Gado-gado Ini Jadi Legenda Pasar Beringharjo

399
Gado-gado Bu Hadi di Pasar Beringharjo Yogyakarta jadi legenda dan tetap buka di lantai dua pasar tersebut. (arie giyarto/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Di Pasar Beringharjo Yogyakarta lama,  dulu ada gado-gado sangat terkenal. Warung itu berada di tempat sangat sederhana dekat penjual minyak kelapa pintu masuk dan keluar pojok timur selatan.

Karena dekat dengan minyak, jadi kesannya sedikit kumuh. Waktu itu Beringharjo masih sederhana. Bangunannya baru satu lantai.

Meski begitu pembeli rela antre jika tempat duduk penuh. Maklum hanya tersedia tiga bangku namun nyaman bila masing-masing dipakai tiga orang saja. Jika lebih dari itu, saat makan kadang-kadang sikut saling bersentuhan.

Apa yang membuat orang rela antre membeli gado-gado Bu Hadi? “Karena rasanya memang enak luar biasa,” kata Ny Dien, seorang pelanggannya menjawab pertanyaan koranbernas.id, Sabtu (24/03/2018) siang.

Sejak Beringharjo direnovasi, banyak pelanggan kehilangan lacak. Tidak tahu di mana warungnya berada bahkan termasuk Ny Dien pun menganggap sudah tidak berjualan lagi.

Ternyata gado-gado Bu Hadi sampai sekarang masih buka. Usaha ini diteruskan salah seorang putrinya yakni Ny Sari. “Masih tetap dengan cita rasa lama karena istri saya tetap menggunakan resep swargi ibu,” kata suami dari Ny Sari kepada koranbernas.id.

Ketika wartawan koran ini melacak ke sana, di lantai dua seberang utara Masjid Muttaqien yang berdampingan dengan penjual nasi empal, tampak ada tiga pembeli sedang makan di sana. Meski pembelinya tidak seperti dulu, tetapi terus datang dan pergi bergantian.

Menyusul dua wanita, Sulis dan Siti membeli empat bungkus gado-gado. “Ini membelikan untuk bos saya yang memang penggemar,” kata Siti.

Dua karyawati agen sepatu di Jalan Sonosewu tersebut mengatakan meski saat ini banyak penjual gado-gado, tetapi bosnya tetap minta gado-gado Bu Hadi.

Gado-gado Bu Hadi. (arie giyarto/koranbernas.id)      

Nostalgia

Kios gado-gado Bu Hadi ini ditangani Ny Sudiyah untuk operasional sehari-hari. Menurut dia, banyak pelanggan lama yang tetap setia. Tidak hanya dari wilayah Jogja tapi juga datang dari berbagai kota seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang.

Sebagian mereka menjadi pelanggan saat masih kuliah di Jogja dan kini sudah jadi pejabat di berbagai kota. Kadang-kadang datang berombongan.

Suasana nostalgia dan kerinduan menikmati gado-gado yang citarasanya masih seperti dulu itulah yang mengikatnya untuk datang lagi saat mereka berada di Yogyakarta.

Ny Sari merupakan generasi ketiga keluarga penjual gado-gado ini. Menurut Sudiyah, generasi pertama diawali Bu Redjo (nenek), kemudian Bu Hadi (ibu) dan dilanjutkan Ny Sari sebagai generasi ketiga.

Bumbunya tetap sama dengan bumbu yang dibuat generasi pertama dan kedua. Manis, asin dan sedikit asam oleh rasa cuka yang menjadikan bumbu terasa segar. Kecapnya juga tetap lestari menggunakan kecap cap Gentong.

Sayurannya pun tetap seperti dulu. Taoge, kubis, daun selada, mentimun, kentang, tahu, telur dan tomat. Ditambah ketupat serta emping dan kerupuk udang sebagai pelengkapnya.

Ciri khas yang juga tetap dipertahankan adalah sayuran selalu fresh. Merebus sedikit-sedikit, bila hampir habis baru menyiapkan lagi. Bila Anda ingin bernostalgia dengan es kopyor asli, sirupnya pun tetap serasa seperti dulu.

Lapak ini buka mulai pukul 09:00 dan tutup sampai Asyar. Biasanya ramai saat makan siang.

Apakah Anda termasuk salah seorang penggemar lama gado-gado Bu Hadi? Pasti usia Anda paling tidak sudah  kepala empat. Siapa tahu Anda tertarik  berburu ke Pasar Beringharjo. (sol)