Gunakan Obat ‘Dewa’ dengan Benar

Siska Dkk. (Foto: Dokumen Prinbadi)

DI INDONESIA, penggunaan antibiotik adalah hal yang biasa. Banyak pula dokter yang meresepkan antibiotik untuk menangani sakit yang dialami pasien. Antibiotik adalah obat yang digunakan untuk mencegah dan mengobati infeksi bakteri. Terdapat berbagai macam jenis antibiotik yang beredar di Indonesia saat ini, seperti amoxicillin, ciprofloxacin, cefadroxil, cotrimoxazole, dan lain-lain. Data dari Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 menyebut, 10% rumah tangga di Indonesia menyimpan obat antibiotik di rumah. Antibiotik jenis amoxicillin menjadi yang paling populer dan paling sering diresepkan oleh dokter di kalangan masyarakat. Penelitian serupa yang dilakukan pada tahun 2012 dan 2014 menunjukkan amoxicillin berada di peringkat pertama, di atas cotrimoxazole dan cefadroxil. Amoxicillin adalah antibiotik golongan penicillin yang digunakan untuk mengatasi infeksi saluran kemih, infeksi saluran napas, infeksi luka luar, dan lainnya. Antibiotik amoxicillin bekerja dengan merusak dinding sel bakteri sehingga bakteri mati.

Karena umum dan seringnya penggunaan amoxicillin  di kalangan masyarakat, maka timbul persepsi bahwa menggunakan amoxicillin merupakan suatu “kebiasaan” dan banyak kesalahpahaman bahkan ada yang menyebutnya sebagai obat “Dewa”. Jadi, apa pun sakit yang dialami oleh masyarakat, maka mereka menganggap bahwa obat yang paling manjur adalah amoxicillin. Dengan anggapan ini, maka dapat menimbulkan kesalahan penggunaan antibiotik amoxicillin yang berujung pada resistensi antibiotik.

Baca Juga :  Sistem Baru Penerimaan Siswa SMA dan SMK

Apa itu resistensi? Resistensi atau kebal adalah kemampuan bakteri untuk menetralisir dan melemahkan daya kerja antibiotik (MenKes RI, 2011). Sehingga, antibiotik yang awalnya efektif untuk pengobatan infeksi menjadi tidak efektif lagi. Data WHO menunjukkan angka kematian akibat bakteri resisten sampai tahun 2014 sekitar 700 ribu pertahun. Dengan cepatnya perkembangan dan penyebaran infeksi akibat bakteri resisten, pada tahun 2050 diperkirakan kematian akibat bakteri resisten lebih besar dibanding kematian akibat kanker.

Resistensi antibiotik tersebut dapat terjadi diakibatkan oleh adanya penyalahgunaan dan penggunaan salah antibiotik. Intensitas penggunaan antibiotik yang relatif tinggi di masyarakat seringkali merupakan penyalahgunaan antibiotik, banyak masyarakat menggunakan antibiotik tidak hanya untuk mengobati infeksi bakteri namun juga digunakan untuk mengobati berbagai macam penyakit lain yang bukan merupakan infeksi bakteri. Antibiotik sendiri sebenarnya hanya mengobati infeksi bakteri. Jika mengonsumsi antibiotik sembarangan, bukannya dapat menyembuhkan namun justru membebani kerja hati dan ginjal. Hal lain yang dapat menyebabkan resistensi antibiotik yaitu penggunaan salah antibiotik. Penggunaan salah yang sering dilakukan oleh masyarakat yaitu pengonsumsian antibiotik yang tidak sesuai aturan. Masyarakat menganggap jika sakit sudah hilang, penggunaan antibiotik dapat dihentikan. Pada kenyataanya antibiotik harus diminum sesuai petunjuk dokter hingga habis meskipun keluhan yang dirasakan telah hilang.

Baca Juga :  Literasi dan Sikap Kritis

Jika sudah mengalami resistensi antibiotik, maka kekebalan tubuh akan berkurang, bakteri akan mudah menyerang tubuh, dan apabila bakteri yang menyerang adalah bakteri yang sama dengan sebelumnya, maka tidak akan mempan dengan antibiotik yang sama sehingga harus menggunakan antibiotik yang lebih ampuh. Pada kenyataanya, jika meminum antibiotik yang lebih ampuh  dari sebelumnya, otomatis efek samping obat akan lebih berat lagi.

Untuk menghindari risiko resistensi antibiotik, maka sebaiknya masyarakat menggunakan antibiotik dengan bijak dan benar. Penggunaan antibiotik yang benar seharusnya diminum sesuai dosis yang diresepkan dokter, sampai habis dan tepat waktu. Jangan membeli antibiotik tanpa resep dokter ataupun dengan resep yang lama. ***