Generasi Milenial Perlu Belajar Sejarah

182
Diskusi Kebangsaan X yang digelar Paguyuban Wartawan Sepuh (PWS) Yogyakarta bekerja sama dengan pengelola Monjali. (istimewa)

KORANBERNAS.ID — Generasi milenial perlu belajar dari sejarah. Nilai-nilai sejarah, bukan doktrin, perlu ditanamkan agar rasa nasionalisme di antara mereka terbangun. Founding fathers dulu berpikir sangat futurustik melihat potensi perdagangan, budaya dan politik.

Menyadari bangsa ini mempunyai potensi yang sangat besar, mereka berhasil menyatukannya di bawah semboyan Bhinneka Tunggal Ika serta “mengikatnya” dalam jiwa  Pancasila, sebagai dasar berbangsa dan bernegara yang harus ditanamkan dalam jiwa seluruh rakyat Indonesia secara berkelanjutan. Pancasila jangan hanya diterjemahkan saat terjadi konflik.

Hal ini mengemuka pada Diskusi Kebangsaan X yang digelar di Monumen Jogja Kembali (Monjali), Senin (27/11/2017), dengan tema Kebangsaan dalam Kepahlawanan Milenial.

Tampil sebagai pembicara anggota DPR RI Drs H Idham Sanawi, Guru Besar UGM Prof Dr Sudjarwadi serta Sosiolog UGM Dr Arie Sujito.

Untuk menjaga kesinambungan pemahaman berbangsa dan bernegara dari generasi berbeda ini, menurut Arie Sujito, perlu ada Dialog Lintas Generasi. sehingga tidak terjadi kesenjangan.

Generasi tua jangan mengklaim sebagai pemilik sejarah dan generasi muda jangan merasa tidak mau memahami sejarah perjuangan bangsa yang telah berjalan cukup panjang ini.

Baca Juga :  RRI Peringati HAN dengan Pentas Kreativitas Anak

Menurut Prof Sudjarwadi, generasi milenial lahir dalam rentang waktu 1981-1995, secara demografis angkanya mencapai 40 persen dari total penduduk Indonesia.

Potensi yang sangat besar ini harus dipersiapkan sebaik-baiknya, karena mereka kelak tampil sebagai pemimpin masa depan. Nilai kepahlawanan bukan diartikan fisik membawa bambu runcing, tapi lebih pada prestasi akademik maupun sosial kemasyarakatan.

Kurang etika

Generasi milenial ini cerdas tapi kurang beretika. Mereka cenderung berbuat cepat, piawai memanfaatkan kemajuan teknologi namun kadang-kadang kurang berpikir panjang tentang isi pesan lewat media sosial.

Mereka perlu diberi pemahaman, agar medsos dimanfaatkan secara positif, bukan untuk menebar kebencian pada kelompok berseberangan.

Banyak di antara mereka tidak silau pada harta dan lebih mengetengahkan solidaritas. Namun banyak pula yang terjebak politik praktis  dan ingin segera memperoleh kekuasaan.

Oleh karenanya, perlu keteladanan supaya generasi milenial ini tidak kehilangan arah. Salah satunya melalui pendidikan, dan Yogyakarta sebagai pusat pendidikan harus tampil di depan.

Baca Juga :  Ini Pesan Sultan untuk Bawaslu DIY

Pendidikan penting utnuk mempersiapkan generasi yang cerdas, punya rasa nasionalisme yang kuat, cinta tanah air, bangsa dan negara.

Dan itu bukan hal mudah mengingat hilangnya penyekat ruang dan waktu di era globalisasi. Sehingga bukan tidak mungkin generasi yang sangat terdampak pada kemajuan teknologi ini terdistorsi nilai-nilai lain yang tidak sejalan.

Diskusi Kebangsaan yang digelar di Monjali dan disiarkan secara live streaming ini, memperoleh respons dari ratusan follower. Dari Bekasi misalnya, Taufiq Ismail mempertanyakan, adakah ruang bagi dirinya beserta generasinya untuk berkiprah membangun bangsa.

Pertanyaan itu dijawab oleh Idham Samawi, sangat terbuka. dan memang menjadi kewajiban generasi milenial  membangun bangsa dengan tindakan nyata.

Pengelola Monjali, Soetikno, mengatakan pengelola museum khususnya museum perjuangan berkepentingan  menyikapi generasi milenial. Ini ada kaitannya dengan nasionalisme dan patriotisme.

Pihaknya menyambut baik diskusi hasil kerja sama dengan Paguyuban Wartawan Sepuh (PWS) Yogyakarta itu. Diskusi Kebangsaan XI dijadwalkan digelar 11 Desember 2017 di gedung Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Jalan Kusumanegara  (sol)