GTT-PTT Cilacap Kecewa, Mulang Serius Gaji Seharga Es Jus

1328
Aksi unjuk rasa GTT-PTT Cilacap, Rabu (04/10/2017) di Alun-alun setempat. (prasetiyo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID – Untuk kesekian kalinya, aksi unjuk rasa yang dilakukan Guru Tidak Tetap (GTT) dan  Pegawai Tidak Tetap (PTT) di Kabupaten Cilacap digelar. Bahkan kali ini,  jumlah pengunjuk rasa lebih banyak. Mengenakan seragam khas batik PGRI, sekitar 4.000 lebih GTT dan PTT yang tergabung dalam Forum Komunikasi  (FK) GTT-PTT Cilacap, Rabu (04/10/2017) menggelar aksi unjuk rasa di Alun-alun Cilacap.

Mereka mengajukan tiga tuntutan Guru Wiyata Bakti (Tri Tugu Bakti) kepada Bupati Cilacap, yakni terbitkan Surat Keputusan (SK) Bupati untuk GTT dan PTT secepatnya, berikan honor yang layak, dan berikan jaminan kesehatan bagi keluarga GTT dan PTT.

Jika tuntutan itu tidak dipenuhi, mereka mengancam akan mogok mengajar secara massal.Sementara itu, selama ini para GTT yang mengajar di TK,SD dan SMP itu menerima honor yang sangat rendah, rata-rata Rp 250 ribu- Rp 300 ribu/bulan.

“Jika Pemkab Cilacap tidak bisa memenuhi tuntutan kami,  dampaknya akan menurunkan gairah para guru dan dapat mengancam turunnya kualitas pendidikan di Cilacap. Meskipun ada guru PNS, namun peran kami tidak bisa dikesampingkan. Jika guru GTT dan PTT terus menerus seperti ini, akan menjadi potret buruk pendidikan di Cilacap. Tuntutan kami sederhana dan logis,” ujar Sulthoni, Koordinator Aksi unjuk rasa.

Di kawal ketat aparat Polres Cilacap, aksi ribuan guru wiyata bakti ini diawali dengan berkumpul di lapangan eks Batalyon Cilacap di Jl. Jend. Soedirman, Kecamatan Cilacap Selatan,jam 10.00 WIB. Ada beberapa yang membawa bendera Merah Putih dan bendera PGRI, mereka melakukan longmarch menuju alun-alun dan menggelar orasi serta mendesak Bupati Cilacap untuk  menemuinya.

Baca Juga :  Meotel Ajak Anak Yatim dan Dhuafa Berbuka Bersama

Mereka berkali-kali menyanyikan dan menyerukan yel yel, agar Bupati Cilacap menerbitkan SK bagi GTT-PTT yang sudah mengabdi bertahun-tahun. Bahkan tak sedikit yang sudah di atas 10 tahun di berbagai sekolah, baik TK, SD maupun SMP.

Beberapa spanduk juga dibentangkan pengunjuk rasa. Ada diantaranya bertuliskan: “Mulang serius,gaji seharga es jus”. “Patute Mulang serius, gaji seharga wedhus”, “Priben kiye nasibe inyong Pak Bupati?”, “GTT – PTT Pahlawan tanpa tanda jasa yang nyata-nyata ora diperhatikna”. “Nyata ora sejahtera”, dan berbagai tulisan lainnya.

Mengingat Bupati Cilacap Tatto Suwarto Pamuji tidak berada di tempat, para pengunjuk rasa ditemui Plt. Sekda Cilacap Farid Ma’ruf  di Alun-alun.

Bersama Plt. Sekda Cilacap Farid Ma’ruf yang didampingi Kapolres Cilacap AKBP Djoko Julianto, ribuan  pengunjuk rasa menuju ke DPRD Cilacap untuk melakukan audiensi. Sedangkan ribuan pengunjuk rasa lainnya, di bawah terik matahari yang menyengat, menggelar dzikir dan doa bersama di Alun-alun Cilacap.

Beberapa perwakilan guru berkesempatan melakukan audiensi dan berdiskusi dengan anggota dewan di dalam Gedung DPRD. Dari hasil audiensi itu, ada tiga poin penting. Pertama, untuk mendapatkan SK Bupati, diusahakan batas akhir hingga  tanggal 9 Oktober 2017. Dijadwalkan, Jumat, 6 Oktober 2017, Pemkab Cilacap akan studi banding ke Kabupaten Temanggung, sebab di kabupaten ini GTT dan PTT sudah mendapatkan SK Bupati.

Baca Juga :  Kerja Lembur demi Menjaga Kualitas Beton TMMD

Selanjutnya Pemkab Cilacap akan ke Jakarta guna konsultasi dan koordinasi lebih lanjut mengenai SK Bupati. Apabila sampai tgl 9 Oktober 2017 belum ada kepastian, maka akan dilaksanakan cuti bersama GTT dan PTT se Kabupaten Cilacap.

Kedua, untuk kesejahteraan GTT dan PTT, akan ditambah anggaran untuk tahun 2018, sehingga mereka  yang belum mendapatkan bantuan transportasi, akan didata dan diusulkan. Juga akan ada kenaikan nominal bantuan transportasi yang kini masih diperhitungkan.

Ketiga, data base GTT dan PTT akan dimasukkan dan dilaporkan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Cilacap.

Salah seorang guru yang berasal dari Kecamatan Maos Anit Avia Reza mengatakan, pihaknya  belum puas dengan hasil unjuk rasa kali ini.

“Harapan dan tuntutan kami belum seluruhnya disetujui. Hanya  dua dari tiga tuntutan kami yang dipenuhi. Namun kami tetap menunggu hasil dari tuntutan tersebut pada tanggal 9 Oktober 2017 mendatang,”ujarnya.

Beberapa guru lainnya menambahkan,  jika tiga tuntutan yang mereka ajukan hingga hari Senin (09/10/2017) belum dipenuhi, maka akan ada mogok massal guru GTT.  Aksi unjuk rasa  bubar pada pukul 15.00 WIB dengan damai dan tertib. (SM)