Gara-gara Pasir, Jembatan Luk Ulo Terancam Ambrol

155
Penambangan pasir ilegal di hilir Sungai Luk Ulo selatan jembatan Jalan Lintas Selatan Selatan masih terus dilakukan meski membahayakan jembatan Luk Ulo. (nanang wh/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID— Penambangan pasir ilegal di Desa Tanggulangin, Kecamatan Klirong, Kebumen dan Desa Ayam Putih, Kecamatan Buluspesantren mengancam keberadaan dua jembatan di hulu dan hilir Jembatan Luk Ulo. Lokasi penambangan kurang dari 1000 meter di hilir kedua jembatan itu dikhawatirkan bisa menggerus air dibawah jembatan.

Meskipun volume penambanganya tidak sebesar penambangan pasir illegal di hulu Sungai Luk Ulo di Kecamatan Karangsambung, Kebumen, penambangan itu mengancam keberadaan jembatan Luk Ulo di jalan Lintas selatan atau Jalan Dandels (JLS) dan Jalan Lintas Selatan Selatan/jalan pantai selatan Jateng (JLSS). Kedua jembatan itu menghubungkan Kecamatan Klirong dan Kecamatan Buluspesantren.

Pengamatan koranbernas.id pekan lalu menunjukkan, penambangan pasir dilakukan dengan cara manual. Penambangan dengan cara menyelam dan mengambil pasir di dasar sungai Luk Ulo masih berlangsung. Ada belasan penambang pasir yang memanfaatkan lokasi tambang untuk sumber penghidupan mereka. Mereka menggunakan perahu jukung untuk menuju dan menampung pasir hasil penambangan di tengah sungai

Baca Juga :  Bila Bapak-bapak Lomba Masak, Mi Kuah Berubah “Nyemeg”

Pemkab Kebumen pada tahun 2016 pernah berupaya mengalihkan pekerjaan mereka menjadi pelaku wisata. Perahu jukung yang selama ini untuk menambang pasir dialihkan menjadi perahu wisata. Festival Luk Ulo digelar sebagai salah satu cara mengalihkan pekerjaan mereka. Namun upaya itu tidak berkelanjutan. Tidak ada pembinaan terhadap mereka. Standar keselamatan perahu wisata tidak menjadi perhatian Pemkab Kebumen.

Dimintai tanggapan Selasa (18/9/2018), Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 12, pada Satuan Kerja Pelaksana Jalan Nasional (Satker–PJN) Wilayah 2 Jawa Tengah, Andi Nugroho Jati mengatakan, akibat dari penambangan pasir kurang dari 1.000 meter arah hilir jembatan membahayakan konstruksi bawah jembatan. Sebab pasir dibawah jembatan bisa berpindah ke tempat lebih rendah di lokasi penambangan. Akibatnya bisa mengurangi daya jepit tiang pancang jembatan.

Baca Juga :  Angin Kencang di Banguntapan Sebabkan Pohon Tumbang dan Rumah Jebol

Satker PJN Wilaya 2 Jateng telah beberapa bersurat ke Pemkab Kebumen agar dilakukan relokasi penambangan. Surat pemberitahuan yang ditembuskan ke Satuan Polisi Pamong Praja Kebumen sudah direspon dengan melakukan razia. Namun penambangan tumbuh lagi setelah tidak ada razia. Perlu ada penegakan hukum hingga penambangan tidak berlanjut.(yve)