Goa Ngingrong Berubah Warna Jadi Merah Putih

Memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-72, sebanyak 1.516 bendera merah putih berkibar di kawasan Geosite Goa Ngingrong, wilayah Desa Mulo, Kecamatan Wonosari, Kamis (10/08/2017).(st aryono/koranbernas.id)

382
Memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-72, sebanyak 1.516 bendera merah putih berkibar di kawasan Geosite Goa Ngingrong, wilayah Desa Mulo, Kecamatan Wonosari, Kamis (10/08/2017). (st aryono/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID–Dalam rangka peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-72, sebanyak 1.516 bendera merah putih berkibar di kawasan Geosite Goa Ngingrong, wilayah Desa Mulo, Kecamatan Wonosari, Kamis (10/08/2017).

Pemasangan Merah Putih di Lembah Ngingrong berlangsung sejak pagi, ditandai dengan pemasangan bendera berukuran 9 X 6 meter menggunakan Flying Fox.

Meski sempat gagal karena tertiup angin, bendera tersebut dipasang di salah satu titik tebing. Dengan tema 1.000 bendera di Goa Ngingrong, yang mewakili nama Gunungsewu atau Gunungseribu.

Dipilihnya salah satu geosite, dari 33 lokasi geosite yang ada di Gunungsewu Global Geopark Network (GGN) yang terletak memanjang di  Kabupaten Gunungkidul, Wonogiri, dan Pacitan dengan luas lebih kurang 1.802 km2. Adapun geosite untuk Gunungkidul 13 lokasi, Pacitan 13 lokasi, dan Wonogiri 7 lokasi.

Ratusan bendera dipasang mulai dari pintu masuk, lereng hingga lembah.

Baca Juga :  Anak-anak Tirukan Gerakan Ayam

“Total ada 1.516 bendera. Sebenarnya kita menyiapkan sekitar 1.000, tetapi sumbangan dari komunitas sangat luar biasa,” kata Hary Sukmono, Sekretaris Geopark Gunungsewu.

Menurutnya, diselenggarakannya acara ini bisa digunakan untuk menumbuhkan semangat cinta Tanah Air terutama bagi kalangan muda, dan juga gerakan awal menumbuhkan semangat membangun Gunungsewu untuk kesejahteraan masyarakat tanpa merusak alam. Ini sesuai dengan tujuan geopark yakni konservasi, pendidikan dan pemberdayaan masyarakat.

Sedang General Manajer Geopark Gunungsewu, Budi Martono mengakui kegiatan ini untuk menumbuhkan semangat nasionalisme kalangan muda.

Dipilihnya Goa Ngingrong, karena dari survei geosite, disana merupakan wilayah yang memiliki cakupan luas untuk diadakan pengibaran bendera yang berjumlah lebih dari 1.000 ini.

“Ngingrong akan kita angkat seperti pengelolaan di Nglanggeran (Gunung Api Purba) yang melibatkan seluruh warga. Nantinya tidak hanya disini tetapi semua geosite,” tuturnya.

Baca Juga :  Fenomena Langka Blood Moon, Warga Yogyakarta Sholat Gerhana

Kepala Pusat Survei Geologi Kementerian ESDM, Muhammad Wafid yang hadir dalam acara ini menyatakan bahwa pengelolaan geopark Gunungsewu dijadikan contoh pengelolaan geologi di Indonesia.

Kesuksesan ini bisa dilihat dari meningkatnya Pendapatan Asli Daerah (PAD) sehingga menumbuhkan kesejahteraan masyarakat. “Gunungsewu UNESCO global geopark menjadi salah satu contoh sukses pengembangan wisata berbasis geologi di Indonesia,”katanya.

Badan geologi saat ini tengah  membangun sistem manajemen  geoheritage yang memberikan pedoman di seluruh Indonesia dalam mengelola warisan geologi.

“Harus dijaga peran pemerintah dan masyarakat menjadi kunci,” tambahnya.

Penasehat geopark, Hanang Samodra, mengatakan awalnya Gunungsewu terutama di Gunungkidul sering disebut wilayah kering karena bentang karst, padahal banyak air di bawah tanah, mengalir sungai bawah tanah melalui sistem pergoa-an. (st.aryono/sm)