Erupsi Merapi dan Kebaikan Hujan

MENGUKUR – Anak-anak desa Bunder belajar mengukur air hujan. (Foto: Raka Setiaji/Dok. Labora Udan Muntilan/Koran Bernas)

SPIRIT back to nature pada dasarnya adalah back to water. Karena tanpa air tidak ada kehidupan seperti di bulan, planet tetangga terdekat bumi. Air merupakan faktor konstitutif kehidupan. Air adalah sumber kehidupan. Lebih spesifik lagi, air adalah penentu ada dan tidaknya kehidupan.

Air hujan adalah salah satu sumber kehidupan di bumi ini, selain air dalam tanah, danau, sungai dan lautan. Hujanlah yang rutin memasok air ke dalam tanah, danau, sungai dan lautan mahaluas. Siklus air di planet bumi sudah berlangsung jutaan tahun yang lalu sampai sekarang di zaman pemanasan global, yang makin  lebih banyak hujan. Wonosari –yang selama ini identik kurang air– pun banjir.

Saya tidak pernah mengerti mengapa ada asumsi seperti ini:

Pertama, air hujan tidak dikatagorikan sebagai air tawar, sehingga tidak dipilih sebagai bahan baku air bersih untuk konsumsi minum, masak, mandi, dan sebagainya. Kalau pun masyarakat di  Kalimantan, Papua, Sumba, Sumatra, bahkan di Jawa (Wonosari dulu), lereng Merapi Timur, Kabupaten Klaten, menggunakan air hujan, namun di lubuk hatinya penuh perasaan sangat terpaksa. Bahkan batin pun tersiksa jika berjumpa dengan masyarakat lain yang menggunakan air tanah, dalam kemasan pabrik lagi.

Kedua, masyarakat awam nampaknya kurang tepat memahami hasil penelitian para ahli lingkungan mengenai pencemaran udara yang disebut-sebut menyebabkan hujan asam. Akibat persepsi hujan asam itu, semua air hujan dibuang semuanya dan secepatnya ke sungai menuju lautan.

Spirit ekologi back to nature is back to water (bahkan rain water), mengundang kita untuk belajar kembali mencermati air hujan dan kehidupan empirik di sekitar kita. Semoga negatif thinking terhadap air hujan berubah menjadi “titik balik evolusi budaya hujan.” Dari sikap membuang-buang, menghina dan menistakan, mereka yang terpaksa menggunakan air hujan, berbalik menjadi air hujan untuk manusia. Air tanah untuk makhluk tak berakal budi, dan untuk tanah daratan bumi di mana kita berpijak ini, agar tidak makin panas. Suhunya terjaga untuk kelanjutan kehidupan semua makhluk di bumi ini.

Tidak selayaknya dan tidak beretika ekologi jika manusia berebut air tanah dengan sesama manusia (perang air?), bahkan dengan makhluk tak berakal budi.

Pelajaran Erupsi Merapi

Tanggal 3 November 2010, sekitar pukul 11.00 WIB, Merapi erupsi. Awan panas yang disebut wedhus gembel itu bergulung-gulung ke arah Kaliadem, Sleman, namun angin bergerak ke arah barat. Maka langit Merapi sisi barat makin gelap. Abu dan pasir tertiup ke arah barat.

Baca Juga :  Keluarga Alex dan Mukjizat Air Hujan

Sekitar pukul 14.00 WIB, sisi barat Merapi turun hujan deras. Saya mengamati air hujan di atap genting gereja Sumber. Begitu air sampai kolam kecil lho…. keruh sekali. Demikian juga air di saluran irigasi sawah. Tadi pagi masih jernih, khas air gunung Merapi. Jadi, letusan Merapi siang itu dibarengi turunnya air hujan yang deras.

Bayangkan saja, kalau letusan itu tidak bersamaan dengan hujan deras. Kemungkinan udara gelap sekali. Zaman dulu, simbah menyebutnya “coblong”, artinya siang hari tetapi gelap total.

Tidak hanya gelap, tetapi pasti mengakibatkan gangguan pandangan, pernafasan, dan aktivitas di luar rumah hingga kesehatan. Maka orang Merapi barat, khususnya kecamatan Dukun dan Srumbung yang berjarak sekitar 7 km dari puncak Merapi, berucap “syukurlah hujan baik hati,” (Jw. Udane apikan.) Letusan tanggal  3 Nopember itu, –dan seterusnya sampai 6 Nopember 2010–, selalu dibarengi dengan hujan. Abu dan pasir di udara langsung terlarut oleh hujan.

Memulihkan Kehidupan

Selama bulan Nopember 2010 sampai Maret 2011, Merapi masih terus melontarkan abunya. Sekali lagi hujan itu “baik hati.” Abu dan air hujan saling mengikat. Memang tetap mengganggu irama hidup harian di sekitar Merapi, baik karena seringnya hujan maupun turunnya lahar hujan luar biasa yang merusakkan banyak jembatan dan ratusan rumah penduduk Jumoyo dan Sirahan, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang.

