Era Berubah, Penyair Pilih Media Online

426

KORANBERNAS.ID — Antologi puisi berjudul Kepada Hujan Di Bulan Purnama akan diluncurkan pada acara Sastra Bulan Purnama edisi 80, Jumat (04/05/2018) pukul 19:30 di Tembi Rumah Budaya Jalan Parangtritis Km 8,5 Tembi Timbulharjo Sewon Bantul.

Pada buku puisi ini terhimpun 31 penyair dari berbagai daerah di Indonesia. Adapun tajuk Sastra Bulan Purnama edisi 80 ini Satoe Boekoe 31 Penyair.

Salah seorang penyair dari Yogyakarta sekaligus aktor andal, Landung Simatupang, puisinya masuk antologi ini. Penyair lainnya dari Yogya adalah Krishna Miharja, Purwadmadi, Wadie Maharief, Novi Indrastuti, Mustofa W Hasyim, Arief Junianto, Daruz Armedian.

Selebihnya merupakan penyair dari luar Yogyakarta. Sebut saja Aming Aminoedhin dari Surabaya, Ayid Suyitno (Jakarta), Bontot Sukandar (Tegal), Budhi Setyawan (Bekasi), Daladi Ahmad (Magelang),  Dharmadi (Tegal), Dimas Indiana Senja (Banyumas), Edy Pranata (Cilacap), Emy Suy (Jakarta), Heru Mugiarso dari Semarang.

Ada pula Lukas Jono dari Salatiga, Matroni Muserang (Madura), Nella Widodo (Temanggung), Rismuji Raharjo (Bekasi), Sudarmono (Bekasi), Sus S Harjono (Sragen), Suyitno Ethex (Mojokerto), Ummi Azzura Wijana (Magelang), Yanti.S.Sastro (Semarang) dan Yuliani Kumudaswari dari Sidoarjo.

Baca Juga :  Setengah Juta Pil Koplo Diungkap Jajaran Polda

Puisi-puisi ini sebelum diterbitkan menjadi buku telah dipublikasikan di media online tembi.net pada rubrik sastra yang ditayangkan tiap hari Jumat. Dari sejumlah puisi yang dikirim, setelah diseleksi dan ditayang kemudian dikumpulkan dalam satu buku.

Pemimpin Redaksi tembi.net sekaligus Ketua Yayasan Tembi Rumah Budaya, Nuranto,  merasa perlu memberi ruang karya puisi yang banyak ditulis di sosial media.

Ruang publikasi puisi tidak hanya media cetak bahkan bisa dikatakan era media cetak mulai berkurang memberi ruang untuk puisi. “Pada 1970-an sampai 1990-an saya masih melihat puisi mendapat tempat di media cetak. Seiring munculnya media online banyak penyair mempublikasikan puisinya melalui media tersebut. Saya kira itu perlu diapresiasi,” kata Nuranto.

Penerbitan buku puisi dari puisi-puisi yang pernah tayang di tembi.net merupakan penerbitan periode pertama, yang akan dilakukan setiap bulan Mei. Pada periode kedua Mei tahun depan puisi-puisi yang tayang di tembi.net siap diterbitkan lagi.

Baca Juga :  Salut, Para Pemuda Memilih Jadi Petani

“Para penyair yang ingin puisinya diterbitkan dalam bentuk antologi puisi bersama dipersilakan mengirim puisi di tembi.net,” ujar Nuranto.

Pada peluncuran buku puisi Kepada Hujan di Bulan Purnama ini, selain akan tampil para penyair yang puisinya masuk antologi, juga ada lagu puisi oleh Joshua Igo dan Daladi Achmad.

Kelompok Sanggar Lincak dari Fakultas Ilmu Budaya UGM menggarap puisi karya Novi Indratuti menjadi satu pertunjukan. Sedangkan performance puisi dipentaskan oleh Sus S Hardjono.

Koordinator Sastra Bulan Purnama, Ons Untoro, menambahkan para penyair yang puisinya masuk antologi, tidak semuanya pernah tampil di Sastra Bulan Purnama. Yang pasti, mereka telah menulis puisi dan dipublikasikan di sejumlah media cetak maupun online.

“Dari 31 penyair, sebagian besar telah memiliki antologi puisi tunggal, dan semua penyair puisinya sudah masuk antologi puisi di sejumlah antologi puisi yang sudah diterbitkan,” kata Ons Untoro. (sol)