Gatak Kekurangan Tenaga Penggarap Sawah

204
Ketua Gapoktan Desa Gatak Delanggu Joko Mujiyono menanam benih padi menggunakan mesin tanam (transplanter) di sawah milik orang lain. (masal gurusinga/korabernas.id)

KORANBERNAS, ID — Desa Gatak Karenaecamatan Delanggu terkenal sebagai lumbung padi di Kabupaten Klaten dan Jawa Tengah. Pada bulan Agustus hingga Desember setiap tahunnya merupakan bulan baik bagi petani. Mengapa? Karena harga padi pada bulan itu cukup bagus dan menguntungkan petani.

Meski bulan ini merupakan bulan baik namun tidak berarti para pemilik sawah juga dihadapkan permasalahan. Permasalahan yang terjadi yakni sulitnya tenaga penggarap sawah dan kebiasaan petani yang suka tidak menanam bareng.

“Disini ada sekitar 75 orang petani penggarap sawah. Mereka ada yang warga Gatak dan dari desa lain,” kata H Walino, Kepala Desa Gatak Kecamatan Delanggu, Minggu (05/11/2017).

Menurut dia, selain kesulitan tenaga penggarap masalah lain yang dihadapi petani adalah kebiasaan petani yang suka menanam tidak bareng. Sikap inilah yang membuat hama leluasa menyerang tanaman petani. Hama yang rutin menyerang tanaman padi adalah tikus dan wereng

Baca Juga :  Titiek Soeharto Sebut Benteng Ideologi Masyarakat Lemah

Pada bulan puasa hingga lebaran kemarin kata dia, serangan hama wereng luar biasa. Banyak petani yang gagal panen karena tanaman padi miliknya rusak.

Hama wereng menyerang tanaman padi petani sudah diprediksikan jauh-jauh hari sebelumnya. Sebab karakter hama wereng terjadi pada siklus 5 tahunan. Berdasarkan data di.lapangan ujarnya, hama wereng paling dahsyat terjadi padsa 2005, 2010 dan 2011. “Itu sudah jelas. Makanya petani sudah dihimbau untuk jangan menanam sendiri-sendiri. Kalau tanam sendiri-sendiri akan memudahkan hama menyerang. Tanam serentak juga bertujuan untuk memutus mata rantai perkembangan hama,” tuturnya.

Senada diungkapkan Ketua Gapoktan Desa Gatak Joko Mujiyono. Saat ditemui disela-sela menanam padi, dia mengatakan sikap petani yang tidak kompak menjadi permasalahan utama di lapangan. “Petani disini tidak kompak. Kita sarankan agar tanam bareng sulit sekali. Diajak pertemuanpun sulit sekali,” kata Joko.

Baca Juga :  Orientasi Siswa Baru Berlangsung Humanis

Masalah sulitnya tenaga penggarap juga menjadi persoalan sektor pertanian di Desa Gatak. Di Desa Gatak ujarnya, lahan pertanian sangat luas dan setahun bisa panen padi 2 kali. Tetapi pemilik sawah merasa sulit mencari tenaga penggarap

“Kadang-kadang cuma ada 2 orang penggarap. Sebab banyak generasi muda pilih merantau dan bekerja di pabrik,” jelasnya.

Pada periode Agustus-Desember priduksi padi melimpah dan harga tebasan juga bagus. Namun pada Februari-April petani banyak rugi. “Bisa balik modal saja sudah bagus,” kata Joko Mujiyono yang juga tenaga tanam di desanya. (yve)