Namun demikian, ketika menengok bentang alam lereng Merapi, kekaguman pun timbul. Pertumbuhan rumput, semak-semak hutan hingga budidaya pertanian sayuran, sangatlah cepat. Yang tadinya layu, meranggas, hingga kering dan mati, kembali hijau dengan warna segar. Hijau muda yang menawan, berbeda dengan hijau daun pada hari-hari sebelum erupsi.

Dalam jangka delapan bulan setelah erupsi, kesuburan Merapi dengan warna hijau segala tumbuhan, sudah pulih. Pertanian pun sudah kembali normal. Bayangkan kalau tidak ada hujan. Erupsi Merapi sedahsyat itu sekaligus menunjukkan “kebaikan” air hujan.

“Rain Plus”

Merapi melontarkan abu dan pasir. Air hujan menetralisirnya. Campuran abu dan air dari langit hasil penyulingan alam itu dengan mudah diserap oleh segala tumbuh-tumbuhan di lereng Merapi. Hutan semak-semak dan rerumputan, baik di wilayah Kabupaten Magelang, Sleman maupun Klaten, jauh lebih rimbun dibanding sebelum erupsi 2010. Itu semua karena faktor air hujan. Maka sisi “kebaikan” alamiah air hujan janganlah dilupakan, apalagi dinistakan sebagai air kotor, menimbulkan bencana dan mengganggu irama hidup harian kita. Mari kita hormati dengan memberi nama rada keren, “Rain Plus.”

Baca Juga :  Merdeka dengan Air Minum Tirta Amerta

Apa saja “plus”-nya? Inilah yang menarik sekali dipelajari dengan bantuan alat-alat ukur air, ilmu pengetahuan biologi dasar, kimia air, dan sebagainya. Tidak cukup hanya dengan membaca literatur buah penelitian para pakar maupun buku-buku ajar di sekolah. Perlu disempurnakan dengan melakukan banyak eksperimen air hujan untuk apa saja. Dari sana kita akan mendapat pengetahuan yang bermanfaat nyata. Ngelmu iku kelakone kanthi laku.

Pelajaran dari pohon sirih

Dalam pertemuan diskusi “komunitas hujan Semarang” beberapa bulan lalu, Pak Thomas, dosen Unika Soegijapranata Semarang, menceritakan pengalamannya bereksperimen. Yaitu, menanam dua pohon sirih dalam dua pot yang sama, tanah dan pupuk yang juga sama. Bedanya, yang satu disirami dengan air hujan dengan TDS (Total Dissolved Solid) sekitar 30-40 ppm. Pot yang satu lagi disirami dengan air tanah dari sumur dengan TDS sekitar 200 ppm. Apa yang terjadi?

Sirih yang disiram air hujan tumbuh lebih cepat dengan warna hijau daun yang lebih segar. Sedangkan yang disiram dengan air tanah dari sumur, tumbuh lebih lambat. Warna daun hijau tua, pucat.

Pak Thomas pun menarik pelajaran biologinya demikian: “Metabolisme” pohon sirih lebih baik dengan air hujan. Nutrisi lebih mudah terserap ke sel-sel tanaman sirih dibanding air tanah dari sumur yang tinggi TDSnya.

Pak Thomas beranggapan bahwa dari sudut peran dan fungsi air, metabolisme kehidupan tubuh manusia tidak berbeda jauh dengan tanaman sirih tadi. Maka pak Thomas berani memilih air hujan untuk bahan baku air minum yang diproses secara elektrolisis. Singkat cerita, setahun mengonsumsi air hujan, dosen yang sudah menggunakan satu ring jantung itu, merasa lega karena hasil tes lab darah, urin, feses dan kesehatan jantungnya normal. Pak Thomas sudah merasakan “Rain Plus.”

Masih banyak hal bisa dicoba untuk merasakan “Rain Plus”. Masyarakat suka minum kopi ataupun minuman kesukaan yang lain, silahkan mencoba menggunakan air hujan. Apakah akan ada rasa berbeda dengan menggunakan air tanah? Siapa tahu, rasa kopinya lebih muncul dominan menggunakan air hujan, air suling alami. Kekayaan alam berlimpah yang masih disia-siakan. Jangan khawatir dengan kemungkinan ada kuman jahat dalam air hujan. Ketika dimasak sampai mendidih, kuman-kuman tidak tahan hidup. Jadi amanlah…. *** V. KirjitoTinggal di Jagalan, Muntilan.

 

(Tulisan ini juga dimuat di Koran Bernas versi cetak, edisi 27 April – 13 Mei 2018)