Gemuruh Sampai Kota, Status Merapi Waspada

2348
Pengamatan Gunung Merapi melalui CCTV (istimewa)

KORANBERNAS.ID – Setelah mengalami erupsi freatik pada Senin Senin (21/05/2018) pukul 17:50 dengan amplitudo 50 mm, status Gunung Merapi dinyatakan naik menjadi Waspada dari Normal pada pukul 23:00 WIB. Peningkatan status Waspada didasarkan pada hasil pengamatan Pos Pengamatan dan CCTV Badan Geologi, PVMBG Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi.

Keputusan tersebut berdasarkan surat yang ditandatangani langsung Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Dr Hanik Humaida M Sc dan berlaku mulai Senin (21/05/2018) malam pukul 23:00. Peningkatan status Gunung Merapi berdasarkan pengamatan visual dari Pos Pengamatan dan CCTV cuaca cerah terjadi pada siang hari, pagi dan sore hingga malam hari dominan berkabut, disertai hujan berangin.

Asap solfatara umumnya berwarna putih tebal, tekanan gas lemah dengan tinggi maksimum 25 m, teramati dari Pos Kaliurang. Cuaca di Pasar Bubar 12 °C kelembaban 92,3 % RH, tekanan udara 74,26 kph, kecepatan angin maksimum 23,28 km/jam, dan arah angin dominan dari Barat Laut ke Tenggara.

Pos-pos pemantauan melaporkan terjadi suara gemuruh bersamaan dengan erupsi freatik sebanyak tiga (3) kali pada 21 Mei 2018 masing-masing pada pukul 01.25 WIB durasi 19 menit ketinggian kolom erupsi 700 m, pukul 09.38 WIB durasi 6 menit ketinggian kolom erupsi 1200 m, dan pukul 17.50 durasi 3 menit ketinggian kolom erupsi tidak teramati. Erupsi freatik yang terjadi pada 21 Mei 2018 terhitung intensif. Erupsi freatik sebelumnya terjadi pada 11 Mei 2018 setelah sekitar 4 tahun tidak terjadi letusan freatik.

Baca Juga :  Mahasiswa Asing Tertarik ke UAD, Ada Apakah ?

Pada minggu ini, kegempaan Gunung Merapi tercatat 1 kali gempa vulkanik (VT), 12 kali gempa multiphase (MP), 1 kali gempa tremor, 12 kali gempa guguran (RF), 3 kali gempa letusan, dan 5 kali gempa tektonik (TT). Gempa guguran yang terjadi pada 20 Mei 2018 pukul 21.30 WIB tergolong besar dan sempat terdengar oleh penduduk.

Pada 21 Mei 2018, kegempaan Gunung Merapi tercatat 1 kali gempa vulkanik (VT), 1 kali gempa tremor, 2 kali gempa guguran (RF), 3 kali gempa letusan, dan 3 kali gempa tektonik (TT). Gempa VT dan Tremor terjadi setelah letusan pukul 17.50 WIB. Gempa Tremor berfrekuensi sekitar 0,2 Hz dengan amplitudo rata-rata 5-10 mm. Suhu pusat kawah sekitar 85 °C meningkat dari kondisi normal (<50 °C).

“Sehubungan telah terjadi peningkatan aktivitas letusan freatik dan diikuti dengan kejadian gempa VT dan gempa tremor maka disimpulkan aktivitas vulkanik Gunung Merapi mengalami peningkatan,” jelasnya.

Dengan meningkatnya aktivitas tersebut, maka terhitung mulai 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB, status aktivitas Gunung Merapi dinaikkan dari tingkat Normal menjadi Waspada. Para pemangku kepentingan dalam penanggulangan bencana Gunung Merapi diharapkan merekomendasikan kegiatan pendakian untuk sementara tidak dilakukan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.

“Pada radius 3 km dari puncak juga perlu dikosongkan dari aktivitas penduduk. Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas Gunung Merapi,” ungkapnya.

Baca Juga :  Patung Soekarno Penanda Rintisan Desa Wisata

Suara gemuruh yang berasal dari kawah gunung tersebut bahkan terdengar sampai wilayah Kota Yogyakarta. Sebagian warga menangkap gemuruh tersebut mirip suara ribuan motor.

Jika terjadi perubahan aktivitas Gunung Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segara ditinjau kembali. Masyarakat diharapkan tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi Gunung Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan Gunung Merapi terdekat melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 MHz melalui website www.merapi.bgl.esdm.go.id, media sosial BPPTKG, atau ke kantor BPPTKG, Jalan Cendana No. 15 Yogyakarta, telepon (0274) 514180-514192.

“Pemerintah daerah direkomendasikan untuk mensosialisasikan kondisi Gunung Merapi saat ini kepada masyarakat,” tandasnya.

Sementara itu, pengungsi juga sudah berada di titik-titik yang disediakan. Untuk Desa Glagaharjo lokasi pengungsian berada di balai desa setempat yang menampung warga Singlar, Srunen, Kalitengah Lor dan Kalitengah Kidul. Untuk sementara, jumlahnya tercatat 298 orang. Titik pengungsian di rumah Ny Sri warga Singlar total 19 orang.

Titik pengungsian 3 di rumah Dukuh Kali Tengah Lor, Suwondo, menampung warga Kalitengah Lor sejumlah 44 orang. Sedangkan Titik pengungsian 4 di rumah Dukuh Kalitengah Kidul ada 20 orang. Secara keseluruhan total tercatat 381 orang pengungsi. (sol/yve)