Dua Bocah Penderita Hydrocepalus Ini Hanya Mampu Terbaring

1017
Kakak-adik Ahmad Nurrofa (10) dan Reza Gionino (7) menderita Hydrocephalus hanya bisa terbaring di rumah mereka Dusun Rejosari Dlingo Bantul. (sari wijaya/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID –  Air mata Ny Sumini (39) warga Dusun Rejosari Desa Terong Kecamatan Dlingo tumpah manakala rombongan Bupati Bantul Drs H Suharsono tiba di rumahnya untuk menyerahkan bantuan, Selasa (04/09/2018).

Bantuan tersebut diberikan untuk pengobatan kedua anaknya  bernama Ahmad Nurrofa (10) dan adiknya Reza Gionino (7) yang menderita hydrocepalus, peningkatan volume cairan di dalam otak yang mengakibatkan pembesaran kepala. Keduanya hanya mampu terbaring.

“Saya mendengar informasi ini trenyuh. Dari 5 anaknya, yang menderita hydrocephalus itu dua anak. Sementara suaminya sudah meninggal. Saya selalu menempatkan diri, piye nek itu saya? Itulah kenapa saya ingin berbuat dan datang kemari,” kata Bupati.

Dirinya berpesan kepada Ny Sumini agar kedua anak tersebut  dirawat sebaik-baiknya dan selalu diupayakan kesehatan.  “Karena tadi saya dengar lama tidak dirawat, jadi saya minta agar segera diperiksa. Dan saya minta agar bisa dibawa ke RS Harjolukito agar bisa dilakukan perawatan lanjutan,” katanya.

Untuk kakaknya, akan diupayakan pendidikan gratis. Karena selain anaknya nomor 3 dan 4 menderita sakit, Ny Sumini juga punya tiga anak lainnya yakni Kelik Mustofa (20) yang baru saja masuk training kerja di Kota Jogja.

Sedangkan adiknya, Anggit Wahyu Aji (kelas 3 SMP) dan anak ragilnya,  Sifa Septiani (PAUD).

Dengan berurai air mata Ny Sumini menuturkan  anaknya yang nomor 3 bernama Ahmad Nurrofa (10) menderita pembengkakan kepala sebulan setelah dilahirkan.  “Pada usia 45 hari dia dioperasi di RS PKU Jogja,” katanya.

Untuk keperluan operasi ini Ny Sumini mengeluarkan biaya  CT scan dan pemasangan selang. Setelah itu karena keterbatasan biaya dan kerepotan, tidak ada kelanjutan perawatan.

“Saya pernah tanya ke dokter juga kalau selangnya tidak bermasalah tidak diganti tidak apa-apa,” katanya.

Bupati Bantul Drs H Suharsono membantu penderita hydrocepalus. (sari wijaya/koranbernas.id)

Ujian bagi dirinya datang lagi, saat anak ke 4 lahir dan diberi nama Reza Gionino yang kini berusia 7 tahun juga menderita penyakit serupa.

Reza diketahui mengalami pembengkakan kepala saat usia semingggu dan di usia 19 hari dia dioperasi di RS PKU. “Saya sekarang repot mau membawa mereka kontrol atau berobat sehingga tidak ada pengobatan lagi. Apalagi setelah suami saya meninggal,” katanya.

Suaminya bernama Wagiran meninggal karena kecelakaan kerja jatuh dari ketinggian saat bekerja  sebagai tukang  proyek di wilayah Gamping.

Berangkat pagi dan kembali ke rumah malam hari sudah menjadi jenazah. Suaminya akan dikirim doa 1.000 hari pada bulan Oktober mendatang.

“Sekarang hidup saya lebih fokus untuk mengurus anak-anak, jadi tidak pernah keluar rumah karena sehari-hari  saya menerima jahitan. Juga  melayani kebutuhan dua anak saya ini, saya masih mengantar PAUD tiga kali seminggu anak saya yang kecil,” kata Sumini.

Kendati harus menghadapi ujian demi ujian, dirinya mengaku kuat dan ikhlas. Serta berharap agar anaknya kelak sembuh dan sehat layaknya anak yang lain.

Dukuh Rejosari, Kasiyanto, mengatakan untuk membantu keluarga tersebut telah dikucurkan bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) serta Kartu Indonesia Sehat (KIS). Dari pihak desa juga difasilitasi untuk pemberian bantuan bagi anak yatim. (sol)