Erupsi Freatik Sulit Terdeteksi

Bisa Menjadi Pertanda Aktivitas Gunung Merapi Selanjutnya

142
Ketua Komisi A DPRD DIY Eko Suwanto memimpin Diskusi Strategi Penanggulangan Bencana, Senin  (04/06/2018). (istimewa)

KORANBERNAS.ID – Erupsi freatik Gunung Merapi sebenarnya juga terjadi pada gunung api lain di dunia. Jenis erupsi ini memang sulit dideteksi dengan beragam peralatan. Dengan kata lain, munculnya selalu tiba-tiba.

Hal itu terungkap dalam Diskusi Strategi Penanggulangan Bencana,  Senin (04/06/2018), di DPRD DIY. Diskusi yang dipimpin langsung Ketua Komisi A DPRD DIY Eko Suwanto dan dimoderatori anggota Komisi A DPRD DIY, Albani, kali ini dihadiri Kepala BPPTKG Dr Hanik Humaida serta Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY, Biwara Yuswantana.

Adapun peserta 150 orang terdiri dari BPBD se-DIY, Kepala Desa dan Lurah, Ketua Desa Tangguh Bencana & Kelurahan Tangguh Bencana di Yogyakarta.

Dalam paparannya, Hanik Humaida menegaskan erupsi freatik bukan bahaya utama yang mengancam jiwa penduduk. Namun, katanya mengingatkan, hal itu bisa menjadi pertanda aktivitas selanjutnya. Itulah sebabnya pemantauan terhadap Gunung Merapi terus dilakukan secara intensif.

Dia kemudian memaparkan kondisi terakhir Gunung Merapi sejak meletus 11 Mei 2018. “Seperti apa Merapi sekarang kita harus mengenali dengan tepat dan menyikapi secara tepat,” ujarnya.

BPPTKG senantiasa melakukan pemantauan dengan beragam peralatan. Hanya saja, erupsi freatik susah dipantau. Jaringan seismik yang dipasang di puncak Merapi pun lebih dari 30 jumlahnya.

Freatik memang tidak disertai peringatan mengingat peralatan yang terpasang untuk deteksi desakan magma dari dalam. Adapun suara gemuruh atau shock wave yang terasa kuat itu berasal dari suara gas.

Baca Juga :  Tangan Boimin Bergetar Didatangi Polisi

“Tiltmeter terdekat 1 km dari puncak. Tak ada sinyal tiga hari sebelum letusan. Erupsi berikutnya malah tidak memberikan sinyal. Peralatan yang paling dekat pun tidak bisa mendeteksi. Di negara lain juga sulit,” kata dia.

Gunung api lain di dunia juga sulit dipantau saat mengalami letusan freatik. Hingga saat ini tercatat 115 letusan freatik di dunia dan 16 persen kasusnya tidak terdeteksi di awal . Sedangkan letusan freatik dengan korban jiwa 40 orang terjadi di Ontake pada 2014.

BPPTKG juga memasang peralatan di Imogiri Bantul. “Kita juga memasang sistem GPS di Imogiri. Contohnya, setelah 1 Juni ada tremor ternyata itu gelombang pasang di laut. Datanya terekam juga di Imogiri,” ungkap Hanik.

Sebagai gambaran, volume material Merapi yang terlontar pada letusan 11 Mei dengan kolom 5,5 km volumenya 30 ribu meter kubik. Perbandingannya, pada erupsi 2010 terlontar 130 juta meter kubik.

Hanik Humaida kemudian menggambarkan skenario ke depan sejak Gunung Merapi berstatus Waspada, dengan mengacu data-data erupsi besar tahun 2010 kemudian tahun 1872 atau 1930 dan tahun-tahun sebelumnya.

“Di antara erupsi besar ada pembentukan kubah lava, ciri khas Merapi adalah dome awan panas. Inilah karakter Merapi. Sisa kubah lava mengalami proses penghancuran, setelah kosong kubah lava terisi. Kubah saat ini gejalanya belum muncul,” kata dia.

Skenario yang lain, kubah lava kemungkinan runtuh. “Kita sekarang di fase awal penghancuran kubah lava jika runtuh maka menghasilkan awan panas,” tambahnya.

Baca Juga :  Kota Tanpa Kumuh Karangwaru Juara Nasional

Dalam kesempatan itu Eko Suwanto mengatakan, keberadaan Desa Tangguh Bencana (Destana) serta Kelurahan Tangguh Bencana (Katana) harus bisa memberikan kesadaran penanggulangan bencana. Termasuk pemanfaatan fasilitas untuk penanggulangan kebencanaan.

“Hadirnya destana dan katana, kita harapkan bisa untuk memberikan pendidikan bagi masyarakat soal penanggulangan bencana termasuk fasilitasi peralatan,” kata dia.

Terkait dengan tata kelola ke depan, politisi muda PDI Perjuangan dapil Kota Yogyakarta ini mengingatkan perlunya penyelarasan perencanaan pembangunan dan penganggaran Destana, Katana, Kampung Siaga Bencana, KTB, SSB termasuk perawatannya.

Menurut dia, masyarakat juga perlu berperan serta, aktif dan bergotong royong saat menghadapi bencana, supaya bisa segera bangkit dari keterpurukan.

“Khusus menghadapi risiko bencana Gunung Merapi, kita dukung pemda DIY melakukan konsolidasi menyeluruh membantu masyarakat,” kata Eko Suwanto.

Biwara Yuswantana mengakui, keberadaan destana seolah-olah antara ada dan tiada. “Alat-alat untuk dapur umum destana disimpan di mana? Kenapa seperti ada dan tiada apakah ganti orangnya?” ujarnya setengah bertanya dan bercanda.

Prinsipnya, selain early warning system (EWS) keberadaan destana dan katana merupakan bagian dari upaya mengurangi kerugian dan kerusakan infrastruktur akibat bencana.

Sekolah pun, lanjut dia, juga perlu siaga bencana. Di sinilah pentingnya peran segitiga pemerintah, masyarakat dan dunia usaha bersama-sama melakukan upaya pengurangan risiko bencana. (sol)