Dukungan untuk Gubernur NTB ke Panggung Nasional Muncul di Jogja

328
Paguyuban Petani dan Mahasiswa Yogyakarta (PPMY), melakukan deklarasi dukungan untuk Gubernur NTB Muhammad Zainul Majdi maju ke panggung politik nasional. (istimewa)

KORANBERNAS.ID—Prihatin dengan kondisi pertanian dan petani di Indonesia, komunitas petani dan mahasiswa di Jogja juga turut menyatakan dukungan untuk Gubernur NTB Tuan Guru Bajang (TGB) Dr Muhammad Zainul Majdi MA untuk berkiprah secara nasional.

Menurut para petani dan mahasiswa, sosok TGB sudah saatnya tampil dalam skala lebih luas, untuk menyelamatkan sektor pertanian yang sejatinya sangatlah strategis bagi bangsa.

Disela-sela deklarasi dukungan untuk TGB di Sleman, Rabu (14/02/2018), Koordinator Paguyuban Petani dan Mahasiswa Yogyakarta (PPMY), Eko Winarno mengatakan, sudah lama bangsa ini membutuhkan sosok yang benar-benar kuat dan punya komitmen untuk memajukan sektor pertanian.

“Saat ini masih dalam keadaan yang sangat mempihatinkan. Kontribusi pertanian cukup signifikan bagi perekonomian nasional, nyatanya, pertanian tetap merupakan sektor pinggiran yang kurang mendapatkan perhatian serius pemerintah, khususnya dari sisi kesejahteraan petani itu sendiri,” kata Eko.

Melihat kondisi ini, PPMY merasa perlu ikut mendorong lahirnya pemimpin nasional yang benar-benar peduli dan berpihak kepada petani. Pro petani dan pro kedaulatan pangan.

“Salah satu tokoh yang saat ini muncul ke permukaan dengan kebijakan-kebijakan dan sikap yang menurut kami cukup berpihak kepada petani adalah Tuan Guru Bajang Dr. Muhammad Zainul Majdi, MA,” imbuhnya.

Dengan memunculkan tokoh-tokoh pemimpin pro petani dan pro kedaulatan pangan, maka keberlangsungan kehidupan pertanian di Indonesia diharapkan akan terus terjaga dan terpelihara.

Baca Juga :  Pengunjung Bisa Praktik Mengolah Biourine

PPMY, kata Eko, sudah lama melakukan kajian dan pengamatan untuk mencari sosok yang tepat guna menyelamatkan pertanian.  Bagi PPMY, sosok TGB dinilai sangat layak untuk mendapat kesempatan menunjukkan kiprahnya di dunia pertanian.

Pertama, dari sisi keberpihakan, TGB mulai menampakkan fenomena munculnya pemimpin muda yang cukup memberikan perhatian, bukan saja pada bidang pertanian melainkan pada sisi kedaulatan pangan.

“Pernyataan TGB yang mengkritik langkah pemerintah pusat yang membuka keran impor beras dan jagung, merupakan sebuah kejutan tersendiri. Dari sisi ini bisa dilihat TGB mampu menunjukkan keberpihakannya pada produksi pangan lokal dengan menolak impor,” kata Eko.

Saat pemerintah pusat memutuskan untuk melakukan impor beras, dan beras impor itu hendak dimasukkan ke NTB, TGB menolak. Dia bahkan berani meminta pemerintah pusat lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan impor beras, dan mengingatkan pemerintah pusat agar tidak mendemoralisasi petani dengan impor.

TGB juga berani bersikap kritis terhadap pemerintah pusat terkait impor jagung. TGB protes karena jagung petani dihargai Bulog Rp2.000 hingga Rp2.500 per kg. Namun, ternyata Bulog justru impor jagung dengan harga Rp3.000 per kg.

TGB juga melontarkan kritikan tajam, menyangkut  bantuan langsung pemerintah, misalnya Beras Miskin (Raskin) yang dinilai tidak efektif, bahkan bentuk pembodohan kepada masyarakat.

“Saya kira, saat ini NTB menjadi salah satu yang terdepan dalam menjadikan sektor pertanian (disamping pariwisata) sebagai andalan dalam memacu pertumbuhan eknomi. Di NTB, sektor pertanian mampu memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi NTB sebesar 24 persen. Besarnya sumbangsih dari sektor pertanian inilah yang menjadikan Provinsi NTB sebagai daerah penopang swasembada pangan nasional,” lanjut Eko.

Baca Juga :  Takut Dicerai, Pria Ini Pilih Tenggak Deterjen

Kondisi Pertanian

Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), pada triwulan II 2017, sektor pertanian terus memberi kontribusi positif untuk perekonomian Indonesia.

Menurut BPS, terlihat bahwa besaran produk domestik bruto (PDB) Indonesia mencapai Rp3.366,8 triliun. Dari sisi produksi, pertanian merupakan sektor kedua paling berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi, setelah industri pengolahan.

Posisi sektor pertanian masih di atas sektor lainnya, seperti perdagangan maupun konstruksi. Untuk triwulan II-2017 ini, sektor pertanian dalam arti luas menyumbang sebanyak 13,92%, sementara pada triwulan-I 2017 kontribusinya 13,59%.

Dari catatan Omah Tani di Yogyakarta,  pencapaian dari sisi produksi ini ternyata tidak tercermin nyata terhadap kondisi petani dan pertanian itu sendiri. Ini bisa dibuktikan dari masih tingginya laju konversi lahan pertanian. Rata-rata per tahun, sawah yang dicetak pemerintah hanya 40 ribu hektar.

Sedangkan konversi lahan secara nasional mencapai 100 ribu hektar. Konversi lahan 100 ribu hektar melebihi laporan resmi yang diterima Kementerian Pertanian, yakni 60 ribu hektar per tahun. Celakanya, lahan pertanian produktif paling banyak dikonversi menjadi permukiman dan bangunan industri. (SM)