Festival Kue Bulan Pererat Jalinan Kebhinekaan

295
Pagelaran baraongsai yang memeriahkan acara Festival Tiong Ciu 2017 di Klenteng Poncowinatan. (Rosihan Anwar/KoranBernas.id)

KORANBERNAS.ID — Meskipun sempat diguyur hujan deras, Perayaan Tiong Ciu atau Festival Kue Bulan 2017 kembali digelar dengan meriah, Rabu (4/10) malam, di pelataran Klenteng Tjen Ling Kiong Kelurahan Poncowinatan Kota Yogyakarta. Dalam perayaan ke 10 yang digelar klenteng tersebut, festival yang dikelola oleh Jogja Chinese Art dan Culture Center (JACC) ini juga ikut merangkul Forum Persaudaraan Umat Beriman (FPUB) dan 14 organisasi masyarakat Tionghoa, serta dibukanya stan umum bagi masyarakat Yogyakarta.
Jimmy Sutanto, Ketua I JCACC yang juga panitia penyelenggara festival mengungkapkan lewat digelarnya Festival Tiong Ciu, JCACC ingin mempopulerkan ragam budaya Tionghoa kepada publik.
“Tujuannya ya untuk memperkenalkan seni budaya Tionghoa, sehingga warga Jogja khususnya, tidak terkotak–kotak, bisa menerima seni budaya ini sebagai bagian dari seni budaya Nusantara,” jelas pengusaha yang malam itu tak sungkan menjadi panitia penyelenggara.
Jimmy Sutanto menambahkan, malam perayaan Tiong Ciu juga menjadi semacam festival reuni bagi para perantau yang rindu akan keluarganya. Dia berharap, dari kegiatan malam ini dapat menjadi ajang untuk mensyukuri berkah dari sang pencipta sekaligus menikmati bulan purnama.
“Ya ini juga menjadi pernyataan rasa syukur kami atas karunia dari Tuhan YME,” tuturnya.
Wakil Walikota Yogyakarta, Heroe Purwadi berharap, acara ini dapat menumbuhkan rasa saling mendukung, toleran dan gotong royong sehingga tetap berhati nyaman sesuai dengan semboyan Kota Yogyakarta.
Selain itu, Koko Cici Jogja 2017 pun ikut memeriahkan acara ini, sebagai Duta dari pemuda Tionghoa, mereka berharap acara ini dapat menjadi ajang pengenalan budaya Tionghoa kepada masyarakat umum. Cici Jogja 2017 Lydia Vanessa menambahkan, kegiatan ini merupakan cara memperlihatkan kekhasan budaya diantara keberagaman budaya yang ada di Indonesia.
“Kita lihat sendiri kan, Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa dan budaya. Nah di sini, kita harus menunjukkan bagaimana kita bisa bekerjasama, karena perbedaan itu yang menjadi kekuatan kita,” ujar Lidya.
Festival Kue Bulan bukan hal yang asing bagi etnis Tionghoa. Di negeri asalnya, Tiongkok, festival ini menjadi perayaan istimewa dalam menyambut musim gugur. Festival Kue Bulan dirayakan setiap tahun tanggal 15 bulan delapan menurut perhitungan kalender lunar China (Imlek) dan pada tahun ini bertepatan pada 4 Oktober 2017.
Perayaan yang mengangkat tema mengenai pengenalan budaya tionghoa ini mempersembahkan hiburan utama dari Jogja Chinese Art dan Culture Center, diantaranya Liong samsi Putra dan Putri, Fragmen Drama “The Legend of Moon Goddness”, lelang amal Kue Bulan dan buah–buahan serta penampilan spesial barongsai LED dari Ambarawa. (ros)

Baca Juga :  Sinergiskan SDM, STTNAS Gelar "Employee Gathering"