Elit Politik Berebut Suara Milenial

79
Rembuk nasioanal aktivis milenial di UIN Sunan Kalijaga, Sabtu (22/09/2018).  (w asmani/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID – Kaum milenial yang rata-rata adalah pemilih pemula hampir pasti diperebutkan oleh para elit politik pada Pemilu 2019. Faktanya, pemilih yang berusia 17-38 tahun populasinya mencapai 55 persen.

Hal itu disampaikan Ketua Himpunan Aktivis Milenial (HAM) Indonesia, Asep Irama, pada acara rembuk nasional aktivis milenial bertema demokrasi era digital native: nalar kritis milenial untuk Indonesia damai, Sabtu (22/09/2018) di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga.

Karena itu dia meminta mahasiswa jangan bersikap apatis. Ada kesan kaum milenial tidak peduli dengan negeri ini. “Mereka banyak menghabiskan waktu untuk keperluan pribadi, padahal mereka bisa peduli agar negeri ini lebih baik,” ujarnya.

Dia sepakat, generasi milenial perlu berhimpun untuk ikut menyelesaikan persoalan kerakyatan dan kebangsaan.

Baca Juga :  PAN Berebut Kursi Empuk

Apalagi Presiden Soekarno pernah mengatakan 10 pemuda akan mampu mengguncang dunia. “Dari 300 mahasiswa UIN yang memadati tempat ini  tentu saja mampu mengguncangkan dunia,” kata dia.

Salah seorang deklarator, Muafiqul Khalid, mengatakan politik Indonesia telah dipolitisasi oleh golongan serta kelompok tertentu dan itu merusak multikulturalisme.

Jika masalah seperti itu dibiarkan akan menyempitkan golongan tertentu.

Sekretaris HAM Indonesia Muclas Samorano memimpin rembug nasional. (w aswani/koranbernas.id)

Sedangkan Faiz  Rifqy mengatakan peran mahasiswa di kampus  dari zaman orde baru (orba) hingga kini sangat dipertimbangkan, baik segi peran strategis ataupun keilmuan.

Dirinya berharap perguruan tinggi tetap netral dari politik. Karena mahasiswa merupakan generasi emas penerus bangsa. Ketika politik masuk kampus, mereka akan menjadi generasi pragmatis.

Baca Juga :  Tidak Ada Hujan, Air dari Gorong-gorong Meluap

“Jika politik masuk kampus, kita dianggap sebagai generasi pengkhianat kebudayaan, sesungguhnya kita ditunggu sebagai agen perubahan agar bangsa kita lebih baik,” kata dia.

Ahmad Naufel menambahkan, medsos yang berkembang cepat menciptakan ruang yang bisa disebut sebagai demokrasi virtual atau nitizen, bukan civil sosiety.

Dalam kesempatan itu Ahmad Naufel membacakan lima rekomendasi hasil Rembuk Nasional Aktivis Milenial. Pertama, menolak tegas politisasi kampus. Kedua, menolak pemimpin dengan rekam jejak kejahatan HAM masa lalu.

Ketiga, menolak tegas politik identitas dan politisasi agama dan kelima menciptakan ruang publik virtual yang demokratis, santun dan menyejukkan. (sol)