Ekonomi Kreatif DIY Potensial Berkembang

190
Kegiatan Bekraf Digital Entrepreneurship (BDE), Rabu (01/08/2018), di Gallery Prawirotaman Hotel Yogyakarta. Acara ini dihadiri Anggota Komisi X DPR RI, MY Esti Wijayati. (sholihul hadi/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID – Anggota Komisi X DPR RI, MY Esti Wijayati, menyatakan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) merupakan salah satu daerah potensial bagi pengembangan ekonomi kreatif. Pertimbangannya, di provinsi ini setidaknya terdapat 172.230 pelaku ekonomi kreatif.

Hal itu dia sampaikan tatkala menjadi keynote speaker kegiatan Bekraf Digital Entrepreneurship (BDE), Rabu (01/08/2018), Gallery Prawirotaman Hotel Yogyakarta. Acara kali ini digelar oleh Deputi Infrastruktur Direktorat Fasilitas Infrastruktur TIK Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Indonesia.

Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPR RI itu mencatat para pelaku ekonomi kreatif di DIY bergerak di lima subsektor unggulan, meliputi bidang usaha kuliner, kriya, fesyen, penerbitan dan fotografi. “Subsektor kuliner terdapat 105.568 pelaku usaha,” ujarnya.

Sedangkan subsektor kriya terdapat 35.832 pelaku usaha, kemudian subsektor fesyen terdapat 22.500 pelaku usaha, subsektor penerbitan terdapat 3.105 pelaku usaha serta subsektor fotografi terdapat 1.152 pelaku usaha.

Esti mengakui, ekonomi nasional memiliki daya kekuatan baru yang menekankan pada penambahan nilai barang lewat daya pikir kreativitas manusia.

Mengingat ekonomi kreatif menjadi katalisator di tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi global, pemerintah dalam hal ini Bekraf perlu memberikan terobosan serta perhatian lebih, guna memaksimalkan potensi dan peluang ekonomi kreatif di Indonesia.

Sebagai gambaran, PDB Ekonomi Kreatif yang tercipta pada 2015 sebesar Rp 922,59 triliun, setahun kemudian tumbuh 4,95 persen, sedangkan sedangkan ekonomi nasional tumbuh 5,03 persen.

Pada tahun 2017, ekraf tumbuh 5,25 persen melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,07 persen. Di tahun 2018 diperkirakan sebesar 5,6 persen dan ekonomi nasional diperkirakan tumbuh 5,4 persen, berdasarkan UU APBN 2018.

Mengingat strategisnya ekonomi kreatif bagi perekonomian nasional, mantan anggota DPRD DIY ini menekankan pentingnya pelaku ekonomi kreatif memperoleh akses permodalan melalui penyaluran KUR (Kredit Usaha Rakyat), baik itu KUR umum maupun KUR Sektoral atau KUR Ekraf.

“Program ini dilakukan melalui penyusunan kebijakan KUR sektoral dan mendorong pelaku ekraf yang sudah bankable dapat mengakses KUR Umum yang disalurkan melalui bank dan lembaga keuangan yang ditunjuk pemerintah,” terangnya. (sol)