Gambaran di Cupu Panjolo Membuat Peziarah Ngeri dan Miris

898
Cupu Panjolo yang dibungkus ratusan kain kafan di buka di rumah ahli waris Dwijo Sumarto, Padukuhan Mendak Desa Girisekar Kecamatan Panggang, Gunungkidul, Selasa Kliwon (17/10/2017) dinihari. (st aryono/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Acara ritual pembukaan kain kafan pembungkus Cupu Kiai Panjolo yang selama ini dipercaya bisa meramal berbagai peristiwa penting yang akan terjadi dalam setahun mendatang, berlangsung di rumah ahli waris Dwijo Sumarto, Padukuhan Mendak Desa Girisekar Kecamatan Panggang, Gunungkidul, Selasa Kliwon (17/10/2017) dinihari.

Disaksikan ribuan peziarah yang datang dari berbagai wilayah, ratusan kain kafan yang membungkus Cupu Panjolo, menorehkan gambar yang bisa diartikan sebagai pertanda peristiwa yang akan terjadi setahun mendatang. Bisa terjadi di tingkat lokal maupun nasional, pada ranah ekonomi, politik hingga kamtibmas.

Berdasarkan gambar yang muncul, nampaknya pada tahun 2018 akan ada peristiwa besar yang akan mempengaruhi beradaban manusia. Kejadian itu lebih banyak dipengaruhi oleh nafsu kekuasaan, hingga menimbulkan banyak korban.

Hal ini sesuai dengan gambar pada kain kafan pembungkus cupu, diantaranya gambar payung terbalik yang menggambarkan penguasa yang tidak bisa mengayomi rakyatnya, dan gambar tokoh wayang Dasamuka yang merupakan raksasa identik dengan keserakahan dan mementingkan duniawi.

Ribuan peziarah yang menyaksikan acara ritual ini sempat “miris” atau ngeri dengan munculnya gambar terhadap prakiraan peristiwa yang akan terjadi setahun mendatang. Karena banyak gambar mengerikan tertoreh di kain kafan Cupu Panjolo, diantaranya  gambar kuda dengan mulut terbuka, kalajengking, gambar Batara Guru dan tokoh wayang Narada.

Hanya saja yang melegakan dengan munculnya gambar tokoh wayang Semar yang dikenal sebagai tokoh  yang akan menentramkan masyarakat. Para peziarah sempat bertanya-tanya peristiwa besar yang akan terjadi setahun mendatang.

“Terus terang saya miris melihat isi cupu ini. Nantinya akan ada kejadian buruk apa,” kata Sumijan salah satu warga Pleret, Bantul yang mengikuti acara ritual sejak sore hingga dinihari.

Ahli waris Cupu Kiai Panjolo, Dwijo Sumarto ketika ditemui seusai acara ini, tidak bersedia banyak komentar. “Saya hanya berharap setahun mendatang Yogya khususnya dan Indonesia pada umumnya  tetap aman dan tenteram,” katanya singkat  sambil menarik nafas panjang.

Dwijo Sumarto juga mengaku tidak punya kewenangan untuk mengartikan berbagai gambar yang muncul pada kain pembungkus cupu. “Semuanya kami serahkan pada masyarakat, bagaimana akan mengartikan. Saya terus terang tidak berani mengartikan gambar-gambar itu. Karena gambar itu tergantung bagaimana mengartikan masing-masing orang,” tambahnya.

Setelah sekitar 400 lembar kain kafan pembungkus cupu Kiai Panjolo dibuka, maka terlihat posisi 3 buah cupu yang berada dalam kotak. Saat pembukaan posisi cupu Semar Kinandu, dan Palang Kinantang, dalam posisi tegak, namun yang paling kecil Kentiwiri posisi miring arah baratdaya. (SM)