Gandung Tegaskan Tak Ingin Berkuasa Lagi

314
Gandung Pardiman dilantik menjadi Ketua Dewan Pertimbangan DPD Partai Golkar DIY, Minggu (03/12/2017).

KORANBERNAS.ID – Ketua DPD Ormas MGKR DIY yang juga Ketua Dewan Pertimbangan DPD Partai Golkar DIY, Drs Gandung Pardiman MM, menegaskan dirinya tidak ingin berkuasa lagi.

Suara keras ke arah perubahan partai dan desakan ke arah Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) semata-mata untuk penyelamatan partai.

Berpidato pada Pelantikan Dewan Pertimbangan DPD Partai Golkar DIY, Minggu (03/12/2017) di Graha GPC Karangtengah Imogiri Bantul, di hadapan Ketua Dewan Pertimbangan DPP Partai Golkar Akbar Tanjung serta Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat, Dedi Mulyadi, lebih lanjut Gandung menyatakan langkah-langkah yang diambilnya bukan untuk mencari kekuasaan.

“Saya menggerakkan ini bukan saya ingin berkuasa lagi. Ini penting. Saya tidak ingin Golkar menjadi dinosaurus bagi anak-anak kita. Munaslub lebih cepat lebih baik,” tandasnya.

Untuk itu, dia merencanakan dalam waktu dekat menggelar doa bersama untuk keselamatan Partai Golkar, sekaligus dalam rangka mendukung Airlangga Hartarto maju ke munaslub yang dijadwalkan digelar di Yogyakarta pada pertengahan Desember 2017.

Doa bersama  ini diinisasi oleh Al Hidayah, salah satu sayap Golkar, dengan mengundang seribuan orang termasuk ketua umum Al Hidayah.

Mantan anggota DPRD DIY dan DPR RI ini mengajak para anggota dewan ikut memberikan dukungan. “Kalau saya sendiri yang masuk surga, kan nggak lucu. Sing isa ndonga, ndongaake, ra sah nyacat,” ujarnya disambut tawa.

Akbar Tanjung mengakui, Partai Golkar saat ini dalam tekanan berat. Seperti dulu, semua kesalahan ditimpakan ke Golkar karena partai inilah yang pegang peran utama pemerintahan.

Dengan perubahan melalui munaslub diharapkan Golkar menjadi partai yang mandiri, demokratis, terbuka dan memperoleh dukungan rakyat.

Sedangkan Dedi Mulyadi mengatakan, cobaan yang dihadapi saat ini merupakan bentuk rasa kasih dan sayang dari Allah SWT agar para kader mengubah diri.

“Perilaku kader jangan mewah. Kita diingatkan, sing sadhar dan jangan kemaruk. Ini hikmah. Saya juga dikasih hikmah tidak mendapatkan rekomendasi (sebagai calon gubernur Jawa Barat), di saat yang lain menangis saya hanya tersenyum. Rekomendasi gubernur tidak penting, nanti baru penting,” ujarnya.

Menurut dia, Golkar adalah parpol masa depan, bukan milik personal atau pemodal besar melainkan milik orang-orang pinggiran. Modal besar terbukti  tidak mampu membesarkan partai.

“Kita harus mengubah gaya, seperti Pak Jokowi, dan mengubah paradigma. Boleh kaya tapi jangan dipertontonkan. Setiap Minggu kita perlu turun membangun rumah warga miskin kemudian di-posting, pada malam Minggu mendatangi janda-janda kemudian di-posting, kalau mendatangi janda muda jangan diposting,” kelakarnya. (sol)