GLZoo Raih Penghargaan Lembaga Konservasi Berprestasi

145
Direktur Utama GL Zoo, KMT A Tirtodiprojo, Kamis (30/08/2018), menerima penghargaan. (istimewa)

KORANBERNAS.ID — Gembira Lola Zoo (GL Zoo) Yogyakarta menerima penghargaan sebagai Lembaga Konservasi (LK)  Berprestasi 2018.

Penghargaan diserahkan oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya bersama Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, kepada Direktur Utama GL Zoo, KMT A Tirtodiprojo, Kamis (30/08/2018).

Ini merupakan rangkaian peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2018 yang berlangsung di Taman Wisata Alam Batu Putih Bitung Sulawesi Utara.

Sebagai Lembaga Konservasi, kebun binatang terbesar di DIY dan Jawa Tengah ini antara lain berfungsi sebagai tempat perlindungan dan pelestarian alam, utamanya penyelematan dan pelestarian satwa serta jenis tumbuhan.

“Upaya yang kami lakukan selama ini tidak terbatas pada jenis satwa dan tumbuhan yang terancam punah, tapi juga pada jenis lain diharapkan dapat berkembang biak di luar habitatnya,” ungkap Joko, panggilan akrab KMT A Tirtodiprojo.

Baca Juga :  Anggota DPD RI Yakin NYIA akan Bangkitkan Perekonomian DIY

GLZoo Yogyakarta memiliki area seluas 20 hektar. Di lokasi ini terdapat kurang lebih 350 jenis tumbuhan. Keberadaan obyek wisata tersebut secara langsung membantu penyerapan air dan polusi, sehingga dapat dikatakan sebagai paru-paru Kota Yogyakarta.

Dengan melibatkan tenaga ahli serta profesional di bidangnya melalui sebuah sistem yang terukur, GL Zoo menjadi salah satu LK yang berhasil dalam upaya melestarikan flora dan fauna.

Humas GL Zoo Eros Yan Renanda menambahkan, pengunjung GL Zoo  sempat mencapai puncaknya pada 1978, yakni  mencapai lebih dari 1,5 juta orang. Setelah itu  cenderung merosot akibat krisis moneter 1998.

Pada 27 Mei 2006 kebun binatang ini porak poranda akibat gempa dahsyat yang mengguncang DIY, kemudian disusul erupsi Gunung Merapi pada 2010. Lahar yang membanjiri Sungai Gajah Wong merusak sebagian besar sarana dan prasarana kebun binatang itu.

Baca Juga :  Komisi A DPRD DIY Resmi Ajukan Raperda TIK

Ditambah lagi pada 2014 terjadi hujan abu vulkanik Gunung Kelud. Melalui pengelolaan yang profesional, GL Zoo mampu mandiri dan berkembang sebagai primadona pariwisata di Yogyakarta. (sol)