang kompetisi skala nasional tersebut dan berhasil mengungguli 2 tim tuan rumah dari Universitas Brawijaya. Keunggulan Catur Cahyono Drone tim STTNAS ada pada manuverability (kemampuan bermanuver) dan aerobatik dalam mengambil beban atau barang dari titik take off lalu melintasi beberapa halang rintang dan mencapai titik poin maksimal pada zona landing drone untuk peletakan beban serta pendaratan pada zona-zona yang yang telah di tentukan,” tambahnya.

Sementara Rangga Sila selaku anggota  tim menjelaskan bahwa dengan kemampuan tersebut, ke depannya, Catur Cahyono Drone Tim STTNAS dapat dimanfaatkan sebagai pengganti kerja manusia di udara guna menunjang aktivitas di bidang seperti industri serta penanganan bencana.

“Dalam kompetisi ini ada dua tahap penilaian yaitu static judging dan performance/dynamic drone. Pada tahapan static juding, kemampuan akademis dan pemahaman teknikal yang mendalam menjadi penilaian utama dan dipresentasikan di hadapan para juri

Baca Juga :  Karakter Dibangun Dari Keluarga

Sedangkan pada tahapan Performance drone, para kontestan diminta untuk menunjukkan kemampuan drone dalam menyelesaikan 2 misi kompetisi, yaitu FPV (first person view) dimana pilot tidak dapat dapat melihat langsung drone melainkan hanya mengandalkan kamera yang terpasang pada drone melalui Vision System, Penghindaran Rintangan (obstacle avoidance), Aerobatik, aerografis, hingga kemampuan drone untuk terbang rendah sampai landing pada zona landing paling tengah,” tutup Rangga

Suparyanto selaku Humas STTNAS  menandaskan bahwa turnamen ini diselenggarakan 4 kali dan pada tahun ini diikuti sejumlah Perguruan Tinggi Negeri maupun Swasta seperti UGM, UNS, ITS, Universitas Diponogoro, Universitas Hasanudin, Universitas Negeri Malang, Universitas Jember, Polban dan Universitas Brawiajaya sebagai tuan rumah.(SM)