Guru-guru Bersaing di Lomba Macapat

257
Bupati Sleman Sri Purnomo membuka lomba macapat didampingi Kepala Dinas Kebudayaan Sleman Aji Wulantoro. (bid jalasutra/koranbernas.id)

KORANBERNAS-ID – Sejumlah 70 guru terdiri dari 32 laki-laki dan 38 perempuan bersaing untuk meraih juara lomba Macapat yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman, Selasa (12/09/2017), di Pendapa Rumah Dinas Bupati Sleman.

Saat tampil mereka harus membawakan tembang wajib Sekar Dhandhangula Majasih Laras Slendo Manyura serta tembang pilihan Sekar Sinom Ginonjing Laras Pelog Nem, Sekar Pangkur Paripurna Laras Pelog Barang dan Sekar Durma Kawin Laras Pelog Barang.

Adapun dewan juri Dra Sutrisni M Hum (ISI Yogyakarta), Sri Wahyuni Ssi (SMKI Yogyakarta) dan Prajoswasana (SMSS). Para juara akan mendapatkan trofi dan uang pembinaan total Rp 16,5 juta.

Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSI menyampaikan, lomba macapat diharapkan memotivasi guru untuk  mengenalkan  macapat kepada anak didik dan masyarakat.

“Kegiatan ekstra kulikuler macapat di  sekolah  hendaknya dapat diminati siswa-siswi. Saat pentas tutup tahun di sekolah tampilkan siswa-siswi yang  hobi Macapat.  Dengan dipentaskan di sekolah anak didik akan lebih mengenal  karya sastra leluhur dan melestarikan budaya Jawa,” ungkapnya.

Tembang macapat merupakan ”Serat” yang berisi sejarah (babad), ramalan (jangka), pepali, wewarah serta petunjuk pedoman hidup.

Bagi Pemkab Sleman, lomba ini bermanfaat mendukung program pemerintah menjadikan kecamatan  sebagai pusat pelestarian budaya masyarakat. Lomba ini perlu dipertahankan dan diselenggarakan rutin.

Lomba Macapat bagi guru kali ini selain sebagai ajang silaturahmi, juga memupuk semangat mereka mempelajari budaya Jawa. ”Kegiatan ini berpotensi dikembangkan menjadi event wisata budaya,” kata Sri Purnomo.

Dia mengakui, upaya membentengi generasi muda dari pengaruh-pengaruh negatif budaya asing, tidak ringan. Nilai-nilai Budaya Jawa yang Adiluhung  sangat relevan dijadikan pedoman kehidupan bermasyarakat saat ini.

“Budaya Jawa perlu digali dan ditelaah serta dikemas dalam wujud lebih kekinian,  sehingga dapat diterima dan dicerna oleh  masyarakat, lebih-lebih oleh anak didik. Budaya Jawa dapat dijadikan obat mujarab mengobati dan mencegah kenakalan remaja,” kata dia.

Kepala Dinas Kebudayaan Sleman Aji Wulantoro SH MH menambahkan, dengan mengikuti lomba para guru PAUD sampai SMA tumbuh rasa cintanya terhadap seni sastra khususnya Macapat. (bid jalasutra)