Goa Braholo yang Penuh Misteri

407
Goa Braholo di Dusun Semugih Kecamatan Rongkop Gunungkidul, banyak menyimpan misteri. (st aryono/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Gunungkidul tak hanya kaya akan wisata pantai yang indah. Ada satu goa yang layak jadi wisata edukasi sekaligus sejarah.

Adalah Goa Braholo yang terletak di Dusun Semugih Desa Semugih Kecamatan Rongkop. Goa tersebut selama ini banyak menyimpan misteri.

Goa Braholo menghadap barat daya dengan ketinggian 357 meter di atas permukaan laut. Lantai goa mempunyai ketinggian 352 meter di atas permukaan laut.

Sebagian relatif datar dan miring. Kondisi lantai goa kering dengan langit-langit yang cukup tinggi mencapai 15 meter. Lebar ruangan kurang lebih 39 meter dengan panjang 30 meter. Secara keseluruhan luasannya mencapai 1.172 meter.

Kepala Seksi Warisan Budaya Dinas Kebudayaan DIY, Ruly Adriadi, menyebutkan situs prasejarah Goa Braholo telah masuk ke dalam situs cagar budaya melalui Keputusan Gubernur DIY Nomor 349/KEP/2012.

Kemudian pada 2014, Goa Braholo ditetapkan menjadi salah satu warisan budaya dalam daftar Warisan Budaya Kabupaten Gunungkidul, melalui Keputusan Kepala Disbudpar Gunungkidul nomor 033/KPTS/WB/2014.

“Dinas Kebudayaan DIY pada tahun 2017 melakukan pendokumentasian goa dengan teknologi 3D laser scanner dan penjajagan awal potensi,” ujarnya.

Peneliti dari Pusat Arkeologi Nasional (Arkenas), Thomas Sutikna, mengatakan selama ini penemuan Goa Braholo ditempatkan di museum Punung Pacitan Jawa Timur. Untuk itu pihaknya berharap di lokasi goa ini bisa dibangun museum.

“Jika dapat dibangun dan dilengkapi fasilitas di Goa Braholo, sehingga keberadaannya menjadi situs cagar budaya dapat memiliki nilai pendidikan dan membawa kesejahteraan untuk masyarakat,” jelasnya.

Baca Juga :  Inilah Empat Target Operasi Keselamatan Progo 2018

Goa Braholo diketahui ekskavasi pertama kali dilakukan pada 1995 dipimpin oleh Prof Truman Simanjuntak dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Jakarta.

Pada penelitian digali 14 kotak ekskavasi dengan temuan berbagai tembikar sisa biji-bijian, yang sebagian di antaranya terbakar. Hingga sisa fauna yang melimpah.

Gigi gajah

Penggalian bervariasi mulai 3-7 meter. Ekskavasi dihentikan karena terhalang blog gamping. Pada kedalaman paling bawah belum menunjukkan steril atau masih ditemukan fragmen. Ekskavasi 1996 sampai 2001 ditemukan berbagai benda dan kerangka manusia.

Selain itu, juga ditemukan gigi gajah Asia yang usianya diperkirakan 33.000 tahun lalu. Thomas menyebutkan, manusia tersebut tergolong manusia modern awal atau pada medio 9.000 tahun lalu, atau jika dihitung menggunakan masehi 7.000 tahun sebelum masehi.

“Kerangka manusia diperkirakan 9.000 tahun lalu, saat ini disimpan di museum di Punung  Pacitan. Disini istilah yang digunakan bukan manusia purba, tetapi merupakan manusia modern pertama,” ucapnya.

Ekskavasi di goa Braholo ini penting karena saat ini kehadiran manusia modern di Indonesia (homo sapiens) yang tua baru ditemukan di Wajak Tulungagung Jawa Timur yang berumur sekitar 40.000 tahun.

Di luar Indonesia, manusia modern awal antara lain ditemukan di Goa Niah (Serawak, Malaysia) yang berumur sekitar 45.000 tahun.

di Goa Lene Hara dan Jerimalai (Timor Leste) ditemukan berumur sekitar 42.000 sampai 45.000 tahun. Sedangkan di Australia Utara di peroleh umur sekitar 55.000 – 60.000 tahun.

Baca Juga :  DPRD DIY Dorong Pemda Lakukan Patroli Siber

Dengan demikian masih ada kesenjangan umur tentang kapan manusia modern awal hadir di kepulauan Nusantara ini.

“Di Australia lebih tua, masalahnya mereka harus melewati Indonesia tetapi di mana, karena tidak mungkin dari Afrika langsung ke Australia. Itu pentingnya Indonesia memiliki peranan penting tentang cikal bakal manusia,” tuturnya.

Museum

Wakil Bupati Gunungkidul, Immawan Wahyudi,  mengaku akan melakukan koordinasi dengan Dinas Kebudayaan dan pihak terkait untuk menindaklanjuti wacana pembuatan museum di sekitar Goa Braholo Dusun Semugih Desa Semugih Kecamatan Rongkop yang selama ini banyak menyimpan misteri.

Hal itu dinilai penting agar nantinya bisa digunakan sebagai lokasi wisata dan juga edukasi kepada masyarakat.

“Nanti akan dikoordinasikan dengan dinas dan perguruan tinggi yang konsen mengenai pemetaan tentang benda sejarah,” kata Immawan, Rabu (08/11/2017).

Nantinya Dinas Kebudayaan didorong membuat rancangan terkait keberadaan Goa Braholo, sehingga pemerintah pusat bisa memberikan bantuan terkait pembuatan museum. Sebab, daerah terkendala anggaran dan kebijakan.

“Sebenarnya dulu pernah ada penawaran pembuatan museum, tetapi terhenti. Saya akan cari tahu terkait hal itu,” ucapnya.

Immawan mengatakan, jika nantinya pemerintah pusat menyetujui, maka akan melengkapi keberadaan pariwisata edukasi yang ada.

“Nanti akan melengkapi Baron Technopark yang sudah ada untuk sains, dan yang Goa Braholo untuk bidang historisnya,” tuturnya. (yve)