FKY Resmi Ditutup, Pentas Seni Jalan Terus

204
Pentas seni di Alun-alun Wates Kulonprogo dalam rangka FKY. Meski acara ini resmi ditutup tapi pentas seni jalan terus. (sri widodo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) di Kulonprogo secara formal ditutup Sabtu (12/08/2017) malam di Alun-alun Wates, namun pelaksanaan kegiatan pentas seni budaya masih terus berjalan hingga jelang akhir Agustus ini.

Kepala Dinas Kebudayaan Kulonprogo Untung Waluya mengatakan, FKY Kulonprogo tahun ini berbeda dengan tahun lalu. Ada hal-hal baru dimunculkan. “Sebenarnya bukan hal baru, namun kesenian lama dibangkitkan kembali untuk tujuan mendukung pendidikan karakter bagi generasi muda dan masyarakat. Misalnya Langen Carita,” ujarnya.

Langen Carita yang mengangkat kisah kepahlawanan atau cerita lainnya itu dibawakan oleh para siswa dan siswi. Pelaku seni maupun penonton dibawa ke semangat kepahlawanan dan cinta Tanah Air.

Kegiatan seni juga digelar di daerah pelosok perbatasan, berbeda dengan sebelumnya yang hanya sering dilakukan di pusat-pusat kota saja. Ini dimaksudkan untuk mengangkat potensi seni budaya kawasan perbatasan.

“Festival Nglarak Blarak, misalnya, dengan inovasi tertentu, budaya olahraga tradisional yang sudah lama ada itu dikemas menjadi olahraga seni yang sangat menarik” terang Untung Waluya.

Wakil Bupati Kulonprogo Sutejo yang menutup dengan resmi FKY Kulonprogo minta agar pembaruan FKY tahun ini dikembangkan lagi tahun berikutnya.

“Nomenklaturnya sekarang lebih luas, yaitu Festival Kebudayaan, bukan sekadar kesenian saja. Karena ini merupakan awal maka ke depan harus ada penyempurnaan,” ujarnya.

Sutejo mengapresiasi semangat kelompok kelompok seni budaya di Kulonprogo. Seni dan budaya menjadi bagian kehidupan positif di masyarakat. “Kegiatan ini bagi kemajuan Kulonprogo akan seiring dengan kegiatan bidang lainnya. Sehingga ada sinergitas semua bidang yang semuanya dapat mengarah menjadi suatu potensi sosial maupun ekonomi,” katanya.

Dengan adanya bandara, seni dan budaya dapat menjadi kekuatan ekonomi dan kekuatan kepribadian bangsa. “Seni budaya yang positif dapat menjadi benteng terhadap pengaruh budaya dari luar yang tidak cocok dengan kepribadian bangsa Indonesia, terutama budaya Yogyakarta,” ujar Wabup.

Pada penutupan FKY yang berlangsung semarak itu dinampilkan berbagai seni hiburan. Antara lain sendratari kolosal, wayang hip hop, keroncong, musik Koes Plusan dan lainnya. (wid)