Gitar Tak Berdawai Karya Nasirun Mencuri Perhatian

331
Mengenakan pecis hitam, Nasirun melayani permintaan foto bersama dari para pengunjung Pameran Seni Rupa Dwi Rupa Bumi di Jogja Gallery, Minggu (18/03/2018) malam. (sholihul hadi/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID – Mungkin bukanlah kebetulan apabila pelukis berkelas internasional, Nasirun, memajang karyanya berjudul Gitar dan Gitar #2 pada Pameran Seni Rupa Dwi Rupa Bumi di Jogja Gallery Alun-alun Utara Keraton Yogyakarta.

Bersanding dengan karya lainnya Celo #1 dan Celo #2, karya tersebut mencuri perhatian pengunjung saat pembukaan pameran Rabu (18/03/2018) malam. Bukan semata-mata gitar elektrik itu dibiarkan tanpa senar alias tak berdawai, tetapi juga terlihat unik.

Hal lain yang menarik dan bikin penasaran, pada pameran kali ini, Nasirun berkolaborasi dengan musisi yang juga berkelas internasional, Trie Utami. Jadilah keduanya seperti bertukar tempat, lebih tepatnya bertukar profesi.

Benarkah seperti itu? “Saya bertukar tempat dengan Mas Nasirun. Saya jadi pelukis. Mas Nasirun jadi penyanyi,” kelakar Trie Utami menjawab pertanyaan wartawan.

Musisi yang pernah membawa nama besar grup Krakatau itu mengakui, pameran ini merupakan yang pertama. Baginya, tampil di depan puluhan ribu penonton merupakan hal biasa. Karena itu dia bersyukur bisa pameran bareng pelukis terkenal yang sudah berkiprah di berbagai belahan bumi.

“Sejujurnya pameran bersama Mas Nasirun ini bukan dari kepala saya. Sejujurnya saya melukis bukan untuk pameran tapi untuk senang-senang. Kemudian Mas Nasirun menyarankan, masuki saja dunia kesenian itu dengan kemerdekaan tanpa dibebani tekanan,” ungkap Iie, panggilan akrab penyanyi kelahiran Bandung Jawa Barat 8 Januari 1968 itu.

Purwa Caraka, Nasirun dan Trie Utami saat pembukaan Pameran Seni Rupa Dwi Rupa Bumi di Jogja Gallery, Minggu (18/03/2018) malam. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Menurut dia, dunia seni rupa ibarat panggung solitude tak berpenonton, tetapi itulah proses kreatif dan meditatif yang sangat merdeka.

“Ini adalah suaraku di dalam sunyi. Lagu-lagu di alur melodi rupa, rangkaian syair warna, dan progresi harmoni peristiwa. Jadi, selamat mendengarkan improvisasi sepi, dalam riuh rendah tepukan yang teramat hening,” tulis Trie Utami dalam pengantar buku Pameran Seni Dwi Rupa Bumi.

Pada pameran yang dibuka oleh musisi Purwa Caraka dan berlangsung hingga 30 Maret 2018 itu dihadirkan 42 karya. Nasirun menampilkan 12 karya terdiri 2 karya lukis, 9 alat musik serta 1 karya wayang yang terdiri dari 28 buah.

Sedangkan Trie Utami menampilkan 29 karya lukis dan 2 karya sketsa. Dari semua karyanya, hanya satu yang berhubungan dengan musik yaitu lukisan berjudul Senyawa, sama persis dengan salah satu judul lagu grup Krakatau.

Nasirun melihat karya Trie Utami punya sensitivitas rasa dan warnanya. “Mbak Iie ini contoh yang menarik, karena sedang dalam proses maka pewarnaannya tidak harus standar akademik,” ujar Nasirun sambil bergurau.

Mengamati karya-karya Trie Utami, Nasirun juga menemukan gambaran dua dimensi yaitu dekoratif dan volume arsitek. Satu lagi, terdapat nilai-nilai spiritual di dalamnya.

Lukisan wayang karya Nasirun melengkapi Pameran Seni Rupa Dwi Rupa Bumi di Jogja Gallery. (sholihul hadi/koranbernas.id)

KRMT Indro Kimpling Suseno selaku Penggagas Pameran yang juga Direktur Eksekutif Jogja Gallery mengatakan, pameran bersama seni lukis karya Trie Utami dan seni rupa karya Nasirun ibarat wadah besar penampungan seni bangsa Indonesia.

Ide pameran ini muncul pada 2015 saat kumpul-kumpul di Warung Musik Kampayo XT Square Yogyakarta. Butuh waktu enam bulan untuk merealisasikan pameran tersebut.

“Keberanian kami mengajak mereka berdua untuk pameran bareng justru karena keduanya memiliki roh berkesenian yang unik, cenderung aneh dan liar. Mereka bersatu dalam gelora gejolak berkesenian yang bebas dan penuh inspiratif,” kata dia.

Trie Utami memiliki bakat melukis yang diturunkan dari kakeknya. Sedangkan Nasirun adalah sosok perupa yang sudah banyak memperoleh penghargaan dari masyarakat seni rupa berbagai negara.

Indro Kimpling mengatakan, melalui pameran Dwi Rupa Bumi ini, Nasirun maupun Trie Utami serupa dua dunia yang tidak bersentuhan tetapi keduanya selalu membawa membawa bendera Merah Putih dan mengibarkannya di kancah internasional.

Keduanya juga konsisten mengharumkan nama bangsa Indonesia di percaturan seni musik dan seni rupa. (sol)