Dunia Industri Terlibat dalam Pendidikan Vokasi

209
Pembina DPD HIMKI DIY Rumekso Setiadi (kanan) menyampaikan paparannya dalam Diskusi 'Implementasi Program Vokasi untuk Penguatan Industri Mebel dan Kerajinan di DIY' di Hotel Grand Palace, Jumat (15/12/2017). (yvesta putu sastrosoendjojo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Dunia industri terus meningkatkan peran sertanya dalam mengembangkan kualitas lulusan sekolah vokasi. Hal itu penting mengingat kebutuhan lulusan yang terampil sesuai kebutuhan pasar semakin besar pada saat ini.

Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) DIY juga berupaya meningkatkan kompetensi para tenaga kerja di sektor industri mebel dan kerajinan. Salah satunya dengan membentuk Forum Vokasi DIY dalam membantu sekolah vokasi menghasilkan lulusan yang terdidik dan terampil.

“Keterlibatan ini muncul karena kami mengalami kesulitan untuk mendapat tenaga-tenaga terampil. Sementara kompetensi lulusan SMK dengan jurusan industri mebel dan kerajinan juga belum terjamin sertifikasinya,” papar Pembina DPD HIMKI DIY Rumekso Setiadi, Jumat (15/12/2017) disela Diskusi ‘Implementasi Program Vokasi untuk Penguatan Industri Mebel dan Kerajinan di DIY’ di Hotel Grand Palace.

Menurut Yoyok-sapaan Rumekso forum tersebut merupakan HIMKI sebagai pelaku industri dengan dunia pendidikan dalam menciptakan ekosistem yang baik dalam mebel dan kerajinan. Selain itu pendidikan vokasi di DIY pun bisa bermanfaat dalam meningkatkan perekonomian daerah.

Apalagi saat ini ada sekitar 150 perusahaan mebel dan kerajinan di DIY yang membutuhkan tenaga terdidik dan terampil mencapai 750-1.000 orang pertahunnya. Di DIY sendiri, sudah ada 14 SMK yang memiliki jurusan mebel dan kerajinan.

Karenanya untuk memaksimalkan kompetensi lulusan SMK tersebut, beberapa perusahaan untuk melakukan pembinaan pada 14 SMK tersebut. Selain itu nantinya akan menyerap lulusan SMK ke dunia industri.

Dalam penerapannya, HIMKI terlibat dalam menyusun kurikulum sesuai kebutuhan dunia industri mebel dan kerajinan sesuai dengan Sistem Kerangka Kompetensi Nasional Indonesia (SKKNI). Asosiasi tersebut juga berencana memberikan sertifikasi kompetensi bagi para lulusan SMK sebagai pengakuan atas kemampuan tiap lulusan.

“Kami bekerjasama dengan Kementerian Perindustrian karena penilaiannya akan mengacu pada skkni. Kami sebagai pengguna tenaga kerja ikut berperan mencetak tenaga,” jelasnya.

Sementara Pembina Forum Vokasi DIY, Gatot Ireng Mujiono mengungkapkan, mereka tidak ingin lulusan SMK justru mendominasi jumlah pengangguran di DIY. Persoalan pembelajaran di sekolah tidak sesuai dengan kebutuhan industri perlu ditangani secara cepat.

“Karenanya kami terlibat dalam penyusunan kurikulum dan menjadi staf pengajar mewakili praktisi,” tandasnya.(yve)