Guru Besar UGM Prihatin Generasi Muda Lebih Fanatik HP

Diskusi Kebangsaan XIX Paguyuban Wartawan Sepuh Yogyakarta

72
Diskusi Kebangsaan XIX Paguyuban Wartawan Sepuh Yogyakarta, Sabtu (29/09-2018), di Joglo Cangkir Yogyakarta. (arie giyarto/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Guru besar ilmu Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Dr Kaelan menyatakan prihatin nasionalisme bangsa Indonesia semakin luntur. Pasca-reformasi Pancasila seperti dibuang dan generasi muda semakin apatis terhadap nasionalisme.

“Mereka lebih fanatik terhadap ini (teknologi-red),” katanya sambil mengangkat HP-nya.

Hal itu dikemukakannya saat dia tampil sebagai narasumber Diskusi Kebangsaan XIX yang digelar Paguyuban Wartawan Sepuh (PWS) Yogyakarta, Sabtu (29/09-2018), di Joglo Cangkir Jalan Bintaran Tengah Yogyakarta.

Keprihatinan kedua menyangkut pudarnya etika terutama etika berpolitik. Dia menyitir salah satu bagian isi dari buku Jangka Jajabaya yang sudah sangat lama ditulis, ternyata terbukti adanya.

Antara lain kalimat  hamenangi jaman edan yen ora edan ora keduman. Menurut Prof Kaelan, ini terbukti dari kasus korupsi berjamaah oleh 41 orang dari 45 anggota DPRD Malang. Juga di Riau dan Sumut.

Dia kutip pula kalimat ewuh aya ing pambudi. Sak beja-bejane wong edan yen ora konangan. Mereka yang korup, kekayaannya tiga turunan belum habis, sudah korupsi lagi.

Selain dua hal tersebut, kedaulatan rakyat juga sudah hilang. DPR, DPRD dan DPD memang ada tetapi keberadaannya hanya seperti pupuk bawang lantaran tidak punya original power.

Semua kewenangannya harus disalurkan melalui DPR. “Bahkan anehnya, Ketua DPD Osman Sapta Odang kok masuk parpol. Ini yang di atas mengetahui tata negara tidak,” katanya setengah bertanya.

Baca Juga :  Sejumlah Tokoh Berpengaruh Hadir di Jogja
Mantan Bupati Sleman Drs H Ibnu Subiyanto “turun gunung” menjadi seorang pembanding. (arie giyarto/koranbernas.id)

Ditentukan duit

Dalam Diskusi Kebangsaan tersebut, muncul banyak kritik mengenai pemimpin yang kurang berkualitas. Ini terjadi karena adanya politik transaksional lantaran pemimpin yang terpilih ditentukan suara terbanyak. Bukan hasil musyawarah dan mufakat sebagaimana seharusnya.

Sementara itu anggota DPR RI Drs H Idham Samawi menegaskan musuh sekarang ini adalah uang sehingga semakin jauh munculnya pemimpin berkualitas.

Bahkan secara ekstrem dia menyebut, asal ada uang dua koper, meski bathuknya kosong bisa saja menang sebagai pemimpin.

Dia kemudian bercerita perilaku buruk orang yang menghalalkan segala cara untuk meraih kekuasaan. Empat hari lalu ada orang dari sebuah kecamatan di DIY datang ke Idham.

Dia membawa 200 daftar nama plus fotokopi  KTP yang siap mendukung Idham dalam pencalonan menjadi anggota DPR RI asal ada mahar masing-masing Rp 200.000. Hal itu serta merta ditolak karena sangat tidak benar menghalalkan segala cara.

Saat ini, semua pihak sudah terkontaminasi dengan uang. Jika cara meraih tujuan seperti itu, menurut Idham, sudah pasti setelah jadi akan berusaha mendapatkan uangnya kembali plus bunganya dengan jalan nyolong.

Karenanya pendidikan politik bagi masyarakat luas masih harus dilakukan guna mencapai hasil yang bersih.

Baca Juga :  Pesta Kriya Ajang Belajar Perajin Lokal

Diskusi Kebangsaan juga menampilkan Prof Dr Djoko Suryo, Guru Besar Ilmu Sejarah UGM yang merefleksikan kepemimpinan yang ada sejak 500 tahun SM.

Bung Karno sebagai salah satu pendiri bangsa bersama tokoh lain meletakkan dasar yang sangat luar biasa dalam kepemimpinan bangsa.

Doktor dari UNY tampil sebagai pembanding. (arie giyarto/koranbernas.id)

Sayangnya dasar pendidikan karakter itu dalam perjalanannya terkontaminasi berbagai konflik kepentingan. Sehingga, tatanan dan etika politik carut marut seperti sekarang.

Dalam diskusi tersebut muncul tiga pembanding. Yakni Drs Ibnu Subiyanto, mantan Bupati Sleman yang  akhirnya turun gunung dengan semangat ikut berusaha membenahi kondisi bangsa.

Kemudian, Dr Sumbo Tinarbuko serta seorang doktor dari UNY serta berbagai penanggap dari sejumlah unsur.

Intinya mereka sepakat mencari formula untuk mencari pemimpin yang bersih, Pancasilais, punya integritas dan komitmen tinggi untuk membenahi kehidupan bangsa.

Artinya, bukan  menjadi pemimpin yang korup. Dan itu menjadi tanggung jawab semua elemen bangsa meskipun itu bukan hal yang mudah.

Pada kesempatan itu  PWSY menyerahkan bantuan buku kepada Forum Taman Bacaan Masyarakat sebagai sebuah bentuk advokasi guna membantu usaha mencerdaskan kehidupan bangsa. (sol)