Gara-gara Pil Sapi, Sopir Travel Ini Dibekuk Petugas

Istimewa

430

KORANBERNAS.ID—Ulah Asl (24 tahun), warga Jomblangan, Banguntapan, Bantul terbilang nekat. Berprofesi sebagai sopir travel, rupanya belum membuat Asl puas. Ingin mendapatkan uang lebih mudah, mantan narapidana ini sekaligus mengedarkan prikotropika, salah satunya jenis Pil Sapi.

Pil sapi bukan pil yang digunakan untuk mengobati sapi. Pil sapi dikenal sebagai obat penenang, yang biasa disalahgunakan untuk teller atau mabuk.

Pil putih berlogo Y tersebut masuk dalam golongan obat Trihexyphenidhyl sebagai penenang (anti depresan).

Ulah Asl jelas melanggar undang-undang psicotropika. Sehingga dia pun lantas diburu petugas dan ditangkap jajaran Polres Kulonprogo.

Wakapolres Kulonprogo, Kompol Dedi Surya Darma mengatakan, ASL ditangkap pada 1 Agustus 2017,  di rumahnya. Dari hasil penyidikan awal, pelaku dalam aksinya menggaet dua orang pengamen Malioboro sebagai kurir pengedaran obat keras tersebut.

Baca Juga :  Ajak Warga Jogja Menjaga Keistimewaan

Sebanyak 811 butir pil putih Yarindo diamankan petugas Satresnarkoba Polres Kulonprogo. ASL  menjual pil sapi dalam kemasan eceran berisi beberapa butir pil seharga Rp 2.500 per butir.

“Kedua pengamen, saat ini masih berstatus saksi. Namun, kalau bukti yang menguatkan konsumen menerima pil dari tangan mereka, kami akan kembangkan jadi tersangka,” kata Dedi, Rabu (09/08/2017).

Dalam pengakuan, pil tersebut dibelinya secara online melalui seorang pemasok di Semarang. Barang dikirimkan melalui jasa ekspedisi sehingga sulit terendus aparat. Sudah 7 bulan Asl melakukan bisnisnya, tidak lama setelah dirinya keluar dari penjara akibat kasus kepemilikan dan peredaran ganja.

Selama itu 6.000 butir pil sapi sudah dijual di berbagai wilayah di DIY, termasuk juga di Sentolo Kulonprogo.

Baca Juga :  Panglima TNI Lihat Pelangi di Pendapa Pangeran Diponegoro

Dari ASL ini polisi mengamankan dua plastik klip berisi pecahan pil, dua toples plastik bekas kemasan pil, dua ponsel, uang Rp 88.000 yang diduga hasil penjualan obat, dan sejumlah barang lain.

Dia terancam hukuman 15 tahun penjara dengan denda Rp 1,5 miliar. Dituduh melanggar pasal 197 UU RI nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan

ASL sendiri mengaku suka bisnis barang terlarang karena untungnya banyak. Dari 1000 butir dia bisa untung satu juta rupiah.(sri widodo/sm)