Generasi Ketiga Selamatkan Perajin Batik

237
Perajin batik di Rumah Batik Sekar Jagad. Di saat tidak ada pembeli batik, dia membatik seperti tampak Rabu (15/11/2017) (nanang w hartono/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Hanya beberapa  pengusaha batik di Kabupaten Kebumen yang mampu melestarikan usahanya hingga bertahan beberapa generasi.

Keluarga Abdul Majid, pengusaha  batik di Dukuh Tanuraksan Desa Gemeksekti Kecamatan Kebumen Kabupaten Kebumen, merupakan salah seorang perintis usaha batik yang tetap eksis hingga beberapa generasi. Puluhan perajin batik diselamatkan  oleh keberadaan usaha ini.

Generasi ketiga Abdul Majid, Hj Hikmah (37) pemilik Rumah Batik Sekar Jagad Tanuraksan Kebumen ini, hanya salah seorang dari tujuh bersaudara yang meneruskan usaha orang tuanya.

Enam saudara lainnya  tidak meneruskan usaha yang dirintis  kakeknya. “Perajin batik yang bekerja  di tempat saya ada 82 orang. Itu berdasarkan  jumlah bingkisan lebaran kemarin,“ kata Hikmah kepada koranbernas.id, Rabu (15/11/2017).

Sebagai  generasi ketiga pengusaha batik, dia dan suaminya H Imron mempekerjakan 82 orang perajin batik. Sebagian besar  perajin batik tulis adalah perempuan.

Baca Juga :  Sleman Canangkan Tiga DBKS

Mereka  sebagian besar bekerja di rumah masing-masing.  Perajin yang bekerja di rumahnya paling banyak 20 orang.

“Perajin  ke sini mengambil kain mori dan malam atau canting. Pekerjaan mereka  hanya mencanting,“ kata Hikmah.

Upah yang diperoleh perajin, sebagian besar dari hasil nyanting mereka  (borongan). Besar kecilnya tergantung dari  jumlah lembar dan  kerumitan motif yang dibatik.

Makin rumit, perajin mendapat upah lebih tinggi. Motif  tertentu, seorang perajin  bisa dua kali menyanting di selembar kain batik. Pewarnaan semuanya dilakukan  di rumah.

Dia bersyukur, rumah batiknya yang  kurang dari 1 km dari pusat Kota Kebumen sering didatangi tamu dalam jumlah banyak.

Usahanya juga  sering menerima orderan  seragam dari sekolah,  lembaga, ormas, instansi   pemerintah  untuk  seragam. “Biasanya batik tulis dengan kombinasi  batik cap,“ kata Hikmah.

Baca Juga :  Bank BPD DIY Kembali Serahkan Bantuan CSR

Beberapa sekolah yang memasukkan membatik sebagai kurikulum untuk  prakarya, juga menggunakan tempat usahanya untuk praktek membatik bagi   pelajar  di  Kebumen. Sekolah itu di antaranya SMPN Negeri 1  Kebumen, SMA Negeri 1 Kebumen dan SMA Negeri 2 Kebumen.

Pengusaha yang mengaku belum berniat mempatenkan motif batik  ciptaan  rumah batiknya ini sering mengikuti pameran  kerajian di Kebumen dan luar Kebumen.

Melalui pameran  dia memperkenalkan dan memperluas pasar batik karya perajin  Kebumen. “Pekan ini kami diikutsertakan Pemkab Kebumen   pameran  kerajinan  di  Jogja,“  kata Hikmah.

Ya, itu gambaran  kehidupan pengusaha  dan perajin batik di Kebumen, yang hidup bersama saling menguntungkan. Dengan demikian, batik Kebumen tetap lestari.  (sol)