Gentong Hias Jadi Ciri Khas Pakualaman

739
GKBRAy Paku Alam X menyerahkan hadiah Lomba Gentong Hias, Rabu (08/08/2018) di Ndalem Pujowinatan Pakualaman. (sholihul hadi/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID – Di masa lalu, semua rumah pasti memiliki gentong. Seiring pergeseran zaman, tempat air mirip tempayan besar terbuat dari tanah liat itu sepertinya menghilang.

Kini, peralatan dapur tradisional tersebut muncul kembali di Kelurahan Purwokinanti Kecamatan Pakualaman Kota Yogyakarta, sekaligus menjadi ciri khas wilayah tersebut.

Bedanya, dulu gentong dipakai untuk menyimpan air keperluan memasak di dapur, kini beralih fungsi menjadi sarana Cuci Tangan Pakai Sabun atau CTPS serta untuk memelihara ikan lele.

Inovasi tersebut digulirkan oleh Kelurahan Siaga (Kesi) Purwokinanti Pakualaman melalui program gentongisasi, sekaligus menghidupkan kembali kearifan lokal masyarakat setempat.

Secara simbolis GKBRAy Paku Alam X menyerahkan bantuan kendi. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Lebih menarik lagi, gentong-gentong yang terpasang di area publik supaya mudah diakses oleh warga, tidak tampil lugu berwarna cokelat melainkan dihias sedemikian rupa sehingga memiliki nilai estetika.

Keberadaan gentong-gentong hias itu ternyata dilombakan. Pemenangnya diumumkan, Rabu (08/08/2018), di Pendopo Pujowinatan RW 09 Purwokinanti Pakualaman.

Juara Favorit diraih RW 08. Sedangkan Juara I dari RW 09 disusul juara dua dan tiga masing-masing RW 07 dan RW 02. RW lainnya yang belum menjadi pemenang tetap memperoleh penghargaan sebagai bentuk apresiasi atas partisipasinya menggerakkan program gentongisasi.

Lurah Purwokinanti Agus Joko Purnomo SIP MSi yang juga juri Lomba Gentong Hias menyampaikan, para pemenang Lomba Gentong Hias CTPS kali ini selain berhak membawa pulang piala juga memperoleh piagam.

GKBRAy Paku Alam X, istri dari Wakil Gubernur DIY, Paku Alam X yang hadir di tengah-tengah warga berharap program gentongisasi merupakan langkah awal dalam rangka menjadikan masyarakat sehat dan sejahtera.

Dia juga ingin membawa program gentongisasi ke skala nasional, asalkan memperoleh dukungan dari bawah. “Saya berharap acara ini bukan yang terakhir tapi sebagai awal pengembangan Kelurahan Purwokinanti dan Kecamatan Pakualaman. Mangga, ibu-ibu dari semua RW yang mengembangkan. Ini dari kita untuk kita. Manfaatnya juga untuk kita,” tutur GKBRAy Paku Alam X.

Didampingi Ketua Kesi Purwokinanti dr Asdi Yudiono, GKBRAy Paku Alam X memasukkan bibit ikan lele ke dalam gentong. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Ketua RW 09 Kelurahan Purwokinanti, Roesbandi, menyatakan selain gentong, pada kesempatan itu GKBRAy Paku Alam X juga menyerahkan bantuan kendi untuk 47 RT. Secara berkala kendi diisi air matang dan bebas diminum oleh siapa pun.

Adapun bantuan berupa Toga (Tanaman Obat Keluarga) sejumlah 110 jenis, antara lain jahe merah, ditanam di sepetak lahan halaman Ndalem Pujowinatan.

Pada September 2018, Kesi Purwokinanti yang diketuai oleh dr Asdi Yudiono mengikuti Lomba Bidang Kesehatan (Lombidkes) 2018 Kota Yogyakarta. Gentongisasi untuk CTPS dan budidaya ikan lele tersebut merupakan salah satu inovasi yang dilakukan Kesi Purwokinanti.

Gentong berisi lele diletakkan di kebun Toga. Air kurasan dari gentong tersebut bisa dimanfaatkan untuk menyirami tanaman sehingga tumbuh subur.

Warga antusias menyambut kehadiran GKBRAy Paku Alam X ke Ndalem Pujowinatan. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Dokter Asdi Yudiono menjelaskan, gentongisasi tidak lepas dari pembinaan Puskesmas. Dirinya berharap dapat terus memberikan sesuatu yang indah dan inovatif bagi kelurahan dan kecamatan.

Camat Pakualaman Rajwan Taufik menambahkan gentongisasi merupakan wujud sinergitas program GKBRAy Paku Alam X yang kemudian disambut oleh masyarakat di tingkat bawah. “Gentong itu cerminan hidup bersih,” kata Rajwan.

Dia mengakui, wilayah Pakualaman relatif sempit. Baginya, hal itu bukan alasan untuk mengembangkan penghijauan, tanaman obat keluarga maupun perikanan. Dia pun bertekat gentongisasi menjadi program kecamatan. (sol)