KORANBERNAS.ID–Suasana pagi di Desa Sidomulyo, Kecamatan Bambanglipuro Bantul yang awalnya tenang tiba-tiba berubah  gempar setelah  bumi  berguncang dahsyat akibat gempa berkekuatan 7 SR. Kentongan bertalu-talu atau disebut titir, menggema sebagai tanda agar semua warga melakukan upaya penyelamatan.

Kemudian petugas Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB) Desa melaporkan kondisi tersebut kepada Lurah Desa, Edi Murjito Spd melalui alat radio panggil atau handy talky tentang kondisi yang ada.

Usai koordinasi, Edi Murjito segera menghubungi pihak terkait melalui HT serta HP, untuk dilakukan penanganan. Tidak berselang lama tim medis lengkap dengan mobil ambulance melakukan evakuasi terhadap korban meninggal ataupun korban luka.

Di lapangan desa yang difungsikan sebagai  tempat penampungan pengungsi, segera dibangun tenda untuk istirahat, tenda medis, tenda logistik serta  dapur umum didirikan.

Demikian simulasi atau gladi lapang yang tergambar dalam  penanganan bencana gempa bumi yang digelar Kantor BPBD DIY, BPBD Bantul, Pemerintah Desa Sidimulyo dan FPRB Desa Sidomulyo di Lapangan desa setempat, Senin (14/05/2018). Simulasi dihadiri oleh Camat Drs Yulius suharta,  Kapolsek AKP Wahyu Sudadi, Bhabinkamtibmas, Babinsa dan ratusan warga setempat.

Baca Juga :  Dapil I Berkurang 1 kursi, Pindah ke Dapil II

Dalam sambutanya Lurah Edi mengatakan kalau FPRD telah dibentuk 2017. Sebelumnya juga sudah ada FKPM dan Linmas yang semua bersatu  padu bekerja dan berkiprah untuk kemajuan desa.

“Semua lembaga desa tadi menjadi  mitra untuk melayani Sidomulyo secara baik dan bijak sesuai dengan bidang masing-masing,”katanya.

Untuk tahun 2018,  lanjut  Lurah Edi, Desa  Sidomulyo ditunjuk sebagai desa tangguh tentu menambah semangat untuk melaksanakan upaya-upaya sosial di tengah masyarakat yang banyak bencana.

Pembukaan selubung Desa Sidomulyo, Bambanglipuro sebagai desa tangguh bencana, Senin (14/05/2018). (Sari Wijaya/koranbernas.id)

“Kami juga beberapa waktu lalu  terkena bencana,  ada jembatan putus, angin kencang dan lainnya. Tentu ini perlu penanganan secara bersama-sama semua elemen masyarakat dan pihak terkait,”katanya.

Kepala Pelaksana BPBD Bantul, Nanang Wijianto mengatakan peningkatan kapasitas untuk penanganan bencana  itu sangatlah penting.

Baca Juga :  Usia Harapan Hidup Warga Sleman Tertinggi di Indonesia

“FPRB tidak bisa berdiri sendiri, semua elemen bisa bergabung di sana.  Gladi seperti ini diharapkan bisa diulang agar selalu melekat di ingatan. Bukan berarti  harus digunakan yang berarti terjadi bencana, namun intinya kita pelajari penanganan bencana untuk investasi jangka panjang. ,”katanya.

Sehingga ketika ada bencana yang tidak diinginkan terjadi, masyarakat sudah tahu apa yang harus dilakukan dan tidak kebingungan. Maka semua pihak  perlu  belajar penanganan bencana termasuk  juga  masyarakat.

Sementara Biwowo Yuswantoro dari BPBD DIY mengatakan, di DIY desa yang masuk rawan bencana tercatat 301. Semua secara bergiliran akan melakukan simulasi penanganan bencana dalam rangka menekan dampaknya.

“Kami harapkan hingga tahun 2022 semua desa sudah mengggelar simulasi tersebut. Hingga kini sudah 108 desa se DIY yang melakukan simulasi dan ini akan terus  berlangsung,”katanya. (SM)