Energi Terbarukan Penuhi Kebutuhan Generasi Milenial

164
Mantan Direktur PT Pertamina Drillung Service Indonesia, Sugeng Riyadi dan narasumber lain menyampaikan paparannya dalam Seminar Nasional "Aplikasi Sains dan Teknologi 2018" di IST Akprind, Sabtu (15/9/2018).(yvesta putu sastrosoendjojo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Pengembangan energi terbarukan mendesak dilakukan. Selain semakin berkurangnya energi fosil, hingga saat ini masih banyak sumber energi terbarukan yang belum dimanfaatkan secara maksimal.

“Padahal Indonesia mentargetkan mampu meningkatkan kapasitas energi terbarukan secara signifikan pada 2025 mendatang,” ungkap Mantan Direktur PT Pertamina Drillung Service Indonesia, Sugeng Riyadi dalam Seminar Nasional “Aplikasi Sains dan Teknologi 2018” di IST Akprind, Sabtu (15/9/2018).

Menurut Sugeng, potensi energi terbarukan yang masih perlu digarap antara lain tenaga air, geothermal, mini hydropower, matahari, angin dan gelombang laut. Dengan teknologi tertentu dan kebijakan terbaik maka berbagai potensi tersebut dapat diolah secara optimal.

Dengan demikian pada 2025 mendatang, penggunaan energi terbarukan bisa mencapai sekitar 15 persen dari total kebutuhan listrik masyarakat. Pemanfaatan minyak pun bisa diturunkan hingga 30 persen dari total kebutuhan.

“Potensi ini dapat terealisasi dengan asumsi semua hambatan dapat teratasi dan negara-negara telah menerapkan kebijakan,” tandasnya.

Baca Juga :  UMY Luncurkan Prodi Program Profesi Insinyur

Sementara Guru Besar Teknik Kimia UGM, Prof Rochmadi mengungkapkan bonus demografi pada tahun 2025-2035 di Indonesia perlu dimaksimalkan potensinya. Hal itu penting agar Indonesia mandiri di segala bidang.

“Apalagi pada saat itu, jumlah penduduk usia produktif cukup besar, yang sebagiannya merupakan generasi milenial dan Z. Saat ini, mereka pada tahap pendidikan dan memasuki dunia kerja, tetapi mereka akan menentukan masa depan Indonesia pada saat mereka memimpin bangsa,” paparnya.

Oleh karena itu, lanjutnya sistem pengembangan SDM melalui pendidikan perlu dirancang dengan tepat, agar dalam memimpin Indonesia, generasi milenial dan Z dapat membawa bangsa Indonesia menjadi mandiri di segala bidang. Filosofi Ki Hadjar Dewantara masih relevan saat ini, yang bisa digunakan sebagai landasan dalam pelaksanaan sistem Pendidikan 4.0. Penjabaran yang lebih detail perlu dilakukan segera.

Baca Juga :  Hasto Duduk Bersila dan Lepaskan Anak Panah

Pemerintah perlu enentukan dasar pendidikan yang sesuai dengan kondisi terkini dengan filosofi Ki Hadjar Dewantara. Sistem ini diarahkan untuk mereka yang sudah siap secara kompetensi dan sikap mentalnya untuk berkembang.

“Selain itu menentukan sistem pendidikan bagi yang masih harus didorong untuk berkembang, karena mereka belum siap sikap mentalnya untuk berkembang dan dididik dengan sistem pendidikan terkini,” tandasnya.

Rektor IST Akprind, Amir Hamzah menambahkan, peru dijalin kerjasama yang sinergis antara Perguruan Tinggi (PT) dengan industri serta pemerintah untuk meningkatkan pemanfaatan hasil penelitian yang dilaksanakan di PT dalam rangka mengaplikasikan hasil-hasil sains dan teknologi untuk meningkatkan kemandirian.

“Sehingga tercipta komunikasi antara akademisi dan peneliti, praktisi industri, perencana, yang mengangkat persoalan-persoalan nyata di bidang sains dan teknologi,” imbuhnya. (yve)