Gerah, Sekolah di Tenda Darurat

131
Siswa SD Seropan harus belajar di tenda darurat pada hari pertama sekolah, Selasa 0(sari wijaya/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID— Sebanyak 123 siswa SDN Seropan, Desa Muntuk, Kec Dlingo harus merasakan gerah dan panas selama mengikuti pelajaran saat hari pertama masuk sekolah usai libur panjang Natal dan tahun baru, Selasa (02/1/2018). Tenda bantuan BPBD Bantul berukuran 24 meter X 6 meter itu disekat menjadi lima kelas.

Udara panas langsung terasa saat masuk ke tenda kendati di sebagian tenda sudah dibuka untuk mendapat udara dari luar. Selain panas, suara antar kelas juga terdengar oleh kelas lain sehingga mengurangi konsentrasi siswa saat mengikuti pelajaran.

Sementara untuk kelas VI lebih nyaman karena menggunakan gedung PAUD yang kosong tidak jauh dari lokasi. Sebab kelas VI butuh konsentrasi lebih menghadapi ujian.

Baca Juga :  WNA Asal Jerman Tertegun Saat Ikut Nyadran Agung

Para siswa terpaksa belajar di tenda darurat karena bangunan SD mereka retak temboknya akibat hujan dengan intensitas tinggi padanbulan lalu. Selain itu, bukit di belakang sekolah juga bengkah, serta ada retakan di lingkungan kelas. Untuk itu pihak sekolah memutuskan
untuk melakukan evakuasi peralatan sekolah saat liburan lalu, guna menghidari hal yang tidak diinginkan. ancaman longsor.

“Iya rasanya panas dibanding pas di dalam kelas,”kata Roby siswa kelas IV yang nampak keringatnya meleleh. Begitupun siswa lain merasakan udara yang begitu panas, kendati matahari belum menyengat bumi.

Kepala SDN Seropan, Wagiran mengatakan memang karena sekolah darurat dan menggunakan tenda, maka kondisi kurang nyaman dirasakan oleh siswa.

Baca Juga :  Terinspirasi Koran Bernas, DPRD Gunungkidul Ke Purbalingga

“Memang terpaksa di tenda darurat karena sekolah yang ada membahayakan,” katanya. (yve)