Enam Pasar Disiapkan Hadapi NYIA

275
Pasar Wates di Kulonprogo, akan direhab dan dikembangkan menjadi pasar induk. (Sri Widodo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID—Di Kulonprogo ada enam pasar akan ditingkatkan kualitasnya. Sementara Pasar Wates akan dikembangkan menjadi semacam pasar induk. Langkah tersebut dalam rangka mengikuti perkembangan yang ada menyusul segera terwujudnya bandara di Temon.

Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kulonprogo, Krissutanto mengungkapkan hal tersebut kepada wartawan Senin (23/04/2018).

Dijelaskannya, enam pasar yang akan ditingkatkan kualitasnya, antara lain Pasar Temon, Pasar Bendungan, Pasar Sentolo, Pasar Brosot, Pasar Jagalan. Disdag menilai pasar-pasar yang ada di Kulonprogo sebelah selatan dan titik-titik jalur menuju NYIA ini perlu pemantapan sarpras.

Revitalisasi dan rehabilitasi pasar akan terus berlanjut, terutama merenovasi bangunan pasar yang masih banjir agar tidak lagi terkesan kumuh dan posisi tempat sampah yang belum sesuai harapan. Langkah ini dilakukan, agar pasar konvensional bersaing dengan pusat-pusat perbelanjaan lainnya.

“Untuk Pasar Wates nantinya harus memenuhi standar SNI. Saat ini Pasar Wates masih belum SNI,” terang Krissutanta.

Disdag akan melakukan modifikasi dengan mempertimbangkan komponen seperti parkir, tempat sampah, toilet, keamanan dan kenyamanan. Menurut dia, luasan pasar mencukupi untuk dilakukan modifikasi.

Baca Juga :  Angkasa Pura Tanggapi Laporan ke ORI

Modifikasi membutuhkan detail desain teknis yang baru. Untuk saat ini Disdag mulai berproses mencari referensi dari sejumlah pasar di luar Kulonprogo. Namun desain bangunan akan tetap mengadaptasi sentuhan tradisi atau budaya Kulonprogo.

“Tahun depan diupayakan sudah ada DED, termasuk di sana nanti dilihat lagi seperti apa nanti zonasi dan penambahan lantai. Target kami kira-kira dua tahun terwujud,” katanya.

Menurutnya Kota Wates sebagai ibu kota kabupaten, ke depan harus memiliki pasar induk. Lewat modifikasi, Pasar Wates menjadi pasar induk dan SNI, diharapkan pasar tersebut mampu menjamin ketersediaan kebutuhan pokok, seiring akan terjadinya lonjakan jumlah penduduk dengan adanya NYIA.

“Itu sebabnya yang ditingkatkan bukan hanya sarpras, Sumber Daya Manusia tapi keseluruhan komunitas perdagangan. Ini harus disikapi, tuntutan masyarakat yang terus berkembang,” kata dia.

Disdag, lanjut Kris, bekerja sama dengan berbagai intansi dan lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Misalnya Dinas Kesehatan untuk pemeriksaan produk jajanan yang dijual pedagang. Dinas Pertanian dan Pangan menyangkut stok beras sayur dan daging. Dan Dinas Kelautan dan Perikanan soal ketersediaan ikan.

Baca Juga :  Tanah Calon Bandara Kulonprogo Diratakan, Warga Tetap Saja Menolak

Sehingga Pasar Wates menjadi pusat perbelanjaan, memenuhi kebutuhan harian dan pokok. Pasar Wates menjadi pusat grosir dan lebih membantu memutar roda perekonomian masyarakat.

Ketua Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kulonprogo, Suharto mendorong dan mendukung rencana pemerintah daerah menjadikan Pasar Wates sebagai pasar induk.

Menurutnya, pasar rakyat yang ada di Kulonprogo masih jauh dari bagus, dan pegadang berjualan setiap pasaran Jawa. Padahal, pasar adalah penggerak perekonomian masyarakat tingkat bawah. Sehingga kalau pedagang hanya berjualan lima hari sekali, tentu tidak akan membawa perubahan.

Pemkab perlu merevitalisasi pasar rakyat supaya lebih nyaman, bersih dan menjadi pusat grosir.

“Kami mendorong pemkab membuat pasar rakyat lebih modern, sekaligus meningkatkan daya beli masyarakat,” terangnya. (SM)