Empat Desainer Siap Tampil di Ajang JHF 2018

Sogan Batik Siapkan Motif Unik tentang Sejarah Islam Nusantara

228
Empat desainer asal DIY siap tampil di ajang Jogja Halal Festival pada 12 Oktober 2018 di JEC. (istimewa)

KORANBERNAS.ID – Jogja Halal Festival atau JHF dijadwalkan berlangsung 12 Oktober 2018 di Jogja Expo Center (JEC). Memeriahkan event tersebut, empat perempuan desainer asal Yogyakarta siap tampil dan mengisi acara talk show bertema Exploring Muslim Fashion Business.

Salah seorang produsen batik handmade khusus muslim/muslimah dari Sogan Batik, Iffah M Dewi, pada pembukaan JHF 2018 secara khusus menyiapkan koleksinya yang bermotif unik.

“Kami menampilkan koleksi busana pria pada saat pembukaan. Sogan Batik juga akan mengisi talkshow Exploring Muslim Fashion Business,” ujar Iffah, Minggu (09/09/2018).

Menurut dia, aksara Jawa akan menjadi ciri khas kemeja pria yang akan ditampilkan nantinya. “Masih tetap dengan koleksi yang bercerita tentang sejarah Islam di Nusantara dan dunia,” kata dia.

Iffah M Dewi bekerja sama dengan desainer lainnya yaitu Mudrika, LuffiVadisa dan Wening. Mereka memiliki harapan besar penyelenggaraan JHF 2018 bisa menjadi salah satu syiar, terutama tentang bisnis yang halal di banyak sektor.

“Tak hanya di Indonesia namun gerakan bisnis halal ini terus berkembang di seluruh dunia,” ungkap Iffah.

Baca Juga :  Ombudsman RI Gandeng Fakultas Hukum UMY

Pada sesi talk show, keempat desainer busana muslim ini akan membahas beberapa hal tentang bisnis fashion muslim.

Iffah M Dewi dari Sogan Batik Indonesia akan memaparkan materi mengenai Instagram marketing for muslim fashion brand.

Mudrika Paradise dari Paradise Batik mengupas materi berjudul how to create a fashion collection concept ideas.  LuffiVadisa mengangkat tentang what, where and how of LUVIA ready to wear production serta Wening membawakan materi how to manage customize fashion line.

Salah satu karya desainer Iffah M Dewi, busana pria yang unik, berkisah tentang sejarah Islam Nusantara dan dunia. (istimewa)

Empat desainer muslim ini sejak awal memang memiliki kesamaan yakni sama-sama mencintai batik terutama batik handmade. Mereka merupakan produsen batik dan ethnic ready to wear.

“Memulai usaha produksi batik tulis pada awalnya bukan pekerjaan mudah, bahkan banyak yang menilai rumit,” cerita Iffah M Dewi tentang proses merintis usaha produksi batik yang penuh liku-liku.

Mulai dari soal meleset warna, belang, malam pecah, lama kering karena hujan hingga salah potong. Selain itu, juga keliru ukuran, reject, complain, margin super tipis bahkan sering minus.

Baca Juga :  198 Siswa Seleksi Paskibraka

“Semua itu ibarat jadi makanan sehari-hari di tahun-tahun awal memulai usaha sampai akhirnya belajar membuat sistem yang lebih teratur,” ungkap Iffah.

Dia menyadari, memang perlu keuletan dan kesabaran menekuni dunia produksi. Proses berproduksi berkelanjutan ini pun bukan tanpa tantangan, meskipun sudah punya dua pabrik, batik dan garment, misalnya.

“Yang tinggal di desa pasti mengetahui bagaimana perjuangan petani, ya mirip-mirip begitulah,” ujar Iffah.

Gempuran produk impor yang membanjiri pasar dalam negeri maupun melalui perdagangan online, membuat produk lokal semakin tergerus jika tidak disikapi dengan strategi dan langkah yang tepat.

Dari data Kadin Indonesia, pada tahun 2018 kontribusi UMKM dalam perdagangan online Indonesia hanya 7 persen. Inilah yang membuat Iffah M Dewi cukup kaget kemudian mengajak para produsen lokal terus bersemangat, fokus perbaikan kualitas dan layanan.

Dia juga mengajak para online marketer untuk tidak meninggalkan produk lokal. “Terus dukung produk Indonesia supaya lebih maju,” kata Iffah seraya mengajak masyarakat DIY hadir dalam ajang @jogjahalalfestival di JEC. (sol)